Blogger Widgets

Label

Rabu, 04 September 2013

It's Okay, Dear part 4



Steve memperhatikan Debby yang sedang tidur. Wajah gadis itu sangat polos, membuatnya gemas. Dulu -7 tahun yang lalu- saat ia untuk pertama kalinya melihat Debby, rasa penasaran akan gadis itu sudah menyelimutinya.

Steve sangat marah, ia kecewa dengan orang tuanya. Bisnis yang dijalani mereka tak memungkinkan Steve untuk tinggal bersama karena selalu berpindah-pindah tempat dan sebagai imbasnya Steve harus tinggal dengan Bibi Han.

Hari pertama, ia tak mempunyai teman. Setelah selesai mendaftar di SMP, ia langsung menuju kamar dan tak ada kegiatan menarik untuk dilakukan.

“Steve, kau mau ikut Bibi bekerja?” tanya Bibi Han dari ambang pintu kamar Steve.

Steve berdecak malas, “Memangnya aku bisa bermain di tempat kerja?” Ucap Steve tanpa minat.

Bibi Han tersenyum, ia mengerti perasaan keponakannya yang masih kecewa. Dengan pasti ia mendekat ke Steve. “Pemilik toko kue tempat Bibi bekerja punya anak perempuan yang sepantaran denganmu, nanti Bibi akan mengantarkanmu ke rumahnya agar kalian bisa bermain bersama.”

Steve mengalihkan pandangannya ke Bibi Han sepertinya ia sedikit tertarik dengan ajakan itu, tapi ia kemudian menyela, “Apa yang bisa kumainkan dengan anak perempuan?”

“Debby anak yang menyenangkan, Bibi yakin kalian bisa bermain bersama.”

Steve nampak berpikir sejenak. Usulan Bibinya tak buruk, siapa tahu anak perempuan itu memang menyenangkan. Dan lagi, ia tak mau hanya berdiam di rumah. “Baiklah..”
***
Steve telah sampai di depan rumah Debby dengan diantar Bibi Han. Ia memperhatikan rumah itu, tak lebih besar jika dibanding dengan rumah orang tuanya namun ia tak mempermasalahkan hal itu.  Steve terperangah  saat melihat pintu rumah terbuka dan kemudian seorang gadis kecil berambut panjang berlari keluar.

“Bibi Han!” Seru gadis itu. Ia berhenti di depan Bibi Han dengan napas terengah, tangannya mengusap peluh yang membasahi dahi. “Bibi melihat Cipo?” Gadis itu menanyakan anak anjing peliharaannya yang lepas dari kandang.

“Bibi tidak melihat,” Bibi Han menggeleng .

“Ahhh Cipo, kemana kau?” Erang Gadis kecil itu frustasi. Ia sudah bolak-balik keluar masuk rumah namun anak anjingnya tetap tak ketemu. Kakinya benar-benar lemas dan ia terduduk begitu saja, matanya mulai berair –ia menangis.

“Sudahlah, jangan menangis. Nanti kita cari bersama Cipo atau kita bisa melaporkannya ke polisi,” ucap Steve yang dari tadi memperhatikan gadis itu.

Gadis itu mengusap air matanya dan menatap Steve garang, “Kau bodoh atau apa? Cipo itu anak anjing!” Sentaknya dengan diiringi tangis yang semakin keras.

“Steve, ini Debby. Debby, ini Steve. Keponakan Bibi, dia tidak tahu siapa itu Cipo , jadi maafkanlah dia.” Bibi Han memandang Debby dan Steve bergantian, mencoba memberi pengertian kepada dua bocah kecil di hadapannya.

Gadis kecil itu –Debby- menghentikan tangisnya. “Aku Debby,” ucapnya dengan sesenggukan. Rasa jengkelnya meluap sudah, kini berbalik menatap laki-laki kecil itu penuh minat. Ia selalu tertarik jika mengenal orang baru apalagi jika berteman dengannya.

Steve tak begitu mempedulikan emosi Debby yang cepat berubah dan membalas jabatan tangan Debby, “Aku Stevan, panggil saja Steve. Nanti kita cari anak anjingmu bersama, Okay?” tawar Steve.

Bibi Han tersenyum melihat keponakannya dan Debby. Sepertinya mereka bisa berteman dengan baik dan ia tak perlu mencemaskan Steve akan kesepian lagi. “Debby, bisakah kau menemani Steve bermain. Ia baru pindah ke kota ini dan belum mempunyai teman. Nanti setelah pulang dari toko kue ibumu, Bibi akan menjemputnya,” pinta Bibi Han.

Debby mengangguk mengerti, “Baiklah Bibi, lagi pula nanti aku akan mempunyai teman untuk mencari Cipo.”
***
Sepeninggal Bibi Han,  Debby dan Steve saling melihat dengan –masih- sedikit canggung. Steve tertarik pada Debby karena rambut panjangnya yang dikucir dua, ketika gadis itu berlari, rambutnya juga ikut bergerak ke sana kemari.

“Kau mau mencari anjingmu lagi?” tanya Steve yang dijawab anggukan oleh Debby. “Bagaimana ciri-cirinya?”

“Ekornya melingkar ke atas, tingginya sekitar 20 cm dan warnanya cokelat.” Debby nampak berpikir lagi, “ Ah, dia juga memakai kalung dengan tulisan Cipo’s Debora,” jelas Debby sebisanya.

“Debora?” Steve mengernyitkan dahinya.

“Itu namaku! Aku tak bisa mengucapkan ‘r’ sampai TK, jadi aku lebih suka dipangggil Debby.”

“Baiklah, ayo kita cari!” Tanpa aba-aba, Steve menarik tangan Debby dan membawa gadis itu menuju jalan.

Steve tersenyum mengingat kembali pertemuannya dengan Debby. Bagaimana merahnya hidung gadis itu saat menangis, bagaimana marahnya dan bagaimana lelahnya mencari Cipo yang tak pernah ketemu sampai sekarang.

Saat itu Steve berniat akan memberikan Debby anak anjing yang sejenis dengan Cipo, namun dengan tegas gadis itu menolaknya. Debby berkata akan sangat menyakitkan jika peliharaannya hilang lagi dan tak ketemu, lebih baik tak usah mempunyai hewan peliharaan.

“Hah.. dia tidur sangat pulas seperti aku tak ada di sini,” desah Steve. Ia mendekat ke ranjang Debby dan mendapati ponsel perempuan itu bergetar. “Deb.. bangunlah dan angkat ponselmu,” Debby tak bereaksi apa-apa dan membuat Steve mengangkat ponsel perempuan itu.

 “Halo...Ya, benar ini ponselnya...Dia sedang tidur, tinggalkan saja pesan dan aku akan menyampaikannya..”


Steve tak lagi mendapat jawaban dari si penelepon. “Aneh! Laki-laki itu menutup teleponnya tanpa meninggalkan pesan.” Steve menatap heran ponsel di tangannya, nama penelepon tak tercantum di sana.
***
Debby menggeliat di atas ranjang. Badannya terasa pegal, entahlah sudah berapa lama ia tidur, yang jelas sekarang rasa sakit di perutnya sudah menghilang. Debby menghentikan gerakan meretangkan tangannya sejenak, bukankah tadi ada Steve? Dimana dia? pikir Debby.

Dengan langkah yang masih gontai, Debby menuju pintu. Jam sekarang pasti ibunya belum pulang dan ia lapar, jadi tujuannya adalah ke dapur dan berharap ada sesuatu sudah siap makan. Pintu terbuka dan Debby mendapati seorang laki-laki berambut cokelat dengan kaos putih yang ditutupi oleh jaket yang senada dengan jeans yang dikenakan. Sungguh penampilan yang sederhana namun terlihat mewah dan istimewa saat yang memakai seorang...Richard Alfredo!


“Oh, memo?” Debby mengambil kertas kecil yang tertindih pulpen di meja belajarnya.

Aku pulang karena bosan. Kau tidur seolah-olah tak ada orang, apakah ini sambutan untuk teman yang sudah 4 tahun tak bertemu? Ah, sudahlah! Kau tak perlu menyesal membaca ini, cukup temani aku makan malam pukul 7. Steve.

“Memo dari Steve? Sampai jam berapa tadi dia menungguiku?” gumam Debby lalu kembali melanjutkan langkahnya ke dapur. “Harusnya kau mengajakku makan siang karena sekarang aku kelaparan,” protesnya pada memo yang ditinggalkan Steve.

***
Debby mencari  makanan di dapur dan harus puas saat ia hanya menemukan roti tawar yang selalu tersedia saat sarapan. Mau tak mau ia memakannya. Bukankah saat kita lapar makanan apa saja akan terasa enak? Ya! Debby merasa seperti itu dan ia sedang menghabiskan roti ketiganya saat bel pintu menginterupsi.

“Astaga, siapa yang bertamu di saat makan siang? Tak bisakah ia datang setengah jam lagi?” Sungut Debby lalu berjalan menuju pintu utama rumahnya.

Oh Tuhan, untuk apa laki-laki itu datang ke rumahnya? Apakah ia ingin meminta kembali baju mahal yang kini masih dikenakan Debby, dengan senang hati Debby akan mengembalikannya. Baju mahal membuatnya terbebani karena tak bisa bebas bergerak dengan alasan klasik..takut rusak! Ia tak peduli dikatakan norak tapi ia memang tak suka sesuatu yang berlebihan, seperti laki-laki yang kini di hadapannya, tampan yang berlebihan sampai ia lupa bernapas saat mereka dekat.

“Apakah kau akan membiarkanku berdiri dan memandangiku saja?” ucap Richard , tampak jengah dengan tingkah Debby yang menurutnya aneh.

Debby menggeser posisinya dari ambang pintu, mempersilahkan Richard masuk. Oh Tuhan, bahkan hanya memasuki rumahnya Richard berlagak seolah ia sedang berjalan di catwalk.

“Bolehkah aku duduk?” tanya Richard. Namun sepertinya ia tak butuh jawaban Debby karena sebelum gadis itu membuka mulutnya, ia sudah meletakan dirinya di  sofa.

“Ck!” Cibir Debby. “Ada perlu apa kau ke sini?” tanya Debby yang kini telah duduk di hadapan Richard.

Richard meletakkan dompet berwarna biru di depan Debby. “Kau meninggalkan ini.”

Debby segera menyambar dompetnya dan memeriksa isinya. Ia tak pernah berpikir Richard akan mengambil uangnya karena harta yang dimiliki laki-laki itu bisa membuat mabuk siapa saja yang menghitungnya. “Bagaimana bisa ini tertinggal? Dompetku selalu kutaruh di tas saat pergi.” Selidik Debby.

“Itu karena aku mengeluarkannya saat ingin mngetahui identitasmu,” jawab Richard dengan tenang.

“Kau membuka dompetku dengan dalih ingin mengetahui identitasku? Kau bahkan yak mengantarkanku pulang dengan alasan skandal dan sekarang kau malah muncul di sini,” Sindir Debby. Ia bersyukur sekaligus bangga karena dapat mengucapkan hal demikianpada Richard. Kalau ia tadi –di rumah Richard- malu sampai nyaris gila, sekarang ia harus bisa membalas laki-laki itu.

“Bisakah kau berpikir sebelum berbicara? Ck! Kalau seandainya tadi kau kenapa-napa aku harus menghubungi siapa? Haruskah aku membuangmu di tengah jalan?” Balas Richard.

Debby tercengang! Ia harus berpikir, berpikir bisa membalas ucapan Richard. “Lalu kenapa kau mengantarkannya? Kenapa bukan sopirmu? Kau tak takut dengan skandal?” Ia mrasa puas melontarkan ide terbaiknya dalam 10 detik.

“Menyedihkan sekali karena keluargaku mempunyai dua sopir dan mereka bukan buatku, jadi apa yang harus kulakukan jika mereka tak  ada? Harusnya aku tak harus repot-repot ke sini kalau saja kau yang mengangkat teleponku!” Richard menatap tajam Debby, seolah yang bersalah atas semua kejadian ini adalah gadis itu.

“Kau meneleponku? Kapan? Darimana kau dapat nomorku?”

