Hari ini waktu terasa
berjalan sangat lambat. Setiap pergerakanku tak pernah lepas dari pandangan
orang-orang. Astaga, apakah menjadi kekasih seorang Richard Alfredo akan
sesusah ini? Sepertinya, Janet dulu tak merasakan hal seperti ini. Ia dan
Richard malah mendapat julukan ‘best couple’. Oh, sadarlah Debby! Janet
itu sempurna, maka tak heran jika mereka –Janet dan Richard- bersanding,
sedangkan kau? Kau bahkan tak populer.
“Apa kau sering melamun
sendiri di kampus?”
Aku nyaris melonjak
mendengar sapaan tiba-tiba dari... “Steve!”
“Ya, ini aku. Kenapa
kau kaget begitu?”
Aku berdecak.
“Bagaimana aku tak kaget kalau kau tiba-tiba muncul? Apa yang kau lakukan di
sini?”
“Hanya berjalan-jalan.
Aku bosan!” Steve mengambil posisi duduk di sampingku. Ia mulai mengedarkan
pandangannya, menelisik setiap sudut taman dimana kami berada sekarang. Ck!
Gayanya membuatku geli. Tak ada yang menarik di taman ini tapi ia bertindak
seolah-olah baru saja menemukan tempat paling indah di dunia.
“Kau pikir kampusku
sefantastis taman hiburan? Di sini bukan tempat jalan-jalan dan juga membosankan!”
Kudengar Steve tertawa
renyah mendengar ucapan asalku, dan aku senang. Dari dulu, suara tertawa Steve
adalah yang paling kusuka, membuatku ingin ikut tertawa dengannya juga.
“Kau tak ada kelas?”
tanyanya.
Kulirik arloji pink
yang terpasang di tangan kiriku. “Ada. Sekitar satu jam lagi.”
“Baguslah! Kau bisa
menemaniku sebentar? Kulihat di sekitar kampusmu ada kedai es krim.”
Aku hampir saja
langsung mengiyakan permintaan Steve kalau aku tak ingat posisiku sekarang.
Beberapa orang tahu kalau aku adalah kekasih Richard dan akan aneh jadinya jika
mereka melihatku berjalan dengan Steve. “Kau pergi duluan saja, aku akan
menyusulmu! Masih ada beberapa hal yang harus kulakukan.”
Kulihat sedikit raut
kecewa di wajah Steve. Oh, aku sungguh tak enak dengannya. Dia adalah temanku,
sahabatku yang baru kutemui lagi beberapa hari yang, lalu tapi aku tak bisa
memberikannya waktu terbaik.
“Baiklah, kuharap kau
menyelesaikan urusanmu dengan cepat.” Steve tersenyum tipis padaku.
“Pasti!” Jawabku dengan
penuh keyakinan.
***
Dua es krim cokelat
ukuran sedang sudah terhidang di depanku dan Steve. Tampilannya yang begitu
menggoda mengundang siapa saja untuk mencicipinya. Es krim coklat dengan toping
buah untukku, dan es krim coklat dengan toping remahan biskuit untuk Steve.
“Hmmm...”Aku memejamkan
mataku, menikmati es krim yang dingin sekaligus menggetarkan lidah. Ini
benar-benar lezat! Rasanya satu porsi tak cukup untukku.
“Apa kau harus
bertingkah berlebihan seperti itu?” Steve terkekeh geli melihatku.
“Lidahmu mati rasa atau
apa? Ini benar-benar enak!” Aku memasukkan lagi satu sendok es krim ke dalam
mulutku dan reaksi yang sama kembali kutunjukkan.
“Kalau kau terus
bertingkah seperti itu, waktu satu jam-mu akan habis sedangkan es krimmu masih
banyak.”
Aku memelototkan mataku
seketika. Steve benar! Kembali kulirik arlojiku, Oh my God, 30 menit
lagi! Aku langsung memakan es krimku dengan lebih cepat, bahkan gigiku sedikit
ngilu karena suapan es krim yang kulahap besar-besar.
“Kau terlihat seperti
orang kelaparan sekarang.”
“Diamlah!” Perintahku
sambil terus memakan es krim.
Kemudian tak ada lagi
di antara kami yang berbicara. Kami sibuk menikmati es krim dan tentu dengan
gaya yang berbeda. Steve dengan gayanya yang santai dan elegan, aku dengan gaya
yang...kelaparan.
