Haloo aku bawa cerpen. Jangan di copast ya. Kalau
ada kesamaan itu adalah ketidaksengajaan. Sedikit terinspirasi oleh lagunya Rio
Febrian yang Bertahan.
Sepasang kekasih nampak sedang menikmati hidangan di
salah satu restauran yang menyajikan chinese food sore itu. Tak nampak wajah
gembira di antara keduanya, yang terlukis hanyalah raut sedih dan kecewa
.
.
“Jadi, mau kamu bagaimana?” sang pria mencoba untuk
memulai pembicaraan di antara mereka. Gadis berambut panjang yang berada di
depannya meletakkan sumpit yang tadi di genggamnya dan menatap intens ke mata
kekasihnya.
“Seharusnya aku yang bilang begitu.” Jawab sang
gadis dengan dingin.
“Vega, harus berapa kali aku bilang? Vina itu
sahabat aku dari kecil jadi wajarlah kalau aku dekat dengannya. Kita hanya
sahabat, no more! Kamu jangan terlalu cemburu gitu dong!” Pria berambut hitam itu mencoba memberi pengertian kepada
kekasihnya.
“Tapi kamu terlalu berlebihan, Rangga.” Rajuk Vega.
“Berlebihan bagaimana?”
“Kamu terlalu dekat dengan Vina. Aku tak suka!” Vega
melipat tangannya didepan dada dan mengerucutkan bibirnya.
“Dengarkan aku! Vina sahabatku dan kau kekasihku!
Aku tak kan berpaling darimu.” Rangga meraih jemari Vega dan menautkannya
dengan jarinya.
“Kalau aku memintamu untuk menjauhi Vina, apa kau
mau?” Pinta Vega dengan egoisnya.
“Permintaan macam apa itu? Jelas saja aku tak bisa!”
Tolak Rangga.
“Kalau begitu kau lebih memilih putus denganku!”
Vega menarik tangannya dari genggaman Rangga.
Rangga menarik napas panjang dan menhembuskannya
perlahan. Sungguh itu adalah keputusan yang sulit baginya. Di satu sisi dia
sangat mencintai Vega, gadis manja yang mampu membuatnya bertekuk lutut tapi
untuk menjauh dari Vina bukanlah hal mudah baginya. Vina sahabatnya dari kecil,
bahkan Rangga sudah menganggap Vina sebagai saudaranya sendiri dan
menyayanginya sebagai adik.
“bisakah kau tak cenburu dengan Vina.” Mohon Rangga
walaupun dia tahu bahwa hal itu sangatlah kecil kemungkinannya.
“No!” Jawab Vega singkat.
***
Tampak seorang pemuda sedang berdiri di balkon kamarnya
dengan perasaan gelisah. Beberapa kali dia mengacak-acak rambutnya berharap
pikirannya bisa kembali jernih. Tangannya pun tak berhenti megutak-atik
handphone yang sedari tadi di genggamnya berharap benda itu memberi kabar
tentang pujaan hatinya. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya dia mengirim
sebuah pesan singkat kepada orang yang telah membuatnya gelisah.
To : LoVega
U
get it, Dear.
Tepat dugaannya, selang beberapa menit handphone
bergetar menandakan kalau ada sebuah panggilan masuk. Tanpa pikir panjang
pemuda itu langsung mengangkatnya.
“Thanks,
sayang. Aku tahu kau pasti akan lebih memilihku dibaanding dengan Vinna
sahabatmu itu.” Ucap Vega tanpa memberi salam terlebih dahulu. Inilah yang dia
inginkan, Rangga memilihnya.
“Yah.
Kau tahu itu tapi kenapa kau masih menanyakannya?”
“Aku
hanya ingin memastikan perasaanmu kepadaku.” Jawab Vega santai.
“Kau
meragukanku? Hash, sudahlah. Ini sudah malam kau tidurlah.” Suruh Rangga.
“Good
nite sayang, i love u.”
“Love
u too”
Pemuda yang tak lain adalah Rangga itu tak habis
pikir. Bisa-bisanya wanita yang telah 1 tahun menjadi kekasihnya itu meragukan
perasaannya.
“Rangga, boleh aku masuk?” Tanya seorang gadis yang
berada di balik pintu.
“Ya, masuklah! Pintunya tak di kunci.”
