Aku duduk di depan Richard dan mulai menatapnya
tajam, tapi memang dasarnya aku saja yang payah. Aku tak tahan melihat wajah
sempurnanya terlalu lama, bisa-bisa aku menciu… Don’t be stupid, Debby! Kugeleng-gelengkan kepalaku untuk
mengembalikan akal sehat yang tadi sempat pingsan saat melihat Richard.
“Apa yang kaulakukan di sini?” desisku
.
Richard memakan satu gigit cupcake lalu tersenyum padaku disela kegiatannya mengunyah. Uhh,
dia kelihatan cukup imut dengan pipi yang menggembung. “Aku hanya ingin mengunjungi
ibu dari kekasihku, apa itu salah?”
“Kekasih pura-pura!” koreksiku. “Apa menurutmu hal
itu penting?”
“Penting! Setidaknya kalau sewaktu-waktu kalau aku
mengajakmu pergi, Ibumu bisa memberikan izin. Lagipula, aku bilang pura-pura bukan menyembunyikan. ” Richard melipat
kedua tangannya di atas meja dan ganti menatapku intens. “Sekarang, bolehkah
aku yang ganti bertanya?”
Kutundukkan wajahku untuk menghindari tatapan
Richard. Kalau tidak, laki-laki itu akan melihat pipiku yang merona. “Memangnya
apa yang ingin kautanyakan?”
“Kemana kau tadi?”
Aku memasang raut wajah tak mengerti. Memangnya apa
yang sedang Richard bicarakan? Jelas-jelas ia tahu kalau aku baru saja dari
kampus? Ia bisa melihat buku yang kuletakkan di depannya. Atau jangan-jangan… “Kau…
apa yang kaumaksud?”
“Kau pergi dengan laki-laki-yang-entah-siapa itu
kemana?” sahut Richard dengan tidak sabaran.
“Maksudmu Steve? Bukankah kau juga mengenalnya?”
“Jadi kau kemana?” Rasanya aku ingin memukulkan apa
saja ke kepala Richard agar ia berhenti mengejarku dengan arogansinya.
“Kedai es krim.” Balasku singkat, tapi kemudian
muncul pertanyaan sakral yang wajib kutanyakan padanya. “Sampai kapan kita akan
menjalani hubungan pura-pura ini?
Richard menyandarkan punggungnya ke kursi dengan
kedua tangan dilipat di depan dada. “Sampai kapan batas toleransimu?”
Aku mengangkat kedua alis. Dia baru saja menanyakan
padaku tentang batas toleransi, apakah itu berarti dia menyerahkan padaku masa
pura-pura kami? Wow, it sounds great!
“Jadi batas toleransiku sampai…”
“Tiga bulan! Aku ingin kita menjalani ini sampai
tiga bulan!” Putus Richard tak terbantahkan.
Aku sontak memasang raut wajah kesal ke level
tertinggi. Kalau akhirnya dia yang memutuskan, untuk apa dia menanyakan padaku
tentang batas toleransi? Rasanya aku ingin sekali menjawab kalau aku tak bisa
menjalani hubungan ini barang sehari pun. Memang benar wajahnya sempurna,
kepintarannya pun mencengangkan, dan hartanya bisa membuatku pingsan jika
menghitungnya, tapi kalau hanya pura-pura dan semua dikendalikan olehnya, siapa
yang sanggup?
“Come on,
Debora. Aku menanyakan hal itu hanya agar kau memperpanjang batas toleransimu,
jadi kau bisa siap dan tak protes dilain hari.”
“Apa aku punya hak untuk protes? Rasanya kau selalu
memutuskan segala sesuatu dengan sekehendak hatimu.” Sindirku.
Richard hendak membalas ucapanku tapi ia
mengurungkan niatnya saat melihat Ibu berjalan mendekat. Bisa kulihat Ibu
mengulas senyum penuh makna di wajah cantiknya. Aku tentu tak bodoh untuk bisa
menebak apa yang dipikrkan Ibu, pasti Ibu sekarang sedang merasakan euphoria
berlebihan karena anak gadis satu-satunya mempunyai seorang kekasih. Tepatnya, bukan kekasih biasa
karena sang laki-laki mempunyai wajah dewa yunani yang bisa membuat setiap
wanita bertekuk lutut.