***
Aku tiba di kampus lima
belas menit sebelum kelas dimulai. Ini bagus, walaupun aku harus meninggalkan
Steve sendiri di kedai es krim. Mau bagaimana lagi? aku bisa terlambat kalau
menungguinya sampai selesai. Sesekali kupegang kedua pipinya. Ah, sepertinya
dingin es krim menjalar sampai kulitku.
Langkahku untuk masuk
kelas terhenti saat melihat Richard berdiri di depan pintu kelasku dengan
gayanya yang cool. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan
wajahnya datar sampai siapapun tak bisa membaca auranya.
“Apa yang kaulakukan di
sini?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Seharusnya aku yang
bertanya, apa yang kaulakukan?”
“Apa maksudmu? Aku
hendak masuk kelas dan kau berdiri di depan pintu.”
“Kuharap kau sadar akan
posisimu!” Richard berjalan menjauhi kelas setelah mengucapkan kata-kata yang
sejujurnya tak kumengerti. Apa maksudnya dengan sadar posisi?
“Hei...” Kupanggil
Richard dengan suara yang lumayan keras. Ini sungguh memalukan jika dilihat
orang lain, tapi laki-laki itu dengan tidak berperasaannya tetap saja berjalan.
Jangankan berhenti, menoleh kepadaku pun tidak.
Untuk sejenak kakiku
kaku. Aku bingung antara ingin mengejarnya atau masuk kelas. Kuhela napas
panjang. Ah, kuliah akan dimulai sepuluh menit lagi, sebaiknya aku masuk kelas
daripada berdebat dengannya, akhirnya pasti aku akan berada di pihak yang
kalah.
Dengan kesal aku
memasuki kelas. Masa bodoh dengan Richard! Memangnya ia siapa? Sudah suka
mengatur, dan sekarang marah-marah tak jelas padaku. Kuletakkan tasku di kursi
dengan kasar sampai membuat Chika terlonjak, tapi aku tak peduli! Richard
benar-benar telah membuat mood-ku buruk seharian ini!
“Kau bertengkar dengan
Richard?” tanya Chika saat aku sudah duduk di sampingnya.
“Kurasa tidak! Kami
bahkan hanya bertemu dua menit, tapi dia benar-benar aneh!” Kutopang daguku
dengan tangan. Ya Tuhan, kenapa Chika harus membicarakan Richard lagi?
“Kau kemana saja? Dia
sudah menunggumu dari setengah jam yang lalu.”
Aku sontak menoleh pada
Chika. “Darimana kau tahu? Bukankah kau ada kelas sebelum ini?”
“Dari beberapa anak
perempuan yang mengagumi kekasihmu itu! Mereka saling berbisik melihat Richard
berdiri di depan kelas.”
“Oh!”
Richard menungguku
selama setengah jam? Ada perlu apa? Kenapa ia tak menghubungiku saja? Ck,
manusia itu memang kadang-kadang aneh! Tapi, apa dia melihatku pergi dengan
Steve? Sepertinya tidak, mengingat tadi Steve mendahuluiku. Tapi bagaimana
kalau dia tahu? Ah... Aku benar-benar menjadi gila sekarang!
“Debby, kau kenapa?”
tanya Chika.
Aku tak segera menjawab
pertanyaan Chika. Kenapa apanya? Astaga, bahkan untuk mencerna pertanyaan Chika
pun aku kesusahan karena benakku dipenuhi oleh satu orang. Tapi itu tak
berlangsung lama, secara refleks aku memegang perut dan memasang ekspresi
kesakitan.
“Aku... Sepertinya aku
sakit...” Jawabku dengan suara lemah. “Sepertinya aku tak bisa mengikuti
kelas.”
“Oh, Ya Tuhan! Kau mau
kuantar pulang?” Kulihat Chika panik melihatku kesakitan. I’m so sorry,
Chika.
“Tidak... Tidak perlu!
Aku bisa ke klinik untuk meminta obat.” Aku segera meraih tas dan berjalan
keluar sebelum Chika curiga. Beruntung tadi aku bisa mencari alasan untuk tak
mengikuti kelas, kalu tidak, Chika pasti akan kembali memberondongiku dengan
pertanyaan-pertanyaannya.
***
Sekarang aku harus
kemana? Steve pasti sudah tak ada di kedai es krim dan tak mungkin aku menyuruhnya kembali ke sini.
