Mata Debby mengerjap beberapa kali memperhatikan
bangunan di depannya, sebuah mansion yang besar dan mewah. Tapi, yang menjadi
pertanyaannya sekarang adalah kenapa Richard membawanya ke sini? Apa laki-laki
itu ingin mengunjungi kerabatnya yang sangat sangat sangat kaya? Ataukah
bangunan itu mewah itu miliknya?
“Turun!” Perintah Richard. Ia segera melepas seatbelt-nya
dan turun mendahului Debby.
Debby memperhatikan setiap pergerakan Richard dengan
tatapan sinis. “Selalu memerintah sesuka hati!”
“Apa aku harus melepaskan seatbelt-mu dan
menuntunmu keluar mobil seperti nenek-nenek?” ucap Richard dari luar jendela di
samping Debby.
Tanpa pikir panjang, Debby melepas seatbelt-nya
dan membuka pintu dengan cepat sampai membentur hidung Richard. Rasakan kau!
“Apa yang kau lakukan?” Geram Richard sambil
mengelus hidungnya yang sedikit berdenyut.
“Aku hanya menuruti perintahmu,” balas Debby tanpa
rasa bersalah. “Apa yang akan kita lakukan di sini?” Setelah keluar dari mobil
Debby masih memperhatikan mansion di depannya dan acuh terhadap Richard.
Tak ada jawaban dari Richard. Apakah dia marah? Oh
ayolah, benturan itu tak sampai membuat hidung mancungnya patah ‘kan?
Tanpa sadar Debby menggumamkan apa yang
dipikirkannya dan itu semakin membuat Richrad geram.
“Bukankah lebih baik kau meminta maaf padaku?”
Sindir Richard. Ia menatap tajam Debby seolah berkata –minta maaflah- .
Debby memalingkan wajahnya dari Richard, tak tahan
dengan tatapan intimidasi yang dilayangkan laki-laki itu padanya. “Aku hanya
mengikuti perintahmu dan kenapa kau menempatkan wajahmu di depan pintu?”
balasnya tak mau kalah. Untuk saat ini dia bisa tertawa dalam hati karena
Richard tak terlihat ingin membalas ucapannya.
“Hei.. hei apa yang kau lakukan?” Debby memekik
seketika karena Richard tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya menuju
mansion. Langkah Richard yang besar-besar
membuat Debby yang menggunakan high
heels semakin kesusahan.
“Jangan menguras tenagamu dengan berteriak seperti
itu, kau akan lebih membutuhkannya nanti!” Jawab Richard dengan dingin.
“Kasihanilah aku,” mohon Debby. Nada bicara melembut
dan terdengar frustasi.
Richard menghentikan langkahnya tiba-tiba dan Debby
yang tak siap pun membentur punggung kokohnya. Laki-laki itu menoleh ke belakang
dan mengamati keadaan Debby. Gadis itu terengah-engah dan meringis sambil
menatap kakinya.
“Kau pakai high heels? Kenapa aku tak
menyadarinya?” Richard mengamati kaki Debby yang sepertinya lecet, kemudian ia
mengangkat alisnya. “Harusnya kau terlihat tinggi tapi ini...”
“Apa maksudmu?” Debby melotot kepada Richard tapi
detik berikutnya ia menyesal. Astaga, kenapa laki-laki itu malah terlihat lebih
tampan?
“Apa aku terlihat begitu mempesona sampai kau enggan
berkedip? Hati-hati, Nona, bola matamu bisa lepas kalau kau menatapku seperti
itu,” Richard mendekatkan mukanya dengan Debby –memperkecil jarak mereka- .
“Sudahlah, aku tak ingin buang-buang waktu.”
***
Debby’s POV
Saat memasuki mansion, aku dan Richard–atau lebih
tepatnya Richard-disambut oleh beberapa pelayan dengan seragam putih hitam.
Mereka menunduk sebagai tanda penghormatan dan Richrad dengan angkuhnya hanya
melengos.
Mataku tak bisa berhenti mengagumi interior mansion megah ini. Bahkan, mungkin
saat ini mulutku menganga karenanya. Bayangkan saja, tempat yang kuinjak saat
pertama masuk adalah sebuah ruangan mewah menyerupai ballroom, belum
lagi dengan sentuhan klasik di sana-sini. Arsitek bangunan ini pasti seorang
yang jenius.
“Apa yang kau lihat? Kita tak punya banyak waktu dan
jangan sia-siakan waktumu dengan bangunan mati ini!” Tegur Richard sebelum
melangkah menuju tangga. Ah, ia memang benar-benar... Tapi apa yang dikatakannya
tadi? Bangunan mati? Kurasa ia tak mengerti nilai estetika.
