Seorang perempuan tengah tergesa melewati lorong
gedung kampus. Ia hampir telat mengikuti kelas pertama di awal semester tiga. Sesekali ia melihat jam tangan sambil
terus berjalan cepat. Namun ketika ia mengangkat kepalanya, hal tak terduga
terjadi. Ia terpaku, dunianya seakan berhenti berputar.
Namanya adalah Debora Ankie, namun ia lebih suka dipanggil Debby
dengan alasan lebih singkat. Ia seorang perempuan berumur sembilan belas tahun
yang kemungkinan baru saja mengalami cinta pada pandangan pertama. Matanya masih
tertuju kepada laki-laki dengan postur tubuh atletis yang sedang berjalan
berlawanan arah dengannya. Ia memperkirakan tinggi laki-laki itu seratus
delapan puluh sentimeter lebih dengan
berat badan tak lebih dari enam puluh lima kilogram. Laki-laki yang nampak
sempurna dengan leher jenjang, pandangan mata tajam, hidung mancung , bibir
tipis dan garis rahang yang tegas. Jangan lupakan tentang tubuhnya, Debby yakin
bahwa ada otot khas pria yang terbungkus dalam kemeja abu-abu yang dikenakan
oleh laki-laki itu. Sepertinya Tuhan memang tak menciptakan cacat pada tubuh
laki-laki itu, membuat setiap perempuan yang melihatnya hampir meneteskan air
liur.
Tubuh Debby menegang untuk sejenak saat berpapasan
dengan laki-laki yang belum ia ketahui namanya. Indra penciumannya menangkap
aroma parfum maskulin khas pria, membuat jantungnya berdebar. Oh tidak,
laki-laki itu tersenyum, tapi kepada siapa?
Debby membalikkan badannya saat laki-laki itu
melewatinya. Berarti senyum itu bukan buatnya. Detik selanjutnya, mata bulat
Debby membelalak. Laki-laki itu tersenyum pada perempuan yang menggamit
lengannya dengan manja. Ah, haruskah ia mengalami patah hati secepat itu?
“Debby, kenapa kau masih di sini? Kelas akan segera
dimulai!” Seruan Cika membuat Debby sadar dari lamunannya. Ia segera menyusul
Cika yang sudah berlari mendahuluinya.
***
Saat sampai kelas, Debby bingung mencari tempat
duduk. Semua kursi hampir penuh dan hanya tersisa beberapa di belakang.
Akhirnya mau tak mau ia harus duduk di sana, di samping Cika yang juga hampir
terlambat.
“Kau tadi kenapa? Kau terlihat seperti orang
linglung berdiri di sana,” tanya Cika sambil tersenyum mengejek.
“Ah,, aku? Aku hanya merasa duniaku seperti berhenti
berputar sejenak.” Debby mengingat kembali ke saat dimana ia merasa jatuh cinta
dan patah hati dalam hitungan menit.
“Kupikir kau sedang jatuh ke dalam pesona Richard.”
“Richard?”
“ Dia adalah laki-laki yang tadi ada di belakangmu.
Kudengar ia mahasiswa semester tujuh dan akan menyelesaikan kuliahnya dalam
tujuh semester. Ah betapa pintarnya.” Cika terlihat begitu mengagumi sosok
Richard, matanya berbinar dan ia terlihat sangat antusias saat menceritakan
sosok laki-laki itu.
“Kau terlalu berlebihan! Di kampus ini bukan hanya
dia yang bisa menyelesaikan kuliah dalam tujuh semester.”
“Kau belum tahu dia sesungguhnya. Dan kupastikan
saat kau tahu, kau akan sepertiku yang mengagumi otaknya.”
“Memang apa kelebihannya?” tanya Debby yang kini
menjadi sangat penasaran.
“Kau akan tahu nanti!” Debby cemberut mendengar
jawaban Cika. Astaga, ia benar-benar ingin tahu. ia tak sempat melayangkan
rajukan kepada Cika karena kelas sudah dimulai. Tapi tunggu? Kenapa Richard
masuk ke kelasnya? Bukankah Cika mengatakan ia adalah mahasiswa semester tujuh,
apa mungkin ia mengulang mata kuliah? Ah rasanya tak mungkin!
“Selamat pagi.” Suara Richard membuat Debby
tersenyum tanpa disadarinya, suara yang sangat merdu di indra pendengarannya.
Seperti tak terganggu dengan tatapan memuja para
mahasiswi, Richard tetap berbicara dengan tenang. “Saya Richard, asisten dari Mr.
Darwin. Hari ini beliau berhalangan hadir sehingga untuk kontrak perkuliahan
akan dibicarakan minggu depan. Mungkin beberapa dari kalian tahu betapa
ketatnya beliau, jadi saya akan mengabsen kalian satu persatu.” Richard sudah
mulai memanggil satu persatu nama mahasiswa di kelasnya. Tak jarang ia harus
memanggil dua kali nama mahasiswa perempuan karena tak fokus.
“Jadi kelebihannya yang kau bicarakan adalah dia
seorang asisten dosen?” tanya Debby kepada Cika.
Cika menggeleng mantap. “Bukan!”
“Lalu apa?” Debby gemas sekali dengan Cika yang
sengaja membuatnya penasaran.
“Ah baiklah baiklah, aku tak tahan melihat
ekspresimu. Kau tahu, dia baru berumur delapan belas tahun.”
“HAH?!” Debby refleks berteriak mendengar penuturan
Cika. Delapan belas tahun? Itu artinya lebih muda satu tahun darinya.
“Apa-apaan ini? Jika anda tidak bisa tenang,
sebaiknya keluar dari kelas saya sekarang juga!” Richard menegur tegas Debby
membuat perempuan itu kaget.