Baiklah kalau begitu, aku ke toko kue Ibu saja. Rasanya aku sudah lama tak
membantu di sana.
“Tunggu!”
Kuhentikan langkahku
saat ada yang memanggil. Dan, apa aku tak salah lihat? Yang kini menghampiriku
adalah ... Janet! Kulihat kanan kiriku, sepi! Apakah janet akan menyerangku
sekarang? Di tempat ini? Ia berjalan dengan anggun bak model yang sedang
melenggak-lenggok di catwalk. Wajahnya yang luar biasa cantik juga
terlihat bersinar dari tempatku berdiri. Ah, rasanya memang gila jika Richard
memutuskannya dan sekarang menjalin hubungan pura-pura denganku.
“Kau kekasih Richard
yang baru?” tanya Janet begitu sampai di depanku. Ya Tuhan, bahkan suaranya pun
terdengar merdu, sangat berbeda dengan suara cemprengku saat sedang kesal.
Kesal? Ya, menurutku Janet sekarang sedang kesal karena ia baru saja kehilangan
kekasih sempurnanya.
“Sepertinya kau tak
perlu jawaban.”
“Aku terkejut saat
Richard memutuskan hubungan kami, dan dia dengan cepat mendapatkan
penggantiku.” Janet memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah. Sangat
kentara pandangan yang ditujukannya padaku adalah semacam pandangan menghina.
“Aku juga terkejut.”
Kubuat nada bicaraku sesantai mungkin, padahal aku sudah cukup terintimidasi
dengan kecantikan Janet.
“Well,
kuharap kalian tak menyesal karena
memutuskan untuk menjalin hubungan.” Ucap Janet sebelum ia kembali melangkah
–meninggalkanku-.
Aku masih diam di
tempat, memikirkan ucapan Janet tadi? Apa maksudnya dengan ‘tak menyesal’?
Andai saja dia tahu kalau aku sudah menyesal sejak kemarin. Tapi tunggu! Ini
tak seperti bayanganku! Tak ada adegan saling serang, cakar-cakaran atau apapun
itu yang mengerikan, yang sempat kupikirkan tadi. Janet memang benar-benar high
class, dia tipe penindas mental seperti Richard!
***
Aku berdiri kaku di
depan pintu toko kue Ibu. Apa aku tak salah lihat? Aku aku bermimpi? Apa aku
sekarang sudah gila? Richard! Bagaimana bisa ia ke sini?
Setelah kesadaranku
kembali, kuhampiri ia yang sedang menikmati cupcake dengan tenang. Ini
benar-benar tak bisa dibiarkan! Kenapa ia selalu ada di semua tempat yang
kutuju?
“Apa yang kau lakukan
di sini?” Aku menatap sengit Richard dan cupcake yang ada di tangannya
bergantian.
Richard meletakan cupcake
yang baru satu gigit diincipnya ke meja. “Honey, kenapa kau selalu
mengatakan hal itu saat bertemu denganku? Kau tak suka melihatku?” Richard
pura-pura memasang wajah kecewa, memuakkan!
“Dear, kenapa
kau di sini? Richard bilang kau sedang ada kelas.”
Kubalikan badanku
menghadap Ibu yang entah sejak kapan berdiri di belakangku. Kulihat Ibu
menatapku tajam. Demi Tuhan, jangan sampai Ibu tahu kalau aku membolos, aku
bisa menghabiskan sepanjang malam ini dengan mendengar omelan Ibu.
“Aku... Tak ada dosen,
Bu!” Ucapku refleks. Kemudian kembali aku menatap Richard. “Kenapa dia bisa ada
di sini, Bu? Dan bagaimana bisa Ibu mengenalnya?
Ibu tersenyum padaku,
beliau mengusap bahuku pelan. “Kenapa kau tak bilang kalau sudah mempunyai
kekasih, sayang? Richard datang ke sini untuk memperkenalkan diri secara resmi
kepada Ibu.”
Kulihat Richard
tersenyum, senyum mempesona yang selalu ia tebar. Kali ini aku tak peduli
dengan paras tampannya, aku sangat ingin mencakar-cakar wajahnya itu.
“Richard, Bibi tinggal
ke dapur ya.” Pamit Ibuku dan dibalas dengan anggukan sopan Richard.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar