Blogger Widgets

Label

Jumat, 24 Mei 2013

Sorry, I Don't Love You





PROLOG
“Astaga, Azkar semakin hari semakin tampan.” Pujiku sambil menopang dagu sedangkan pandanganku tertuju pada pria yang sedang bermain volly.
“Edo juga. Semakin hari semakin cool apalagi jika dia bermain basket.” Timpal Andah.
“Harry... dengan melihatnya berjalan saja aku sudah terpesona.” Ucap Rere. “Kira-kira mereka sudah punya pacar belum ya?”
“Aku tak tahu. Azkar terlalu tertutup tapi dengar-dengar dia adalah mantannya Tika.” Jawabku dengan lesu.
“Tika kakak kelas kita yang populer satu tingkat di atas Azkar?” Tanya Rere memastikan dan langsung ku jawab dengan anggukan.
“kalau Edo satu kelas dengan mantannya.” Andah menghela napas kasar.
“Hemmm. Kalau aku masih heran dengan Harry. Dia kan tampan tapi mantannya tak lebih cantik dari aku hahahaha..” Ucap Rere dengan percaya diri namun ku akui hal itu benar adanya.
***************************************************************
Namaku, Vani. Dua orang di samping kanan kiriku adalah Andah dan Rere, mereka teman baikku sejak SD sampai sekarang kita kelas XI dan yang lebih mengasyikan kita sekelas. Kau tahu apa yang kami  lakukan? Sudah jelas, kami sedang memandangi  kakak tingkat yang menjadi pujaannya hati kita.
“Vani, Raka memintamu untuk menemuinya di kelasnya. “ Ucap Dita yang tiba-tiba menghampiri kami bertiga di teras kelas. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ku lihat Dita kembali masuk kelas dan sibuk dengan ponselnya. Ku hembuskan napasku kasar. Sungguh sebenarnya aku tak berniat menemui Raka.
“hey,kau tak menemuinya?” Tanya Andah.
“Aku malas.” Ucapku sekenanya.
“Temui saja dia. Kau tak kasihan, dia sangat mengharapkanmu?” timpal Rere.
“Bicara apa kau?”
“sudahlah, terlihat jelas kalau dia menyukaimu. Bukankah Raka mengenal Azkar, mungkin kau bisa meminta bantuannya untuk dekat dengan Azkar.” Usul Andah.
“Hey aku tak setega itu memanfaatkannya.” Sungguh walaupun aku menyukai Azkar  tapi aku tak akan memakai cara segila itu. Lagipula, mau di taruh mana harga diriku kalau meminta bantuan untuk dekat dengan pria.
“haha aku tahu.” Ucap Andah disertai kekehannya yang kadang membuatku sebal.

Aku beranjak dari tempatku dan menuju kelas Raka dengan malas. Sesampainya di sana, aku melihat dia sedang duduk sendiri.
“Ada apa kau memanggilku?” Tanyaku sambil duduk di depannya.
“Kau tak suka? Apa aku mengganggu acaramu?” tanyanya.
Aku menggeleng lemah. “Aku sedang tak ada kegiatan tadi.”
“Baguslah. Aku pikir kau ada remidi atau classmeeting.”
“Aku tak remidi dan aku juga tak bisa berkontribusi apa-apa dalam classmeeting. Aku payah dalam berolahraga.” Jelasku.
Raka tersenyum mendengar penuturanku. “kau pintar juga, sipit.” Ucapnya sambil mengacak pelan rambutku.
“Ayolah jangan panggil aku seperti itu.” Rajukku. Memang, aku tak suka di panggil sipit. Ku rasa mataku tak begitu sipit.
“Baiklah. Kau apa kabar?” Tanyanya berbasa-basi. Astaga, aku tak suka ini.
“seperti yang kau lihat. Oh ya, apa tak sebaiknya kita bicara di luar saja?” Usulku karena di kelas hanya ada aku dan dia. Aku tak mau kalau sampai ada yang melihatnya dan mengira kita macam-macam.
Raka menggeleng.”aku ingin berbicara padamu.” Ish! Mengapa dia tak mengerti maksudku. Sekarang aku benar-banar berharap tak ada yang melihat kita berduaan.
“Bicaralah. Aku ingin segera pulang dan tidur!”
“kau sakit?” Raka meletakkan punggung tangan di dahiku.
Aku segera menyingkirkan tangan Raka. “aku tak sakit. Hanya sedikit mengantuk.”
Raka meraih tanganku dan menatapku lekat.” Aku menyukaimu. Kau mau jadi kekasihku?” Tanyanya dengan serius.
Aku menarik tanganku dan menunuduk. Sebenarnya aku sudah merasa kalau dia menyukaiku tapi aku tak bisa. Aku ingin yang mengucapkan ini Azkar. Aku tak tega untuk menolaknya, dia terlalu baik. Rasanya aku menyesal telah berada di sini dengannya, ingin sekali waktu diputar sampai aku tak harus mengenalnya dan serba salah seperti ini.
“Beri aku waktu satu minggu.” Ucapku pada akhirnya.
“baiklah.”
***

Aku memasuki kelas dengan lesu. Ku lihat Andah dan Rere yang sudah siap mengintrogasiku. Aku segera duduk di sebelah Rere lalu menopang  daguku dengan tangan.
“Kau diapakan oleh Raka?” Tanya Andah.
“Dia menembakku dan aku meminta waktu satu minggu.” Jawabku frustasi sambil menutup mukaku dengan telapak tangan.
“Kau akan memikirkannya? “ Tanya Rere.
“Entahlah, aku sibuk. Kalian tahu kan kalau minggu depan aku ada olimpiade fisika.” Jawabku sambil menyenderkan kepala di bahu Rere.
“Kalau kau tak suka kau bisa menolaknya, bukan?” Ucap Rere sambil menepuk pelan bahuku.
“Aku tak tega.”
“Lalu kau akan menerimanya?” Tanya andah.
“Entah. Aku bingung, rasanya ini lebih sulit dari pada menggambar.”
“Van, apa kau mau menemaniku mengambil foto Edo?” Tanya Andah tiba-tiba.
Aku kembali menegakkan badanku.” Maksudmu kita menjadi paparazi?”
“Bukan. Kita memintanya nanti pulang sekolah.” Jawab Andah.
“Kita? Kau saja yang meminta, aku hanya menemani.”
“sudah biar aku saja yang meminta.” Ucap Rere menengahi.
“hey, setahuku Edo pulang dengan jalan kaki. Ini kan bulan puasa, kalau aku dan Andah tak jadi masalah tapi kalau kau?” aku mengalihkan pandanganku ke Rere.
“Aku kuat kok. Tenanglah aku tak akan pingsan.” Jelas Rere.
“Aaaa kau baik sekali Rere.” Andah sontak memeluk Rere dengan erat. Aku hanya melihat geli tingkah mereka, betapa menyenangkan menjadi mereka.

***

Seperti yang telah direncanakan, hari ini kami bertiga sedang menguntit Edo. Beberapa kali kami kehilangan jejaknya namun dengan segera kami dapat menemukannya kembali. Sudah sekitar 15 menit kami melakukan ini, rasanya tenggorokanku berontak minta diisi air. Aku memperhatikan raut wajah Rere.
“Re, kau tak merasa haus?” Tanyaku.
“Sedikit tapi ini sudah biasa ku alami kalau puasa.” Jawabnya dengan santai.
“Ah itu dia!” seru Dita yang melihat Edo.
“Ya udah ayo sekarang.” Ajak Rere.
“kalian saja, aku capek. Sebaiknya aku berteduh saja.” Ucapku sambil menuju masjid.
Dari masjid aku melihat mereka berbicara dengan Edo. Astaga, berani sekali mereka. Tak lama kemudian, mereka menghampiriku. Tapi kenapa cepat sekali, apa mereka sudah berhasil?
“Bagaimana hasilnya?” Tanyaku penasaran.
“Dia tak mau.” Jawab Andah lesu.
“Kurasa Edo terlalu malu untuk berpose di depan kita.” Timpal Rere.
“Yasudah lah ayo kita pulang saja.” Ajakku karena cuaca memang semakin terik. Ah, aku tak tega melihat Rere.
***

Hari ini aku benar-benar belajar dengan keras karena besok akan mengikuti lomba. Ini berarti satu minggu sudah sejak Raka menembakku.
seharian ini Raka tak mengirim pesan untukku. Ya sudahlah, aku mau tak memusingkannya. Sekilas ku lihat dia menatapku dengan pandangan yang sulit di artikan. Oh ayolah, aku tak mungkin menghampirinya kalau dia sedang bersama teman-temannya.