“Sepertinya kalian sedang terlibat pembicaraan yang
serius?” Wajah Ibu semakin sumringah saja saat menatap Richard sampai-sampai
tak memperhatikan wajahku yang kusut.
“Kami sedang membicarakan tentang rencana kami hari
ini Bibi.” Jawab Richard disertai senyum sopannya. Aku hampir ingin
membenturkan kepalaku sendiri ke meja saat mendengar penuturannya. Ya Tuhan…
kali ini apalagi yang akan dilakukan laki-laki tampan itu?
“Wah, itu ide yang bagus. Ajaklah Debby ke pantai,
ia sangat menyukai pantai.”
“Pantai? Aku juga menyukainya, Bibi. Baiklah kalau
begitu kami pergi dulu.” Richard menggamit tanganku agar aku berdiri. Ia
tersenyum lagi kepada Ibu sebelum kami beranjak dari toko.
“Selamat bersenang-senang, dear.”
***
Aku tak menyangka sekarang berada di tempat ini.
Richard benar-benar membawaku ke pantai, padahal tadi kukira dia hanya sekadar
berbasa-basi.
“Thanks.”
Ucapku tulus pada Richard. Aku memang sudah lama tak ke pantai, terakhir
mungkin beberapa bulan yang lalu saat mengenang kematian Ayah.
“Apa yang biasanya kaulakukan di pantai?”
“Hanya berjalan di pinggir sambil mendengar suara
ombak yang menurutku sangat menenangkan.” Kuhirup napas dalam-dalam kemudian
mengembuskannya dengan rasa puas. Aroma pantai memang mempunyai efek positif
untuk pikiranku.
“Kupikir kita bisa melakukannya.” Richard nampak
berpikir, seperti mempertimbangkan keputusannya sendiri. “Kita menjadi kekasih
kalau di depan orang, tapi kalau hanya berdua kita bisa menjadi teman.”
“Apa kita sudah bisa dikatakan sebagai teman?”
Richard terkekeh pelan. “Entahlah. Mungkin kita bisa
mencoba?”
“Kedengarannya aneh.” Aku ikut terkekeh lalu
berjalan mendahului Richard menuju pinggir pantai.
Kukucir rambutku menjadi ekor kuda agar tak mengenai
wajah saat tertiup angin sedang tangan kananku meneteng sepatu karena aku ingin
membiarkan air menyapu pelan kakiku. Berjalan di pantai saat mendung memang
lebih menyenangkan, teriknya matahari tak sampai menyakiti kulitku, jadi aku
bisa berlama-lama di sini.
Richard rupanya tak menyusulku, tapi baguslah! Aku
tak boleh terlalu dekat dengannya, bisa-bisa aku mencintainya. Akan jadi apa
hidupku kalau hal itu benar terjadi? Mencintai seseorang yang memintamu untuk
menjadi kekasih pura-pura selama tiga bulan, setelah itu? Mungkin kita akan
menjadi seperti semula dimana tak saling mengenal dan tak pernah bersimpangan.
Kupandangi Richard lebih lama, untungnya ia sibuk
dengan ponselnya jadi tak menyadari kegiatanku ini. Laki-laki sempurna itu…
sampai sekarang aku masih bertanya mengapa dia harus memintaku untuk melakukan
hal konyol seperti ini? Apakah ini murni tuntutan balas budi? Tapi rasanya tak
masuk akal kalau hanya masalah itu. Dia bisa saja meminta gadis lain untuk
menjadi kekasih pura-puranya, yang pasti gadis yang lebih popular, yang lebih
pantas jika berjalan dengannya. Dan Janet… gadis sempurna itu ditinggal begitu
saja hanya demi sebuah hubungan pura-pura dengan gadis sepertiku. Benar-benar
tak masuk akal!
***
“Terima kasih untuk hari ini.” Ucapku sebelum keluar
dari mobil Richard.