“Tuan Muda Richard, senang sekali melihat Anda
kembali,” sambut laki-laki paruh baya dengan ramah. Kalau dilihat dari
penampilannya dan sikapnya yang lebih luwes, sepertinya ia sudah lama bekerja
di mansion ini.
“Oh Fred. Kemana Ayah dan Ibuku?” Tanya Richard
setelah membalas sapaan pelayan yang dipanggilnya ‘Fred’ itu dengan singkat.
“Tuan Besar dan Nyonya sedang menghadiri pertemuan
dengan kolega bisnis, mungkin mereka akan kembali sore nanti,” jawab Fred
dengan sopan, kemudian pandangannya teralih padaku.
Richard sepertinya mengerti maksud pandangan Fred. “Kemarilah,
sayang..” Tak ada yang bergeming saat mendengar perintah Richard yang entah
ditujukan pada siapa itu. “Debby..kemarilah!” Ia mengulang lagi perintahnya dan
kali ini membuatku membelalakan mata tak percaya. Apa maksudnya dengan
memanggilku ‘sayang’?
Karena aku tak segera mendekat, Richard berinisiatif
untuk menarikku dengan melingkarkan tangannya dipinggangku dengan posesif.
Apakah ini yang dimaksud dengan balas budi? Ya Tuhan, ini benar-benar
keterlaluan, aku bahkan mengalami sport jantung karena sentuhan fisik
ini!
“Fred, ini adalah Debby..” Richard terus berbicara
di tengah kondisiku yang masih mematung, ingin sekali kusumpal mulutnya yang seksi
itu! “Dia adalah kekasihku.” Lanjutnya kemudian yang membuatku tak tahu lagi
harus berkata apa untuk kegilaannya.
“Senang bertemu dengan Anda, Nona Debby,” sapa Fred
padaku dan hanya kubalas dengan senyuman canggung.
“Baiklah kalau begitu.. Sepertinya aku butuh waktu
berdua dengan kekasihku, Fred.” Ucap Richard disertai senyuman penuh arti dan sialnya
aku tak tahu apa itu.
Fred menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan
izin untuk meninggalkan kami berdua. Mungkin arti ucapan Richard tadi ‘tolong
tinggalkan kami berdua’ atau ‘kau bisa pergi sekarang, Fred’.
“Dia adalah Fred, kepala pelayan di sini, dan kami
sudah menganggapnya sebagai keluarga,” jelas Richard sebelum aku bertanya.
Baiklah... untuk beberapa hal, laki-laki cukup peka.
***
Surprise again!!
Dimana lagi aku sekarang? Okay, aku melihat ranjang dengan ukuran king
size,home teathre,walk in closet,sebuah buffet dengan buku-buku tebal,
lemari besar dan meja belajar. “ Sepertinya aku pernah melihat yang seperti
ini, tapi dimana?”
“Ini kamarku.”
“Ya benar, ini mirip dengan kamarmu...Apa? Kamarmu?”
Aku memberikan Richard sebuah tatapan tertajam yang pernah aku miliki, walaupun
aku sendiri tak yakin dengan reaksinya.
Richard mengangkat alisnya. “Kenapa kau sekaget ini?
Bukankah kau pernah di kamarku sebelumnya?”
“Dan aku berharap itu yang terakhir!” Balasku dengan
kesal. Astaga bagaimana bisa aku berada di tempat –kamar Richard- lagi? Okay...
sepertinya aku akan memaki diri sendiri kalau mengingat dengan bodohnya aku mau
memasuki mansion ini.
“Wah,, bagaimana ini? Tentu saja harapanmu itu tak
kan terkabul!” Ucapan Richard terdengar seperti ‘kau bodoh sekali. Apa kau tadi
tidur saat kutuntun ke sini?’
Aku masih berdiri mematung di tempatku tadi –depan
pintu- sedangkan Richard sudah melenggang ke ranjang yang terlihat nyaman. Ia
menjatuhkan tubuhnya dengan gaya telentang dan...seksi! Aish, bisa-bisanya
otakku berpikiran yang tidak-tidak di saat seperti ini.
“Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah!” Seru Richard.
“Kenapa kau membawaku kesini?”
Richard mengubah posisinya menjadi berdiri lalu bersandar
dengan tampan di samping bingkai jendela. “Kalau kau mau tahu, kesinilah!”
Akhirnya, mau tak mau aku memang menghampirinya. Kutatap
ia tajam dan kedua tangan terlipat di dada, seharusnya dia tahu kalau aku
sedang marah sekarang!