“Kak Vani, kau dipanggil Bu Lusi untuk TM buat lomba besok.” Ajak salah seorang temanku yang juga ikut lomba. Sebenarnya kami satu tingkat namun entah mengapa dia suka memanggilku ‘kak’, mungkin karena dia beberapa bulan di bawahku.
“Baiklah.” Aku segera menyusulnya ke perpustakaan tanpa memperhatikan Raka lagi.

Selesai TM aku benar-benar lelah karena tadi kami sempat belajar materi untuk besok. Aku segera masuk ke kelas untuk mengambil tasku. Rasanya ingin sekali pulang dan tidur.

“Hey Van, kau tak menemui Raka?” Tanya Andah.
“Aku capek dia juga tak memintaku untuk menemuinya .” Jawabku sambil membereskan mejaku.
“Kau tak kasian padanya?”  Tanya Rere.
“Aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan istirahat karena besok aku sudah harus sampai sekolah jam 6 pagi.” Aku segera keluar kelas dan disusul oleh Andah dan Rere.
***

Sudah satu bulan aku tak berhubungan dengan Raka. Ah, ini lebih baik daripada dia menanyakan jawabanku bulan lalu. Aku juga sudah mulai melupakannya dan aku rasa dia juga. Beberapa bulan lagi dia akan mengikuti UN, mungkin dia ingin fokus dulu.
Aku tiduran di kamar sambil curhat dengan Andah. Aku memang lebih dekat dengan Andah karena dia sepupuku dan rumah kami berdekatan. Di tengah acara curhat, ponselku bergetar.
From : Raka
Apa kabar, Van? Kau tahu aku masih menunggu jawabanmu.
Setelah menerima pesan itu, aku menoleh ke Andah. Dengan segera merebut ponsel dari tanganku.
“Lau apa jawabanmu?” Tanya Andah.
“Mungkin aku akan menerimanya.” Jawabku.
“Kau serius?” Andah nampak tak percaya dengan ucapanku.
“Hanya sementara sampai dia selesai UN.” Jelasku.
To : Raka
Aku akan menerimamu kalau kau bukan perokok.
Tak lama ponselku kembali bergetar.
From :Raka
Aku tak akan merokok untukmu

Aku menghembuskan napasku kasar.” Apa ini artinya aku sudah pacaran?” Sontak aku menenggelamkan wajahku di antara tumpukan bantal. Ini benar-benar nightmare!

***
Satu minggu sudah aku menjalin hubungan dengan Raka. Sebenarnya tak ada bedanya hanya status kami yang berbeda. Aku tetap bersikap biasa dengannya, tak ada rasa yang lebih dan aku juga tak mau melebih-lebihkan.
“Van, boleh aku bertanya?” Tanya Raka. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Apa kau menyukai Edo?” Aku sontak menoleh ke arah Raka. Astaga, apa lagi ini?
“Tidak! Atas dasar apa kau berkata seperti itu?”
“Kau pernah meminta foto Edo kan?” Tanyanya lagi untuk memastikan.
Ingatanku kembali ke beberapa bulan yang lalu. Otakku berputar memikirkan jawaban apa yang akan aku lontarkan.
“Aku tak meminta hanya mengantarkan temanku saja.” Untuk kali ini aku jujur karena bingung mau berbohong bagaimana. “ Siapa yang bilang itu kepadamu?”
“Edo.” Sekarang aku benar-benar kaget. Apa alasan Edo sampai bilang seperti ke Raka? Dia tahu kan kalau aku dan Raka pacaran, tapi kenapa dengan seenaknya mengarang cerita.
“Bilang ke Edo kalau aku tak menyukainya dan jangan GR!” Pintaku lalu berlalu dari hadapan Raka. Aku benar-benar muak!

