Blogger Widgets

Label

Selasa, 04 Februari 2014

It's Okay, Dear part 8


Hari ini waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap pergerakanku tak pernah lepas dari pandangan orang-orang. Astaga, apakah menjadi kekasih seorang Richard Alfredo akan sesusah ini? Sepertinya, Janet dulu tak merasakan hal seperti ini. Ia dan Richard malah mendapat julukan ‘best couple’. Oh, sadarlah Debby! Janet itu sempurna, maka tak heran jika mereka –Janet dan Richard- bersanding, sedangkan kau? Kau bahkan tak populer.

“Apa kau sering melamun sendiri di kampus?”
Aku nyaris melonjak mendengar sapaan tiba-tiba dari... “Steve!”
“Ya, ini aku. Kenapa kau kaget begitu?”
Aku berdecak. “Bagaimana aku tak kaget kalau kau tiba-tiba muncul? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Hanya berjalan-jalan. Aku bosan!” Steve mengambil posisi duduk di sampingku. Ia mulai mengedarkan pandangannya, menelisik setiap sudut taman dimana kami berada sekarang. Ck! Gayanya membuatku geli. Tak ada yang menarik di taman ini tapi ia bertindak seolah-olah baru saja menemukan tempat paling indah di dunia.
“Kau pikir kampusku sefantastis taman hiburan? Di sini bukan tempat jalan-jalan dan juga membosankan!”
Kudengar Steve tertawa renyah mendengar ucapan asalku, dan aku senang. Dari dulu, suara tertawa Steve adalah yang paling kusuka, membuatku ingin ikut tertawa dengannya juga.
“Kau tak ada kelas?” tanyanya.
Kulirik arloji pink yang terpasang di tangan kiriku. “Ada. Sekitar satu jam lagi.”
“Baguslah! Kau bisa menemaniku sebentar? Kulihat di sekitar kampusmu ada kedai es krim.”
Aku hampir saja langsung mengiyakan permintaan Steve kalau aku tak ingat posisiku sekarang. Beberapa orang tahu kalau aku adalah kekasih Richard dan akan aneh jadinya jika mereka melihatku berjalan dengan Steve. “Kau pergi duluan saja, aku akan menyusulmu! Masih ada beberapa hal yang harus kulakukan.”
Kulihat sedikit raut kecewa di wajah Steve. Oh, aku sungguh tak enak dengannya. Dia adalah temanku, sahabatku yang baru kutemui lagi beberapa hari yang, lalu tapi aku tak bisa memberikannya waktu terbaik.
“Baiklah, kuharap kau menyelesaikan urusanmu dengan cepat.” Steve tersenyum tipis padaku.
“Pasti!” Jawabku dengan penuh keyakinan.
***
Dua es krim cokelat ukuran sedang sudah terhidang di depanku dan Steve. Tampilannya yang begitu menggoda mengundang siapa saja untuk mencicipinya. Es krim coklat dengan toping buah untukku, dan es krim coklat dengan toping remahan biskuit untuk Steve.
“Hmmm...”Aku memejamkan mataku, menikmati es krim yang dingin sekaligus menggetarkan lidah. Ini benar-benar lezat! Rasanya satu porsi tak cukup untukku.
“Apa kau harus bertingkah berlebihan seperti itu?” Steve terkekeh geli melihatku.
“Lidahmu mati rasa atau apa? Ini benar-benar enak!” Aku memasukkan lagi satu sendok es krim ke dalam mulutku dan reaksi yang sama kembali kutunjukkan.
“Kalau kau terus bertingkah seperti itu, waktu satu jam-mu akan habis sedangkan es krimmu masih banyak.”
Aku memelototkan mataku seketika. Steve benar! Kembali kulirik arlojiku, Oh my God, 30 menit lagi! Aku langsung memakan es krimku dengan lebih cepat, bahkan gigiku sedikit ngilu karena suapan es krim yang kulahap besar-besar.
“Kau terlihat seperti orang kelaparan sekarang.”
“Diamlah!” Perintahku sambil terus memakan es krim.
Kemudian tak ada lagi di antara kami yang berbicara. Kami sibuk menikmati es krim dan tentu dengan gaya yang berbeda. Steve dengan gayanya yang santai dan elegan, aku dengan gaya yang...kelaparan.