“Kau harusnya senang karena aku mengajakmu kesini.
Kau tahu, aku bahkan belum pernah mengajak siapa pun sebelumnya.”
Aku tak tersanjung dengan ucapannya itu. Mana
mungkin aku yang pertama? Dia pasti sudah berkali-kali mengajak Janette kesini.
“Aku lebih senang kalau tak berada di sini.” Dan tentu tak harus melihat
pesonamu yang menyilaukan! , lanjutku dalam hati.
“Begitukah? Kalau begitu kau bisa keluar nanti,
tentunya setelah aku menjamumu.” Richard berjalan menuju kulkas yang ada di
salah satu sudut kamarnya. Ck, dasar orang kaya, kamarnya saja sudah seperti
rumah. “Kau mau minum apa?”
Aku akan meminum apa saja asal bisa menjernihkan
pikiranku darinya. “Terserah!” jawabku singkat.
Richard nampak mengamati isi kulkasnya. “Kau mau
apa?” tanyanya lagi.
“Kenapa kau harus repot-repot bertanya, bukankah kau
sering bertindak sesukamu? Ambilkan aku apa saja!”
Richard kembali menghampiriku dengan dua kaleng softdrink
di tangannya. Oh God, sebenarnya aku tak begitu suka minuman itu, tapi
aku lebih tak suka jika harus berdebat hanya karena minuman.
“Jadi kau sudah siap balas jasa?” tanya Richard sambil memberikan satu kaleng softdrink
padaku. “Ini tak sesulit yang kau kira, jadi tenanglah,” lanjutnya.
Aku hanya melengos. Tak seperti yang kukira,
katanya? Ah, yang benar saja, aku bahkan tak bisa mengira-ngira apa maunya.
“Katakanlah!”
“Aku hanya ingin memastikan, apa kau tak
menyukaiku?” Nada bicara Richard berubah
menjadi serius dan ia kini menatapku lekat-lekat. Astaga, kalau begini
bagaimana aku bisa menjawab. “Debby!”
“Tentu saja tidak!” Jawabku secara refleks. Untuk
kali ini aku patut berlega karena tak sampai mengucapkan hal yang bisa
membuatku malu di hadapannya. “ Bukankah tadi aku sudah menjawab, kenapa kau
mengulang-ulangnya? Apa kau berharap aku akan menyukaimu, huh?” Lanjutku dengan
sedikit terang-engah karena sudah berbicara cukup panjang dengan nada tinggi.
Demi Tuhan, aku sendiri tak tahu bagaimana perasaanku kepadanya, yang aku tahu
dia terlalu mempesona-menyilaukan- dan aku ingin cepat-cepat pergi dari
hadapannya.
“Apa yang tak kau sukai dariku?” Richard
memperhatikan penampilan. Mungkin ia tak percaya ada gadis yang terang-terangan
mengakui kalau tak menyukainya.
“Mana aku tahu! Yang jelas kau menyebalkan dan suka
mengintimidasi orang dengan matamu yang...” Seketika kututup mulutku. Apa aku
tadi salah bicara? Sepertinya iya. Debby... apa yang kau lakukan? Kau ingin
mengatakan kalau ia punya mata tajam yang mengintimidasi sekaligus mengagumkan?
“Ada apa dengan mataku? Mempesona? Mengagumkan?”
Aku hanya bisa menggeleng tak percaya. Sepertinya
orang paling menyebalkan adalah orang tampan yang menyadari kalau dirinya
tampan. Aku jadi berpikir kalau Richard tak semenawan ini, akankah sifat overconfidence-nya
hilang?
“Bukankah akan menyenangkan dan membanggakan kalau
kau punya kekasih sepertiku?” Richard masih saja berceloteh tentang hal-hal
yang merujuk pada pesonanya. Tapi, apa dia bilang tadi? Kekasih?
“Apa maksudmu dengan ‘kekasih’?
“Okay... aku langsung ke intinya saja. Aku
butuh kekasih yang tak menyukaiku. Seseorang yang dapat menghindarkanku dari
perjodohan atau apapun itu yang akan menyulitkanku.” Jelas Richard.
Aku masih tak bersuara, mencoba mencerna setiap kata
yang keluar dari bibirnya. “Maksudmu kekasih pura-pura?”
Richard mngernyitkan keningnya, terlihat tak setuju
dengan yang baru saja aku lontarkan. “Aku tak tahu kau terlalu banyak menonton
film atau membaca cerita. Kekasih yang kumaksud bukanlah kekasih di kisah-kisah
yang sering kau ikuti. Aku butuh kekasih yang sesungguhnya.”