‘Ceklek’ seorang gadis bertubuh mungil menghampiri
Rangga.
“kau sedang ada masalah?” tanya sang gadis yang
hanya di jawab anggukan lemah oleh Rangga.
“Biar ku tebak. Pasti Vega.” Bingo! Tebakan yang
sangat tepat.
“Kau benar Vin. Dia cemburu denganmu dan menyuruhku
untuk menjauhimu. Kau tahu aku sangat mencintainya dan..”
“Walaupun kau menjauhiku, percayalah aku masih
menganggapmu sebagai sahabat dan kakakku. Kau harus mengejar cintamu, Rangga!
Aku yakin suatu saat nanti Vega pasti akan mengerti.” Ucap Vina dengan
bijaksana.
Rangga sontak memeluk tubuh mungil Vina. Dia tak
tahu harus berkata apa kepada sahabatnya itu. “Maaf..” Ucap Rangga lirih. Ya,
hanya itulah yang mampu di ucapkannya.
Vina menepuk pelan pundak Rangga dan melepaskan
pelukannya. “Aku datang kesini untuk berpamitan denganmu.” Ucap Vina.
“Kau mau pergi? Please, jangan pergi!” Mohon Rangga.
“Saat pertama kali aku bertemu dengan Vega, aku
sudah merasa bahwa dia tak menyukaiku. Aku, tahu kau sangat mencintainya dan
aku tak ingin membuat hubungan kalian hancur.”
“tapi kau tak perlu sampai begini. Aku janji, aku
akan membuat Vega dapat menerimamu dengan baik.” Rangga berusaha menyakinkan
sahabatnya itu.
“Sebenarnya itu bukan satu-satunya alasanku. Kau
tahu, aku mendapat beasiswa untukkuliah di Singapore. Itulah impianku sejak
dulu.” Jelas Vina dengan wajah ceria. Dia tak ingin membuat Rangga merasa
bersalah walaupun jauh di lubuk hatinya, Vina juga merasa sedih harus berpisah
dengan Rangga.
***
Hubungan Rangga dengan Vega akhir-akhir ini sedang
merenggang. Vega susah untuk dihubungi dan terkesan menghindarinya. Siang itu
Vega meminta Rangga untuk menemuinya di Cafe HEE! Ajakan itu tentu disambut
antusias oleh Rangga.
“Kamu kenapa sih Vega, akhir-akhir ini susah banget
di hubungin?” tuntut Rangga.
“maaf.” Jawab Vega.
“Bukan maaf yang aku butuhin. Aku butuh penjelasan,
sayang. Kamu sedang ada masalah?” Tanya Rangga yang menyadari raut sedih yang
sedang menghiasi wajah cantik kekasihnya itu.
“Aku dijodohin Rangga.” Jelas Vega.
“APAA!” seperti tersengat ribuan volt listrik.
Rangga sangat kaget mendengar hal itu. Dia tak mau bila harus berpisah dengan
kekasihnya.
“Kita putus saja ya.” Pinta Vega.
“Aku akan perjuangin cinta kita Vega. percaya sama
aku!” Rangga mengenggam erat jemari Vega.
Vega menarik tangannya. “maaf Rangga. Aku .. aku
dijodohin sama Morgan dan dia adalah .. cinta pertamaku.” Ucap Vega dengan
menundukkan kepalanya.
“Tega ya kamu. Aku sudah rela meninggalkan Vina,
sahabatku dan sekarang? Ini balasnmu? IYA?” bentak Rangga yang diiringi dengan
senyum sinisnya.
“Maafin aku Rangga.” Pinta Vega.
“Simpan maafmu! Aku tak butuh! Semoga kau bahagia
Vega!” rangga meninggalkan Vega dengan perasaan yang tak tergambarkan pedihnya.
Di dalam hatinya dia sedang menertawakan tindakannya yang bodoh selama ini.
Yang rela diperalat oleh gadis manja seperti Vega.
“Brengsek!” umpat Rangga.
End
Gantung kan ? emang. Tapi ini benar-benar ending.
Gimana? Mengecewakan? Ini hasil pemikiran selama 10 menit. Buat cerbung2,
bakalan aku post kalo ga akhir september ya awal oktober. Kritik dan sarannya
ya, no bully. J
@ferafany
Tidak ada komentar :
Posting Komentar