***                                         
Aku tiba di kampus lima belas menit sebelum kelas dimulai. Ini bagus, walaupun aku harus meninggalkan Steve sendiri di kedai es krim. Mau bagaimana lagi? aku bisa terlambat kalau menungguinya sampai selesai. Sesekali kupegang kedua pipinya. Ah, sepertinya dingin es krim menjalar sampai kulitku.
Langkahku untuk masuk kelas terhenti saat melihat Richard berdiri di depan pintu kelasku dengan gayanya yang cool. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan wajahnya datar sampai siapapun tak bisa membaca auranya.
“Apa yang kaulakukan di sini?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kaulakukan?”
“Apa maksudmu? Aku hendak masuk kelas dan kau berdiri di depan pintu.”
“Kuharap kau sadar akan posisimu!” Richard berjalan menjauhi kelas setelah mengucapkan kata-kata yang sejujurnya tak kumengerti. Apa maksudnya dengan sadar posisi?
“Hei...” Kupanggil Richard dengan suara yang lumayan keras. Ini sungguh memalukan jika dilihat orang lain, tapi laki-laki itu dengan tidak berperasaannya tetap saja berjalan. Jangankan berhenti, menoleh kepadaku pun tidak.
Untuk sejenak kakiku kaku. Aku bingung antara ingin mengejarnya atau masuk kelas. Kuhela napas panjang. Ah, kuliah akan dimulai sepuluh menit lagi, sebaiknya aku masuk kelas daripada berdebat dengannya, akhirnya pasti aku akan berada di pihak yang kalah.
Dengan kesal aku memasuki kelas. Masa bodoh dengan Richard! Memangnya ia siapa? Sudah suka mengatur, dan sekarang marah-marah tak jelas padaku. Kuletakkan tasku di kursi dengan kasar sampai membuat Chika terlonjak, tapi aku tak peduli! Richard benar-benar telah membuat mood-ku buruk seharian ini!
“Kau bertengkar dengan Richard?” tanya Chika saat aku sudah duduk di sampingnya.
“Kurasa tidak! Kami bahkan hanya bertemu dua menit, tapi dia benar-benar aneh!” Kutopang daguku dengan tangan. Ya Tuhan, kenapa Chika harus membicarakan Richard lagi?
“Kau kemana saja? Dia sudah menunggumu dari setengah jam yang lalu.”
Aku sontak menoleh pada Chika. “Darimana kau tahu? Bukankah kau ada kelas sebelum ini?”
“Dari beberapa anak perempuan yang mengagumi kekasihmu itu! Mereka saling berbisik melihat Richard berdiri di depan kelas.”
“Oh!”
Richard menungguku selama setengah jam? Ada perlu apa? Kenapa ia tak menghubungiku saja? Ck, manusia itu memang kadang-kadang aneh! Tapi, apa dia melihatku pergi dengan Steve? Sepertinya tidak, mengingat tadi Steve mendahuluiku. Tapi bagaimana kalau dia tahu? Ah... Aku benar-benar menjadi gila sekarang!
“Debby, kau kenapa?” tanya Chika.
Aku tak segera menjawab pertanyaan Chika. Kenapa apanya? Astaga, bahkan untuk mencerna pertanyaan Chika pun aku kesusahan karena benakku dipenuhi oleh satu orang. Tapi itu tak berlangsung lama, secara refleks aku memegang perut dan memasang ekspresi kesakitan.
“Aku... Sepertinya aku sakit...” Jawabku dengan suara lemah. “Sepertinya aku tak bisa mengikuti kelas.”
“Oh, Ya Tuhan! Kau mau kuantar pulang?” Kulihat Chika panik melihatku kesakitan. I’m so sorry, Chika.
“Tidak... Tidak perlu! Aku bisa ke klinik untuk meminta obat.” Aku segera meraih tas dan berjalan keluar sebelum Chika curiga. Beruntung tadi aku bisa mencari alasan untuk tak mengikuti kelas, kalu tidak, Chika pasti akan kembali memberondongiku dengan pertanyaan-pertanyaannya.