“Ck! Apakah kau lupa jika mempunyai ponsel dan aku juga mengeceknya untuk keperluan tak terduga seperti ini? Apakah kau juga ingin menanyakan kenapa aku tak meninggalkan pesan kepada laki-laki yang mengangkat teleponku? Aku terlalu baik dan tak ingin ia salah paham!” Jelas Richard panjang lebar sampai membuat Debby tercengang. Bisa ia tebak, hal yang baru saja dikatakannya adalah yang ingin diketahui oleh gadis itu.

“Dia temanku jadi tak mungkin ada salah paham!” Koreksi Debby.

”Siapapun akan salah paham kalau aku mengatakan kau baru saja tidur di kamarku dan meninggalkan dompetmu.” Richard berdiri dan nampak bersiap-siap untuk pulang. “Hah, kau benar-benar...” Keluhnya.

“Maaf..”

“Kau tak perlu meminta maaf, persiapkan saja dirimu untuk 7 hari kemudian,” Richard melangkah keluar namun belum sampai pintu, tangannya di cekal oleh Debby.

“Apa yang kau inginkan dariku 7 hari kemudian?” tanya Debby.

Richard tersenyum sensual. Ia mendekat ke arah Debby. Wajahnya semakin mendekat membuat perempuan itu tegang ketakutan. “ It’s secret, babe..” bisiknya, lalu keluar rumah Debby dengan santai.

***
Debby sedang menikmati makan malam dengan Steve namun pikirannya sedang melayang tak tentu kemana. Ia hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang dipesannya tanpa sadar, membuat sahabatnya bingung sendiri.

“Kau tak suka makanannya?” Tanya Steve sambil menyuapkan spaghetti ke mulutnya.

Debby tersentak, “Oh..aku suka, sangat suka!” Dengan bersemangat ia memakan nasi gorengnya.

“Tapi kulihat tadi hanya mengaduk-aduk makananmu,” kekeuh Steve. Ia memajukan diri ke Debby yang duduk di seberangnya. “Apa makanannya tak enak?” Bisiknya.

Baru saja Debby membuka mulutnya, ingin menjawab tapi Steve menyela dengan memanggil orang lain. Awalnya Debby tak mempedulikan hal itu, paling hanya kenalan atau anak dari relasi orang tua Steve, namun ia mau tak mau mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang sudah tak asing di telinganya.

“Hai Richard, lama kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu?” Tanya Steve. Ia menawarkan Richard untuk bergabung dengannya dan langsung saja diterima oleh laki-laki itu.

Richard duduk di samping Steve. “Kabarku tak pernah sebaik ini,” jawabnya lalu tersenyum. “Hai Debby..” Sapa Richard yang sukses membuat gadis itu –Debby- nyaris tersedak karena terkejut.

“Kau kenal dengan Debby?” Tanya Steve, seolah melupakan keberadaan Debby.

Senyum misterius terlihat di wajah tampan Richard, sangat berbeda dengan ekspresi yang ditujukan Debby. Mengingat beberapa kali pertemuan mereka membuatnya takut kalau hal aneh akan keluar dari bibir laki-laki itu.

“Dia salah satu mahasiswi yang diampu oleh dosen seniorku,” jawab Richard dengan tenang dan ia bisa melihat Debby bernapas lega.

“Kau? Sampai mengingat nama mahasiswi? Kau bukan orang yang seperti itu..” Cibir Steve seolah tak percaya.

“Aku memang bukan orang yang seperti itu tapi aku mengingat mahasiswi yang suka membuat forum sendiri dalam kelas,” ucap Richard.

Debby tersedak mendengar ucapan Richard. Sialan kau, umpat Debby dalam hati. Ekor matanya menatap tajam laki-laki itu seolah ingin melucuti sekarang juga, pasti setelah ini Steve akan berpikir aneh-aneh tentang dirinya.

“Wow, seingatku kau bukan orang yang seperti itu Deb,” Kini Steve beralih kearah Debby.

“Aku memang bukan seperti itu dan sekarang aku pun masih sama!” Bantah Debby. Apa-apaan ini, mereka seenaknya saja membicarakan orang di depannya secara langsung dan tanpa canggung sedikit pun.

1 komentar :