***

“Apa? Edo bilang seperti itu ke Raka?” Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Andah.
“Ndah, aku benar-benar sebal dengan makhluk bernama Raka.” Ucapku.
“Sabar Van. Mungkin kau harus mandi kembang untuk buang sial.” Astaga, di saat seperti ini Rere masih sempat menggila. Keterlaluan sekali!
Ku rasakan ponselku bergetar. Dengan segera aku mengambilnya.

From : Tian
Van, aku akan ke rumahmu, pastikan kau ada di sana. OK!

“Kau mau berselingkuh dari Raka?” Tanya Rere setelah melihat isi pesan.
“Memangnya aku terlihat ingin selinngkuh.” Jawabku sewot. “Ndah, kau kan kenal dengan Tian juga, nanti kau harus ke rumahku. Aku tak mau hanya mengobrol berdua. Itu pasti sangat membosankan.” Paksaku pada Andah.
“Baiklah. Lagipula aku sudah tahu rencana Tian yang akan main. Tenanglah dia juga tak sendirian kok.” Jelas Andah.
“Maksudmu?”
“Dia akan mengajak temannya. Katanya sih kakak kelas kita namanya Yudha.” Jawab Andah.

***

Sekarang aku , Andah, Tian dan Yudha sedang bercakap-cakap di depan rumahku. Ah tidak, tepatnya aku dan Yudha saja karena Andah dan Tian hanya diam dari tadi.
“Jadi kau sudah punya pacar Van?” Tanya Yudha.
“Begitulah. Namanya Raka. Kau kenal?”
“Iya aku mengenalnya. Astaga Van, kau kenapa bisa pacaran dengannya?” Ucap Yudha dengan nada sedikit meremehkan. Astaga, tak sadarkah dia, Raka saja masih lebih baik dari dia. Dasar menyebalkan!!
“Yud, kita pulang sekarang ! Aku lupa kalau ada janji dengan teman.” Ajak Tian.
“Baiklah. Kalau begitu kita pulang dulu Van , Ndah.” Pamit tian dan juga Yudha.

“Bagaimana sifat Yudha?” Tanya Andah sepeninggal mereka.
“Menyebalkan.” Jawabku singkat.

***

Satnite. Tak ada perbedaan dengan waktu aku jomblo. Raka dilarang keluar malam oleh orang tuanya karena mendekati UN. Sebenarnya aku juga tak mengharapkan Raka datang. ya, beginilah nasib orang yang pacaran karena kasihan? Kalau boleh jujur, aku memang tak pernah mengharapkannya datang ke rumahku, sebisa mungkin dia tak boleh tahu apapun tentangku.
Ku lihat benda biru yang tergeletak di meja belajarku. Ada satu pesan dari Yudha.
From : Yudha
Aku sudah di depan rumahmu. Ayo kita keluar

Aku segera berganti baju dan menghampiri Yudha. Entah apa yang ada di pikiranku, begitu saja menerima ajakan Yudha. Masalah raka? Aku sama sekali tak takut Raka akan marah padaku. Raka sangat baik padaku, namun aku tak tahu kalau saja dia sering memendam marahnya. Aku tak ingin ambil pusing.

Aku hanya ke Mall dengan Yudha. Benar-benar sebentar karena kami hanya 15 menit di sana. Aku tak suka pergi dengannya. Dia selalu ingin tahu masalahku dan aku benci itu. Memangnya dia pikir, dia siapa? Ck!

Ku hempaskan badanku di ranjang. Belum sempat aku memejamkan mata. Andah mengirimkan pesan untukku.

From : andah
Kau pergi dengan Yudha? Astaga, kau khilaf? Walaupun kau tak menyukai Raka dan Yudha, aku lebih setuju kalau kau dengan Raka. Yudha itu terlau sok.

Setelah membaca pesan dari Andah, aku meletakkan ponselku begitu saja. Tak ada niat untuk membalas.

***
Baru saja aku ingin duduk dengan Rere, Dita menghampiiriku.
“Vani, Raka ingin menemuimu.”  Ucap Dita.
“Kenapa dia tak kesini atau menghubungiku saja?”
“Entahlah.”

Aku menghampiri Raka yang sedang duduk di bawah tangga. Dia tersenyum melihat kedatanganku, selalu senyum yang tak pernah aku balas.
“Sorry.” Ucapnya saat aku duduk di sampingnya.
“Untuk apa?” tanyaku bingung.
“Tak bisa mengajakmu jalan.” Jawabnya tanpa melihatku. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan tangan yang disimpan di saku celana.
“Aku tak pernah mempermasalahkannya. Lagipula aku juga tak begitu suka keluar.” Ucapku santai.
“Kemarin kau pergi dengan Yudha kan?” Tanyanya dengan tetap lembut.
Aku mengangguk.” Hanya sebentar.” Jawabku tanpa merasa bersalah. Memangnya apa salahku? Aku benar-benar tak peduli jika seandainya Raka langsung memutuskanku, bukankah itu lebih baik?
“Kau mau kita putus?” Tanyanya yang membuatku bingung. Aku memang ingin ini tapi hubungan kami baru 2 minggu dan aku sudah berniat memutuskannya setelah ujian.
“Kita jalani saja dulu.” Kata-kata itu begitu saja trlontar dari mulutku. Kata-kata yang ku kutuki. Bodoh kau Vani! Bukankah itu kesempatanmu untuk bisa lepas darinya? Ah, tapi aku tak tega.
Dia tersenyum ke arahku. rambutku di acaknya pelan lalu dia berjalan menuju kelasnya. Sedangkan aku? Aku terduduk di tangga. Kenapa seperti ini lagi? Tak sengaja aku melihat Yudha.
“Yudha!” panggilku. Dengan segera dia menghampiriku.
“Ada apa van?” Tanyanya.
“Kau bilang pada Raka kalau kita baru keluar?”
“Iya.” Jawabnya dengan santai dan terlihat bahwa dia tak merasa bersalah.
“Aku tak suka.” Ucapku lalu meninggalkannya.


***
Sudah satu bulan ini hubunganku dan Raka agak renggang. Dia semakin sibuk apalagi minggu lalu dia UN dan aku tak ingin mengganggunya. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Raka tak tahu karena aku tak pernah mau memberitahunya hari kelahiranku. Bukankah aku sudah bilang kalau aku menutup diri darinya.
“Happy birthday Vani!!! Semoga kau cepat putus dengan Raka ya!!” Ucap Andah dan Rere serempak sambil menjabat tanganku.
Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Beberapa siswa satu kelas kami yang melihat pasti heran dengan doa yang di panjatkan sahabatku, tapi apa peduliku. Aku sangat mengamini do’a sahabat-sahabatku, mereka lebih mengerti aku daripada anak-anak di kelasku yang lain.
“Van, ayo kita lihat pameran kelas XII!” Ajak Rere.
Aku  menggeleng lemah. “Aku tak ingin bertemu dengan Raka, Yudha, Edo dan semuanya.” Ucapku sambil meletakkan kepalaku di meja.
“Apa kau punya rencana?” Tanya Andah.
“Aku ingin memutuskan Raka.” Jawabku
“Kenapa tak sekarang saja?” Tanya rere dengan bersemangat.
“Aku tak berani.”
“Kasian juga Raka.” Gumam Andah.
“Hey! Kalian tak kasian padaku? Aku masih belum bisa menyukainya.” Protesku.
“Terserah kau saja. Kami hanya mendukung.”
*****************************************************************************
EPILOG
To : Raka
Aku ingin kita putus.

From : Raka
Kenapa? Aku ada salah?

To : Raka
Bukan. Kau baik. Aku hanya ingin fokus pada sekolah. Sebentar lagi aku kelas 3.

From : raka
Aku akan menunggumu.

To : raka
Tak perlu. Maaf kalau aku punya salah. Tapi aku yakin pasti punya. Kau boleh membenciku tapi jangan terlalu lama.

END

Tidak ada komentar :

Posting Komentar