Blogger Widgets

Label

Senin, 15 Juli 2013

It's Okay, Dear (prologue)


Seorang perempuan tengah tergesa melewati lorong gedung kampus. Ia hampir telat mengikuti kelas pertama di awal semester  tiga. Sesekali ia melihat jam tangan sambil terus berjalan cepat. Namun ketika ia mengangkat kepalanya, hal tak terduga terjadi. Ia terpaku, dunianya seakan berhenti berputar.


Namanya adalah Debora  Ankie, namun ia lebih suka dipanggil Debby dengan alasan lebih singkat. Ia seorang perempuan berumur sembilan belas tahun yang kemungkinan baru saja mengalami  cinta pada pandangan pertama. Matanya masih tertuju kepada laki-laki dengan postur tubuh atletis yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia  memperkirakan tinggi laki-laki itu seratus delapan puluh sentimeter  lebih dengan berat badan tak lebih dari enam puluh lima kilogram. Laki-laki yang nampak sempurna dengan leher jenjang, pandangan mata tajam, hidung mancung , bibir tipis dan garis rahang yang tegas. Jangan lupakan tentang tubuhnya, Debby yakin bahwa ada otot khas pria yang terbungkus dalam kemeja abu-abu yang dikenakan oleh laki-laki itu. Sepertinya Tuhan memang tak menciptakan cacat pada tubuh laki-laki itu, membuat setiap perempuan yang melihatnya hampir meneteskan air liur.

Tubuh Debby menegang untuk sejenak saat berpapasan dengan laki-laki yang belum ia ketahui namanya. Indra penciumannya menangkap aroma parfum maskulin khas pria, membuat jantungnya berdebar. Oh tidak, laki-laki itu tersenyum, tapi kepada siapa?

Debby membalikkan badannya saat laki-laki itu melewatinya. Berarti senyum itu bukan buatnya. Detik selanjutnya, mata bulat Debby membelalak. Laki-laki itu tersenyum pada perempuan yang menggamit lengannya dengan manja. Ah, haruskah ia mengalami patah hati secepat itu?

“Debby, kenapa kau masih di sini? Kelas akan segera dimulai!” Seruan Cika membuat Debby sadar dari lamunannya. Ia segera menyusul Cika yang sudah berlari mendahuluinya.

***
Saat sampai kelas, Debby bingung mencari tempat duduk. Semua kursi hampir penuh dan hanya tersisa beberapa di belakang. Akhirnya mau tak mau ia harus duduk di sana, di samping Cika yang juga hampir terlambat.

“Kau tadi kenapa? Kau terlihat seperti orang linglung berdiri di sana,” tanya Cika sambil tersenyum mengejek.

“Ah,, aku? Aku hanya merasa duniaku seperti berhenti berputar sejenak.” Debby mengingat kembali ke saat dimana ia merasa jatuh cinta dan patah hati dalam hitungan menit.

“Kupikir kau sedang jatuh ke dalam pesona Richard.”

“Richard?”

“ Dia adalah laki-laki yang tadi ada di belakangmu. Kudengar ia mahasiswa semester tujuh dan akan menyelesaikan kuliahnya dalam tujuh semester. Ah betapa pintarnya.” Cika terlihat begitu mengagumi sosok Richard, matanya berbinar dan ia terlihat sangat antusias saat menceritakan sosok laki-laki itu.

“Kau terlalu berlebihan! Di kampus ini bukan hanya dia yang bisa menyelesaikan kuliah dalam tujuh semester.”

“Kau belum tahu dia sesungguhnya. Dan kupastikan saat kau tahu, kau akan sepertiku yang mengagumi otaknya.”

“Memang apa kelebihannya?” tanya Debby yang kini menjadi sangat penasaran.

“Kau akan tahu nanti!” Debby cemberut mendengar jawaban Cika. Astaga, ia benar-benar ingin tahu. ia tak sempat melayangkan rajukan kepada Cika karena kelas sudah dimulai. Tapi tunggu? Kenapa Richard masuk ke kelasnya? Bukankah Cika mengatakan ia adalah mahasiswa semester tujuh, apa mungkin ia mengulang mata kuliah? Ah rasanya tak mungkin!

“Selamat pagi.” Suara Richard membuat Debby tersenyum tanpa disadarinya, suara yang sangat merdu di indra pendengarannya.

Seperti tak terganggu dengan tatapan memuja para mahasiswi, Richard tetap berbicara dengan tenang. “Saya Richard, asisten dari Mr. Darwin. Hari ini beliau berhalangan hadir sehingga untuk kontrak perkuliahan akan dibicarakan minggu depan. Mungkin beberapa dari kalian tahu betapa ketatnya beliau, jadi saya akan mengabsen kalian satu persatu.” Richard sudah mulai memanggil satu persatu nama mahasiswa di kelasnya. Tak jarang ia harus memanggil dua kali nama mahasiswa perempuan karena tak fokus.

“Jadi kelebihannya yang kau bicarakan adalah dia seorang asisten dosen?” tanya Debby kepada Cika.

Cika menggeleng mantap. “Bukan!”

“Lalu apa?” Debby gemas sekali dengan Cika yang sengaja membuatnya penasaran.

“Ah baiklah baiklah, aku tak tahan melihat ekspresimu. Kau tahu, dia baru berumur delapan belas tahun.”

“HAH?!” Debby refleks berteriak mendengar penuturan Cika. Delapan belas tahun? Itu artinya lebih muda satu tahun darinya.

“Apa-apaan ini? Jika anda tidak bisa tenang, sebaiknya keluar dari kelas saya sekarang juga!” Richard menegur tegas Debby membuat perempuan itu kaget.

“Maaf, saya tidak sengaja,” ucap Debby pelan. Ia benar-benar malu karena kini menjadi pusat perhatian sekelilingnya.

Richard menatap Debby sambil lalu kemudian meneruskan menagbsen. “Debora Ankie.”

Debby yang merasa namanya dipanggil, mengangkat tangan dengan ragu-ragu. Richard memerhatikannya dengan ekspresi datar  kemudian memanggil nama yang lain.

***
“Hah dia sangat galak,” gerutu Debby sambil meminum jusnya. Ia sekarang berada di kantin dengan Cika.

“Tapi dia juga sangat tampan. Ah, aku pasti sangat bahagia dan bangga kalau bisa bersanding dengannya,” timpal Cika. “Apa kau menyukainya?”

“Siapa? Richard? Terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu saat ini, yang jelas aku masih shock saat dia menegurku dengan bentakan.” Debby kembali memutar memorinya dimana saat ia berpapasan dengan Richard dan kemudian melayang pada kejadian di dalam kelas. Ah..

“Dia sudah punya kekasih, kau tahu itu?” tanya Cika.

“Kekasih? Maksudmu perempuan yang dipeluknya tadi pagi?”

Cika mengangguk lalu berkata, “Namanya Jannet, parasnya  hampir sama sempurnya dengan Richard, good looking. Jangan lupakan juga soal harta. Mereka bisa hidup beberapa tahun tanpa bekerja.” Cika  menggebu-gebu saat bercerita namun juga terlihat kecewa saat mengingat Richard yang sudah mempunyai kekasih. “Hah, aku tak menyangka  kau ketinggalan berita ini.”

Debby terdiam sejenak, ia memang tak pernah tertarik pada hal semacam itu sebelumnya. Richard dan Jannet, mendengar dari cerita Cika ia bisa menarik kesimpulan kalau mereka sangat serasi. Orang seperti Richard pasti tak akan memilih sembarangan orang untuk jadi kekasihnya, pikirnya. “Apa dia, maksudku Jannet,  juga jenius?”

“Dia pintar tapi tak sepintar Richard. Dia juga akan menyelesaikan kuliahnya dalam tujuh semester. Kau tahu, Jannet tiga tahun lebih tua dari Richard.”

“Aku tak heran. Sebenarnya bukan Jannet yang terlalu tua tapi Richard yang terlalu muda. Aku jadi geli memikirkan akan kupanggil apa orang itu. Kak?  Pak? Adik? Atau apa?” Debby dan Cika sama-sama tergelak. Sedikit banyak yang diucapkan Debby memang ada benarnya. “Hei, jam berapa sekarang?” tanya Debby.

Cika melihat jam tangannya sebentar lalu berkata, “Baru pukul sepuluh. Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah tak ada kelas lagi.”

“Kemarin ibuku meminta tolong untuk membantunya di toko kue,” jelas

***
Debby melangkahkan kaki menuju dapur di toko kue ibunya. Di sana ia melihat beberapa pegawai sedang sibuk membuat beraneka kue. Ia mengedarkan matanya lalu tersenyum saat melihat wanita yang seumuran ibunya sedang melakukan finishing pada kue di depannya, tanpa pikir panjang ia berjalan mendekat.

“Bibi Han, kau melihat ibuku?” tanya Debby pada Bibi Han. Ia memang akrab dengan wanita yang sudah bekerja pada ibunya sejak toko kue mereka didirikan.

“Ibumu tadi sedang keluar. Dia berpesan agar kau membantunya mencatat pesanan,” jelas Bibi Han tanpa mengalihakan pandangannya pada kue.

“Apakah tak ada hal lain yang bisa ku kerjakan? Aku sering pusing saat mendengar pesanan pelanggan yang macam-macam.”

“Kau mau bantu apa? Kau bisa membuat toko kue ibumu kebakaran kalau membantu di dapur,” canda Bibi Han. Ia tersenyum ramah pada Debby, senyum yang menyiratkan kasih sayang. Ia sudah menganggap Debby seperti anaknya sendiri karena ia tak mempunyai anak. “Kenapa kau tak membeli bunga Lily saja? Bukankah nanti sore kau berencana untuk ke makam ayahmu bersama ibumu.”

Debby menganggukkan kepalanya perlahan. Ia memang rutin ke makam ayahnya yang meninggal sejak ia berusia enam tahun karena penyakit jantung. Biasanya setiap awal bulan ibu selalu mengajaknya ke makam ayah dengan membawa seikat bunga Lily.

***
“Oh Debby, kau sudah datang rupanya.” Ibu menaruh kantung plastik yang dibawanya kemudian berjalan mendekati Debby. “Kukira kau akan datang agak siang.”

“Hari ini aku hanya ada satu mata kuliah, Bu,” jelas Debby.

“Syukurlah kalau begitu. Hari ini ibu sibuk sekali, ah pesanan tak berhenti datang tapi ibu senang. Bagaimana kuliahmu hari ini? Apakah kau terlambat lagi? Oh dear, harus berapa kali ibu bilang, kau harus lebih disiplin.”

Debby tersenyum mendengar ucapan ibunya yang mengalir begitu lancar. Sejak ayahnya meninggal mereka tinggal berdua dan hal itu secara tak langsung membuat mereka begitu dekat, menceritakan segala sesuatu yang dijalani setiap hari, semacam memberi laporan. “Semuanya lancar, Bu.”


Tidak ada komentar :

Posting Komentar