“Maaf, saya tidak sengaja,” ucap Debby pelan. Ia
benar-benar malu karena kini menjadi pusat perhatian sekelilingnya.
Richard menatap Debby sambil lalu kemudian
meneruskan menagbsen. “Debora Ankie.”
Debby yang merasa namanya dipanggil, mengangkat
tangan dengan ragu-ragu. Richard memerhatikannya dengan ekspresi datar kemudian memanggil nama yang lain.
***
“Hah dia sangat galak,” gerutu Debby sambil meminum
jusnya. Ia sekarang berada di kantin dengan Cika.
“Tapi dia juga sangat tampan. Ah, aku pasti sangat
bahagia dan bangga kalau bisa bersanding dengannya,” timpal Cika. “Apa kau
menyukainya?”
“Siapa? Richard? Terlalu dini untuk menyimpulkan hal
itu saat ini, yang jelas aku masih shock saat dia menegurku dengan
bentakan.” Debby kembali memutar memorinya dimana saat ia berpapasan dengan
Richard dan kemudian melayang pada kejadian di dalam kelas. Ah..
“Dia sudah punya kekasih, kau tahu itu?” tanya Cika.
“Kekasih? Maksudmu perempuan yang dipeluknya tadi
pagi?”
Cika mengangguk lalu berkata, “Namanya Jannet, parasnya
hampir sama sempurnya dengan Richard, good
looking. Jangan lupakan juga soal harta. Mereka bisa hidup beberapa tahun
tanpa bekerja.” Cika menggebu-gebu saat
bercerita namun juga terlihat kecewa saat mengingat Richard yang sudah
mempunyai kekasih. “Hah, aku tak menyangka
kau ketinggalan berita ini.”
Debby terdiam sejenak, ia memang tak pernah tertarik
pada hal semacam itu sebelumnya. Richard dan Jannet, mendengar dari cerita Cika
ia bisa menarik kesimpulan kalau mereka sangat serasi. Orang seperti Richard
pasti tak akan memilih sembarangan orang untuk jadi kekasihnya, pikirnya. “Apa
dia, maksudku Jannet, juga jenius?”
“Dia pintar tapi tak sepintar Richard. Dia juga akan
menyelesaikan kuliahnya dalam tujuh semester. Kau tahu, Jannet tiga tahun lebih
tua dari Richard.”
“Aku tak heran. Sebenarnya bukan Jannet yang terlalu
tua tapi Richard yang terlalu muda. Aku jadi geli memikirkan akan kupanggil apa
orang itu. Kak? Pak? Adik? Atau apa?”
Debby dan Cika sama-sama tergelak. Sedikit banyak yang diucapkan Debby memang
ada benarnya. “Hei, jam berapa sekarang?” tanya Debby.
Cika melihat jam tangannya sebentar lalu berkata,
“Baru pukul sepuluh. Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah tak ada kelas lagi.”
“Kemarin ibuku meminta tolong untuk membantunya di
toko kue,” jelas
***
Debby melangkahkan kaki menuju dapur di toko kue
ibunya. Di sana ia melihat beberapa pegawai sedang sibuk membuat beraneka kue.
Ia mengedarkan matanya lalu tersenyum saat melihat wanita yang seumuran ibunya
sedang melakukan finishing pada kue di depannya, tanpa pikir panjang ia
berjalan mendekat.
“Bibi Han, kau melihat ibuku?” tanya Debby pada Bibi
Han. Ia memang akrab dengan wanita yang sudah bekerja pada ibunya sejak toko
kue mereka didirikan.
“Ibumu tadi sedang keluar. Dia berpesan agar kau
membantunya mencatat pesanan,” jelas Bibi Han tanpa mengalihakan pandangannya
pada kue.
“Apakah tak ada hal lain yang bisa ku kerjakan? Aku
sering pusing saat mendengar pesanan pelanggan yang macam-macam.”
“Kau mau bantu apa? Kau bisa membuat toko kue ibumu
kebakaran kalau membantu di dapur,” canda Bibi Han. Ia tersenyum ramah pada
Debby, senyum yang menyiratkan kasih sayang. Ia sudah menganggap Debby seperti
anaknya sendiri karena ia tak mempunyai anak. “Kenapa kau tak membeli bunga
Lily saja? Bukankah nanti sore kau berencana untuk ke makam ayahmu bersama
ibumu.”
Debby menganggukkan kepalanya perlahan. Ia memang
rutin ke makam ayahnya yang meninggal sejak ia berusia enam tahun karena
penyakit jantung. Biasanya setiap awal bulan ibu selalu mengajaknya ke makam
ayah dengan membawa seikat bunga Lily.
***
“Oh Debby, kau sudah datang rupanya.” Ibu menaruh
kantung plastik yang dibawanya kemudian berjalan mendekati Debby. “Kukira kau
akan datang agak siang.”
“Hari ini aku hanya ada satu mata kuliah, Bu,” jelas
Debby.
“Syukurlah kalau begitu. Hari ini ibu sibuk sekali,
ah pesanan tak berhenti datang tapi ibu senang. Bagaimana kuliahmu hari ini?
Apakah kau terlambat lagi? Oh dear, harus berapa kali ibu bilang, kau
harus lebih disiplin.”
Debby tersenyum mendengar ucapan ibunya yang
mengalir begitu lancar. Sejak ayahnya meninggal mereka tinggal berdua dan hal
itu secara tak langsung membuat mereka begitu dekat, menceritakan segala
sesuatu yang dijalani setiap hari, semacam memberi laporan. “Semuanya lancar,
Bu.”

Tidak ada komentar :
Posting Komentar