“Kekasih yang tak menyukai kekasihnya? Apa ada? Kau
aneh!”
“Ini akan lebih baik daripada kau patah hati. Kau
tahu, ketika kau jatuh hati , kau harus siap patah hati.”
Aku berdecak mendengar jawaban Richard. “Kau buruk
sekali!”
“Lupakan soal itu.” Richard menghela napas panjang.
Ia menengguk softdrink-nya, lalu kembali menatapku. “Aku akan jelaskan
padamu semuanya, dan kuharap kau akan langsung mengerti.”
“Richard, my dearest..” Seorang wanita paruh
baya menginterupsi pembicaraanku dengan Richard. Tanpa aba-aba wanita itu masuk
kamar Richard dan memeluknya erat.
“Ma...” Richard membalas pelukan wanita itu –yang
sekarang aku tahu kalau itu ibunya- .
Sepertinya Richard begitu dekat dengan ibunya. Ah, kenapa
dia bertambah tampan karena begitu menyayangi sang ibu. Dan yah...bagaimana
kalau laki-laki itu tahu kalau aku begitu mengaguminya? Akankah dia segera
mendepakku dari mansion megah ini?
“Oh, siapa gadis cantik ini?” Mama Richard
mengalihkan pandangannya padaku.
“She’s my girl..” Richard melepas pelukan ibunya
dan menggandeng tanganku mesra. “Namanya Debby.”
“Debby, saya Julia...” Tante Julia mengulurkan
tangannya, yang dengan senang hati kubalas jabatan tangannya. “Maaf sudah mengganggu acara kalian.”
“Kami tadi hanya mengobrol biasa, Tante,” Lagi-lagi
aku tersenyum canggung seperti waktu
bertemu dengan Fred. Astaga... kenapa aku jadi gugup seperti ini? Tenang
Debby.... tenang! Everything will be okay... Kau hanya perlu mengikuti
permainan gila laki-laki itu!
“Ma, sudahlah... Debby sedikit pemalu, aku kasian
melihat pipinya yang merona,” Richard menatapku mesra dan melingkarkan tangan
kekarnya di pundakku.
“Baiklah kalau begitu, aku akan meninggalkan kalian.
Have fun..” Tante Julia berlalu dari hadapan kami setelah mengedipkan
mata, yang entah apa itu artinya.
***
Aku melipat kedua tanganku di depan Richard,
benar-benar tak habis pikir, apa mau laki-laki ini sebenarnya? Aku belum
mengatakan ‘deal’ dengan permintaanya, tapi dia sudah seenaknya
mngakuiku sebagai pacaranya di depan pelayan dan Mamanya. Kuakui memang aku
tertarik dengan otak, paras dan pesona yang ada di dirinya, tapi kalau harus
menjadi kekasihnya... pasti akan menyenangkan jika aku bisa dengan bebas
menyukainya.
“Kau tak ada pilihan lain, Deb... Semua orang telah
tahu kalau kita berpacaran.” Ucapnya dengan santai.
“Kalau begitu, ayo kita buat semua orang tahu kalau
ini hanya sandiwara!” Usulku.
Richard mengangkat sebelah alisnya, kemudian tertawa
kecil meremehkan. “Kau pikir mereka akan percaya. Aku, Richarad Alfredo, laki-laki
yang bisa mendapatkan wanita yang diingikannya tapi menjalin hubungan pura-pura
dengan wanita biasa... Ckckck, urungkan saja niatmu itu! Lagipula, kita tak
menjalin hubungan pura-pura, we’re real!” balasnya telak tanpa ingin
dibantah.
“Kenapa kau begitu egois? Kau tak memikirkan
perasaanku! Bagaimana kalau ternyata saat ini aku menyukai seseorang?” Nada
bicaraku semakin meninggi, semakin terdengar frustasi pula di telingaku.
“Kau menyukai seseorang? Apa orang itu Steve?” tanya
Richard.
“Bukan, tapi bisa saja saat menjalin hubungan ini,
aku menyukai seseorang. Bukankah kau yang mengatakan kalau kita tak boleh
saling menyukai? Jadi aku bisa saja menyukai orang lain.”
“Aku melarangmu menyukai siapa pun!” Larang Richard
dengan tegas.
“Kau tak berhak melarangku! Daripada kita menjalani
hubungan aneh ini, bukankah lebih baik kalau kita seperti dulu? Kau denga
hidupmu, aku dengan hidupku, dan kita...”
“Tidak!”
Lanjut kak! Lanjuttt! Cepat :D
BalasHapus