***
Sekarang aku harus kemana? Steve pasti sudah tak ada di kedai es krim dan  tak mungkin aku menyuruhnya kembali ke sini. Baiklah kalau begitu, aku ke toko kue Ibu saja. Rasanya aku sudah lama tak membantu di sana.
“Tunggu!”
Kuhentikan langkahku saat ada yang memanggil. Dan, apa aku tak salah lihat? Yang kini menghampiriku adalah ... Janet! Kulihat kanan kiriku, sepi! Apakah janet akan menyerangku sekarang? Di tempat ini? Ia berjalan dengan anggun bak model yang sedang melenggak-lenggok di catwalk. Wajahnya yang luar biasa cantik juga terlihat bersinar dari tempatku berdiri. Ah, rasanya memang gila jika Richard memutuskannya dan sekarang menjalin hubungan pura-pura denganku.
“Kau kekasih Richard yang baru?” tanya Janet begitu sampai di depanku. Ya Tuhan, bahkan suaranya pun terdengar merdu, sangat berbeda dengan suara cemprengku saat sedang kesal. Kesal? Ya, menurutku Janet sekarang sedang kesal karena ia baru saja kehilangan kekasih sempurnanya.
“Sepertinya kau tak perlu jawaban.”
“Aku terkejut saat Richard memutuskan hubungan kami, dan dia dengan cepat mendapatkan penggantiku.” Janet memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah. Sangat kentara pandangan yang ditujukannya padaku adalah semacam pandangan menghina.
“Aku juga terkejut.” Kubuat nada bicaraku sesantai mungkin, padahal aku sudah cukup terintimidasi dengan kecantikan Janet.
Well, kuharap  kalian tak menyesal karena memutuskan untuk menjalin hubungan.” Ucap Janet sebelum ia kembali melangkah –meninggalkanku-.
Aku masih diam di tempat, memikirkan ucapan Janet tadi? Apa maksudnya dengan ‘tak menyesal’? Andai saja dia tahu kalau aku sudah menyesal sejak kemarin. Tapi tunggu! Ini tak seperti bayanganku! Tak ada adegan saling serang, cakar-cakaran atau apapun itu yang mengerikan, yang sempat kupikirkan tadi. Janet memang benar-benar high class, dia tipe penindas mental seperti Richard!
***
Aku berdiri kaku di depan pintu toko kue Ibu. Apa aku tak salah lihat? Aku aku bermimpi? Apa aku sekarang sudah gila? Richard! Bagaimana bisa ia ke sini?
Setelah kesadaranku kembali, kuhampiri ia yang sedang menikmati cupcake dengan tenang. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan! Kenapa ia selalu ada di semua tempat yang kutuju?
“Apa yang kau lakukan di sini?” Aku menatap sengit Richard dan cupcake yang ada di tangannya bergantian.
Richard meletakan cupcake yang baru satu gigit diincipnya ke meja. “Honey, kenapa kau selalu mengatakan hal itu saat bertemu denganku? Kau tak suka melihatku?” Richard pura-pura memasang wajah kecewa, memuakkan!
Dear, kenapa kau di sini? Richard bilang kau sedang ada kelas.”
Kubalikan badanku menghadap Ibu yang entah sejak kapan berdiri di belakangku. Kulihat Ibu menatapku tajam. Demi Tuhan, jangan sampai Ibu tahu kalau aku membolos, aku bisa menghabiskan sepanjang malam ini dengan mendengar omelan Ibu.
“Aku... Tak ada dosen, Bu!” Ucapku refleks. Kemudian kembali aku menatap Richard. “Kenapa dia bisa ada di sini, Bu? Dan bagaimana bisa Ibu mengenalnya?
Ibu tersenyum padaku, beliau mengusap bahuku pelan. “Kenapa kau tak bilang kalau sudah mempunyai kekasih, sayang? Richard datang ke sini untuk memperkenalkan diri secara resmi kepada Ibu.”
Kulihat Richard tersenyum, senyum mempesona yang selalu ia tebar. Kali ini aku tak peduli dengan paras tampannya, aku sangat ingin mencakar-cakar wajahnya itu.

“Richard, Bibi tinggal ke dapur ya.” Pamit Ibuku dan dibalas dengan anggukan sopan Richard.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar