PROLOG
“Astaga, Azkar semakin hari semakin tampan.” Pujiku
sambil menopang dagu sedangkan pandanganku tertuju pada pria yang sedang bermain
volly.
“Edo juga. Semakin hari semakin cool apalagi jika
dia bermain basket.” Timpal Andah.
“Harry... dengan melihatnya berjalan saja aku sudah
terpesona.” Ucap Rere. “Kira-kira mereka sudah punya pacar belum ya?”
“Aku tak tahu. Azkar terlalu tertutup tapi
dengar-dengar dia adalah mantannya Tika.” Jawabku dengan lesu.
“Tika kakak kelas kita yang populer satu tingkat di
atas Azkar?” Tanya Rere memastikan dan langsung ku jawab dengan anggukan.
“kalau Edo satu kelas dengan mantannya.” Andah
menghela napas kasar.
“Hemmm. Kalau aku masih heran dengan Harry. Dia kan
tampan tapi mantannya tak lebih cantik dari aku hahahaha..” Ucap Rere dengan
percaya diri namun ku akui hal itu benar adanya.
***************************************************************
Namaku, Vani. Dua orang di samping kanan kiriku
adalah Andah dan Rere, mereka teman baikku sejak SD sampai sekarang kita kelas
XI dan yang lebih mengasyikan kita sekelas. Kau tahu apa yang kami lakukan? Sudah jelas, kami sedang
memandangi kakak tingkat yang menjadi
pujaannya hati kita.
“Vani, Raka memintamu untuk menemuinya di kelasnya.
“ Ucap Dita yang tiba-tiba menghampiri kami bertiga di teras kelas. Aku hanya
mengangguk sebagai jawaban.
Ku lihat Dita kembali masuk kelas dan sibuk dengan
ponselnya. Ku hembuskan napasku kasar. Sungguh sebenarnya aku tak berniat
menemui Raka.
“hey,kau tak menemuinya?” Tanya Andah.
“Aku malas.” Ucapku sekenanya.
“Temui saja dia. Kau tak kasihan, dia sangat
mengharapkanmu?” timpal Rere.
“Bicara apa kau?”
“sudahlah, terlihat jelas kalau dia menyukaimu.
Bukankah Raka mengenal Azkar, mungkin kau bisa meminta bantuannya untuk dekat
dengan Azkar.” Usul Andah.
“Hey aku tak setega itu memanfaatkannya.” Sungguh
walaupun aku menyukai Azkar tapi aku tak
akan memakai cara segila itu. Lagipula, mau di taruh mana harga diriku kalau
meminta bantuan untuk dekat dengan pria.
“haha aku tahu.” Ucap Andah disertai kekehannya yang
kadang membuatku sebal.
Aku beranjak dari tempatku dan menuju kelas Raka
dengan malas. Sesampainya di sana, aku melihat dia sedang duduk sendiri.
“Ada apa kau memanggilku?” Tanyaku sambil duduk di
depannya.
“Kau tak suka? Apa aku mengganggu acaramu?”
tanyanya.
Aku menggeleng lemah. “Aku sedang tak ada kegiatan
tadi.”
“Baguslah. Aku pikir kau ada remidi atau
classmeeting.”
“Aku tak remidi dan aku juga tak bisa berkontribusi
apa-apa dalam classmeeting. Aku payah dalam berolahraga.” Jelasku.
Raka tersenyum mendengar penuturanku. “kau pintar
juga, sipit.” Ucapnya sambil mengacak pelan rambutku.
“Ayolah jangan panggil aku seperti itu.” Rajukku.
Memang, aku tak suka di panggil sipit. Ku rasa mataku tak begitu sipit.
“Baiklah. Kau apa kabar?” Tanyanya berbasa-basi.
Astaga, aku tak suka ini.
“seperti yang kau lihat. Oh ya, apa tak sebaiknya
kita bicara di luar saja?” Usulku karena di kelas hanya ada aku dan dia. Aku
tak mau kalau sampai ada yang melihatnya dan mengira kita macam-macam.
Raka menggeleng.”aku ingin berbicara padamu.” Ish!
Mengapa dia tak mengerti maksudku. Sekarang aku benar-banar berharap tak ada
yang melihat kita berduaan.
“Bicaralah. Aku ingin segera pulang dan tidur!”
“kau sakit?” Raka meletakkan punggung tangan di
dahiku.
Aku segera menyingkirkan tangan Raka. “aku tak
sakit. Hanya sedikit mengantuk.”
Raka meraih tanganku dan menatapku lekat.” Aku
menyukaimu. Kau mau jadi kekasihku?” Tanyanya dengan serius.
Aku menarik tanganku dan menunuduk. Sebenarnya aku
sudah merasa kalau dia menyukaiku tapi aku tak bisa. Aku ingin yang mengucapkan
ini Azkar. Aku tak tega untuk menolaknya, dia terlalu baik. Rasanya aku
menyesal telah berada di sini dengannya, ingin sekali waktu diputar sampai aku
tak harus mengenalnya dan serba salah seperti ini.
“Beri aku waktu satu minggu.” Ucapku pada akhirnya.
“baiklah.”
***
Aku memasuki kelas dengan lesu. Ku lihat Andah dan
Rere yang sudah siap mengintrogasiku. Aku segera duduk di sebelah Rere lalu
menopang daguku dengan tangan.
“Kau diapakan oleh Raka?” Tanya Andah.
“Dia menembakku dan aku meminta waktu satu minggu.”
Jawabku frustasi sambil menutup mukaku dengan telapak tangan.
“Kau akan memikirkannya? “ Tanya Rere.
“Entahlah, aku sibuk. Kalian tahu kan kalau minggu
depan aku ada olimpiade fisika.” Jawabku sambil menyenderkan kepala di bahu
Rere.
“Kalau kau tak suka kau bisa menolaknya, bukan?” Ucap
Rere sambil menepuk pelan bahuku.
“Aku tak tega.”
“Lalu kau akan menerimanya?” Tanya andah.
“Entah. Aku bingung, rasanya ini lebih sulit dari
pada menggambar.”
“Van, apa kau mau menemaniku mengambil foto Edo?”
Tanya Andah tiba-tiba.
Aku kembali menegakkan badanku.” Maksudmu kita
menjadi paparazi?”
“Bukan. Kita memintanya nanti pulang sekolah.” Jawab
Andah.
“Kita? Kau saja yang meminta, aku hanya menemani.”
“sudah biar aku saja yang meminta.” Ucap Rere
menengahi.
“hey, setahuku Edo pulang dengan jalan kaki. Ini kan
bulan puasa, kalau aku dan Andah tak jadi masalah tapi kalau kau?” aku
mengalihkan pandanganku ke Rere.
“Aku kuat kok. Tenanglah aku tak akan pingsan.”
Jelas Rere.
“Aaaa kau baik sekali Rere.” Andah sontak memeluk
Rere dengan erat. Aku hanya melihat geli tingkah mereka, betapa menyenangkan
menjadi mereka.
***
Seperti yang telah direncanakan, hari ini kami
bertiga sedang menguntit Edo. Beberapa kali kami kehilangan jejaknya namun
dengan segera kami dapat menemukannya kembali. Sudah sekitar 15 menit kami
melakukan ini, rasanya tenggorokanku berontak minta diisi air. Aku
memperhatikan raut wajah Rere.
“Re, kau tak merasa haus?” Tanyaku.
“Sedikit tapi ini sudah biasa ku alami kalau puasa.”
Jawabnya dengan santai.
“Ah itu dia!” seru Dita yang melihat Edo.
“Ya udah ayo sekarang.” Ajak Rere.
“kalian saja, aku capek. Sebaiknya aku berteduh
saja.” Ucapku sambil menuju masjid.
Dari masjid aku melihat mereka berbicara dengan Edo.
Astaga, berani sekali mereka. Tak lama kemudian, mereka menghampiriku. Tapi kenapa
cepat sekali, apa mereka sudah berhasil?
“Bagaimana hasilnya?” Tanyaku penasaran.
“Dia tak mau.” Jawab Andah lesu.
“Kurasa Edo terlalu malu untuk berpose di depan kita.”
Timpal Rere.
“Yasudah lah ayo kita pulang saja.” Ajakku karena
cuaca memang semakin terik. Ah, aku tak tega melihat Rere.
***
Hari ini aku benar-benar belajar dengan keras karena
besok akan mengikuti lomba. Ini berarti satu minggu sudah sejak Raka
menembakku.
seharian ini Raka tak mengirim pesan untukku. Ya
sudahlah, aku mau tak memusingkannya. Sekilas ku lihat dia menatapku dengan
pandangan yang sulit di artikan. Oh ayolah, aku tak mungkin menghampirinya
kalau dia sedang bersama teman-temannya.
“Kak Vani, kau dipanggil Bu Lusi untuk TM buat lomba
besok.” Ajak salah seorang temanku yang juga ikut lomba. Sebenarnya kami satu
tingkat namun entah mengapa dia suka memanggilku ‘kak’, mungkin karena dia
beberapa bulan di bawahku.
“Baiklah.” Aku segera menyusulnya ke perpustakaan
tanpa memperhatikan Raka lagi.
Selesai TM aku benar-benar lelah karena tadi kami
sempat belajar materi untuk besok. Aku segera masuk ke kelas untuk mengambil
tasku. Rasanya ingin sekali pulang dan tidur.
“Hey Van, kau tak menemui Raka?” Tanya Andah.
“Aku capek dia juga tak memintaku untuk menemuinya .”
Jawabku sambil membereskan mejaku.
“Kau tak kasian padanya?” Tanya Rere.
“Aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan istirahat
karena besok aku sudah harus sampai sekolah jam 6 pagi.” Aku segera keluar
kelas dan disusul oleh Andah dan Rere.
***
Sudah satu bulan aku tak berhubungan dengan Raka.
Ah, ini lebih baik daripada dia menanyakan jawabanku bulan lalu. Aku juga sudah
mulai melupakannya dan aku rasa dia juga. Beberapa bulan lagi dia akan
mengikuti UN, mungkin dia ingin fokus dulu.
Aku tiduran di kamar sambil curhat dengan Andah. Aku
memang lebih dekat dengan Andah karena dia sepupuku dan rumah kami berdekatan.
Di tengah acara curhat, ponselku bergetar.
From
: Raka
Apa
kabar, Van? Kau tahu aku masih menunggu jawabanmu.
Setelah menerima pesan itu, aku menoleh ke Andah.
Dengan segera merebut ponsel dari tanganku.
“Lau apa jawabanmu?” Tanya Andah.
“Mungkin aku akan menerimanya.” Jawabku.
“Kau serius?” Andah nampak tak percaya dengan
ucapanku.
“Hanya sementara sampai dia selesai UN.” Jelasku.
To
: Raka
Aku
akan menerimamu kalau kau bukan perokok.
Tak lama ponselku kembali bergetar.
From
:Raka
Aku
tak akan merokok untukmu
Aku menghembuskan napasku kasar.” Apa ini artinya
aku sudah pacaran?” Sontak aku menenggelamkan wajahku di antara tumpukan bantal.
Ini benar-benar nightmare!
***
Satu minggu sudah aku menjalin hubungan dengan Raka.
Sebenarnya tak ada bedanya hanya status kami yang berbeda. Aku tetap bersikap
biasa dengannya, tak ada rasa yang lebih dan aku juga tak mau melebih-lebihkan.
“Van, boleh aku bertanya?” Tanya Raka. Aku hanya
menganggukkan kepalaku.
“Apa kau menyukai Edo?” Aku sontak menoleh ke arah
Raka. Astaga, apa lagi ini?
“Tidak! Atas dasar apa kau berkata seperti itu?”
“Kau pernah meminta foto Edo kan?” Tanyanya lagi
untuk memastikan.
Ingatanku kembali ke beberapa bulan yang lalu.
Otakku berputar memikirkan jawaban apa yang akan aku lontarkan.
“Aku tak meminta hanya mengantarkan temanku saja.”
Untuk kali ini aku jujur karena bingung mau berbohong bagaimana. “ Siapa yang
bilang itu kepadamu?”
“Edo.” Sekarang aku benar-benar kaget. Apa alasan
Edo sampai bilang seperti ke Raka? Dia tahu kan kalau aku dan Raka pacaran,
tapi kenapa dengan seenaknya mengarang cerita.
“Bilang ke Edo kalau aku tak menyukainya dan jangan
GR!” Pintaku lalu berlalu dari hadapan Raka. Aku benar-benar muak!
***
“Apa? Edo bilang seperti itu ke Raka?” Aku hanya
mengangguk menjawab pertanyaan Andah.
“Ndah, aku benar-benar sebal dengan makhluk bernama
Raka.” Ucapku.
“Sabar Van. Mungkin kau harus mandi kembang untuk
buang sial.” Astaga, di saat seperti ini Rere masih sempat menggila.
Keterlaluan sekali!
Ku rasakan ponselku bergetar. Dengan segera aku
mengambilnya.
From
: Tian
Van,
aku akan ke rumahmu, pastikan kau ada di sana. OK!
“Kau mau berselingkuh dari Raka?” Tanya Rere setelah
melihat isi pesan.
“Memangnya aku terlihat ingin selinngkuh.” Jawabku
sewot. “Ndah, kau kan kenal dengan Tian juga, nanti kau harus ke rumahku. Aku
tak mau hanya mengobrol berdua. Itu pasti sangat membosankan.” Paksaku pada
Andah.
“Baiklah. Lagipula aku sudah tahu rencana Tian yang
akan main. Tenanglah dia juga tak sendirian kok.” Jelas Andah.
“Maksudmu?”
“Dia akan mengajak temannya. Katanya sih kakak kelas
kita namanya Yudha.” Jawab Andah.
***
Sekarang aku , Andah, Tian dan Yudha sedang
bercakap-cakap di depan rumahku. Ah tidak, tepatnya aku dan Yudha saja karena
Andah dan Tian hanya diam dari tadi.
“Jadi kau sudah punya pacar Van?” Tanya Yudha.
“Begitulah. Namanya Raka. Kau kenal?”
“Iya aku mengenalnya. Astaga Van, kau kenapa bisa
pacaran dengannya?” Ucap Yudha dengan nada sedikit meremehkan. Astaga, tak
sadarkah dia, Raka saja masih lebih baik dari dia. Dasar menyebalkan!!
“Yud, kita pulang sekarang ! Aku lupa kalau ada janji
dengan teman.” Ajak Tian.
“Baiklah. Kalau begitu kita pulang dulu Van , Ndah.”
Pamit tian dan juga Yudha.
“Bagaimana sifat Yudha?” Tanya Andah sepeninggal
mereka.
“Menyebalkan.” Jawabku singkat.
***
Satnite. Tak ada perbedaan dengan waktu aku jomblo.
Raka dilarang keluar malam oleh orang tuanya karena mendekati UN. Sebenarnya
aku juga tak mengharapkan Raka datang. ya, beginilah nasib orang yang pacaran
karena kasihan? Kalau boleh jujur, aku memang tak pernah mengharapkannya datang
ke rumahku, sebisa mungkin dia tak boleh tahu apapun tentangku.
Ku lihat benda biru yang tergeletak di meja
belajarku. Ada satu pesan dari Yudha.
From
: Yudha
Aku
sudah di depan rumahmu. Ayo kita keluar
Aku segera berganti baju dan menghampiri Yudha.
Entah apa yang ada di pikiranku, begitu saja menerima ajakan Yudha. Masalah
raka? Aku sama sekali tak takut Raka akan marah padaku. Raka sangat baik padaku,
namun aku tak tahu kalau saja dia sering memendam marahnya. Aku tak ingin ambil
pusing.
Aku hanya ke Mall dengan Yudha. Benar-benar sebentar
karena kami hanya 15 menit di sana. Aku tak suka pergi dengannya. Dia selalu
ingin tahu masalahku dan aku benci itu. Memangnya dia pikir, dia siapa? Ck!
Ku hempaskan badanku di ranjang. Belum sempat aku
memejamkan mata. Andah mengirimkan pesan untukku.
From
: andah
Kau
pergi dengan Yudha? Astaga, kau khilaf? Walaupun kau tak menyukai Raka dan
Yudha, aku lebih setuju kalau kau dengan Raka. Yudha itu terlau sok.
Setelah membaca pesan dari Andah, aku meletakkan
ponselku begitu saja. Tak ada niat untuk membalas.
***
Baru saja aku ingin duduk dengan Rere, Dita
menghampiiriku.
“Vani, Raka ingin menemuimu.” Ucap Dita.
“Kenapa dia tak kesini atau menghubungiku saja?”
“Entahlah.”
Aku menghampiri Raka yang sedang duduk di bawah
tangga. Dia tersenyum melihat kedatanganku, selalu senyum yang tak pernah aku
balas.
“Sorry.” Ucapnya saat aku duduk di sampingnya.
“Untuk apa?” tanyaku bingung.
“Tak bisa mengajakmu jalan.” Jawabnya tanpa
melihatku. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan tangan yang disimpan di saku
celana.
“Aku tak pernah mempermasalahkannya. Lagipula aku
juga tak begitu suka keluar.” Ucapku santai.
“Kemarin kau pergi dengan Yudha kan?” Tanyanya
dengan tetap lembut.
Aku mengangguk.” Hanya sebentar.” Jawabku tanpa
merasa bersalah. Memangnya apa salahku? Aku benar-benar tak peduli jika
seandainya Raka langsung memutuskanku, bukankah itu lebih baik?
“Kau mau kita putus?” Tanyanya yang membuatku bingung.
Aku memang ingin ini tapi hubungan kami baru 2 minggu dan aku sudah berniat
memutuskannya setelah ujian.
“Kita jalani saja dulu.” Kata-kata itu begitu saja
trlontar dari mulutku. Kata-kata yang ku kutuki. Bodoh kau Vani! Bukankah itu
kesempatanmu untuk bisa lepas darinya? Ah, tapi aku tak tega.
Dia tersenyum ke arahku. rambutku di acaknya pelan
lalu dia berjalan menuju kelasnya. Sedangkan aku? Aku terduduk di tangga.
Kenapa seperti ini lagi? Tak sengaja aku melihat Yudha.
“Yudha!” panggilku. Dengan segera dia menghampiriku.
“Ada apa van?” Tanyanya.
“Kau bilang pada Raka kalau kita baru keluar?”
“Iya.” Jawabnya dengan santai dan terlihat bahwa dia
tak merasa bersalah.
“Aku tak suka.” Ucapku lalu meninggalkannya.
***
Sudah satu bulan ini hubunganku dan Raka agak
renggang. Dia semakin sibuk apalagi minggu lalu dia UN dan aku tak ingin
mengganggunya. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Raka tak tahu karena aku tak
pernah mau memberitahunya hari kelahiranku. Bukankah aku sudah bilang kalau aku
menutup diri darinya.
“Happy birthday Vani!!! Semoga kau cepat putus
dengan Raka ya!!” Ucap Andah dan Rere serempak sambil menjabat tanganku.
Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Beberapa siswa
satu kelas kami yang melihat pasti heran dengan doa yang di panjatkan
sahabatku, tapi apa peduliku. Aku sangat mengamini do’a sahabat-sahabatku,
mereka lebih mengerti aku daripada anak-anak di kelasku yang lain.
“Van, ayo kita lihat pameran kelas XII!” Ajak Rere.
Aku
menggeleng lemah. “Aku tak ingin bertemu dengan Raka, Yudha, Edo dan
semuanya.” Ucapku sambil meletakkan kepalaku di meja.
“Apa kau punya rencana?” Tanya Andah.
“Aku ingin memutuskan Raka.” Jawabku
“Kenapa tak sekarang saja?” Tanya rere dengan
bersemangat.
“Aku tak berani.”
“Kasian juga Raka.” Gumam Andah.
“Hey! Kalian tak kasian padaku? Aku masih belum bisa
menyukainya.” Protesku.
“Terserah kau saja. Kami hanya mendukung.”
*****************************************************************************
EPILOG
To
: Raka
Aku
ingin kita putus.
From
: Raka
Kenapa?
Aku ada salah?
To
: Raka
Bukan.
Kau baik. Aku hanya ingin fokus pada sekolah. Sebentar lagi aku kelas 3.
From
: raka
Aku
akan menunggumu.
To
: raka
Tak
perlu. Maaf kalau aku punya salah. Tapi aku yakin pasti punya. Kau boleh
membenciku tapi jangan terlalu lama.
END
Tidak ada komentar :
Posting Komentar