“Sepertinya untuk membuatmu senang tak susah. Hanya
tinggal mengajakmu ke pantai dan voila…
kau menjadi hobi mengucapkan terima kasih padaku.” Richard memamerkan senyum
mengejek padaku.
“Terserah apa katamu! Aku mengucapkannya karena aku
memang tahu terima kasih!” Aku kembali bersikap ketus padanya. Benar-benar
menyebalkan! Aku mengucapkan terima kasih padanya tapi balasannya malah seperti
itu.
“Beristirahatlah!”
“Tanpa kau suruh pun, aku akan melakukannya.”
Richard mengalihkan pandangannya padaku. “Aku
serius! Kau akan sibuk besok, jadi kuharap kau beristirahat dengan baik.”
Aku mengerutkan keningku –kebiasaanku saat sedang
berpikir- .”Besok adalah hari libur, jangan merusak hariku dengan rencanamu!”
Aku memberinya peringatan keras walaupun aku sendiri ragu kalau dia akan
menurutinya.
Richard menghela napas panjang. “Sudahlah. Selamat
beristirahat.”
“Aku pergi.” Aku keluar dari mobil Richard namun tak
lantas masuk rumah karena ingin menunggunya sampai berjalan.
Richard menurunkan kaca jendela mobilnya lalu
sedikit mencondongkan kepalanya keluar. “Kenapa kau tak masuk?”
“Hah? Aku menunggumu pergi.”
“Aku menunggumu masuk. Masuklah, ini sudah malam!”
Perintahnya.
Aku berdecak sebelum akhirnya menurut. Dasar arogan!
***
“Ibu, aku pulang.” Ucapku saat memasuki rumah.
Ibu setengah berlari menuju ke arahku. “Bagaimana
hari ini? Menyenangkan? Ah, harusnya Ibu sudah bisa menebak! Pergi ke pantai
dengan laki-laki setampan itu, pasti sangat romantis dan banyak gadis yang iri
denganmu, dear.” Ibu mengucapkan
semuanya dengan mata berbinar dan senyum yang semakin lebar. Astaga, apa sudah
seampuh ini pesona Richard pada Ibu? Bagaimana kalau Ibu tahu kalau semua ini
hanya pura-pura? Bisa mati aku!
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi Ibu. “Debby ke
kamar dulu, Ibu.”
“Tadi ada paket untukmu, dear. Ibu menaruhnya di meja belajar.” Ucap Ibu saat aku membuka kamar.
Aku langsung menuju meja belajar dan mendapati
sebuah kotak berukuran sedang di sana. Aneh… siapa yang mengirimiku paketan?
Rasanya aku tak pernah memesan barang, atau biasanya yang mengirimiku paketan
adalah Steve, tapi dia kan ada di sini. Dengan sedikit tergesa karena
penasaran, kubuka kotak itu dan mataku sontak melotot saat tahu apa isinya. Ini
apa? Teror?
Terdapat boneka yang sudah dipotong-potong . Lalu
kukeluarkan beberapa lembar fotoku yang terdapat tanda silang besar berwarna
merah. Kemudian masih ada beberapa surat yang isinya adalah perintah untuk
menjauhi Richard. Surat itu ditulis dengan darah ayam yang sudah mengering, ya
Tuhan… ini membuatku mual!
Jauhi
Richard atau kau dapat yang lebih mengerikan!
Kau
tak pantas untuk Richard!
Enyah
kau dari hidup Richard!
Dan masih banyak lagi tulisan-tulisan mengerikan.
Aku tak sanggup membaca semuanya. Segera kumasukan kembali barang-barang
mengerikan itu ke dalam kotak lalu keluar rumah untuk membuangnya. Bisa gawat
kalau sampai Ibu mengetahui ini!
***
Saat aku membuka mata, matahari sudah tinggi dan
sinar matahari berlomba-lomba masuk ke dalam kamarku. Tadi malam aku tidur
terlalu larut karena memikirkan paketan terror dari entah siapa itu. Rasanya aku
tak pernah mempunyai musuh, jadi otakku buntu untuk memikirkan siapa
pengirimnya. Atau jangan-jangan paketan itu berasal dari fans Richard yang
bermental psikopat? Ahhh…. Rasanya aku ingin teriak saja! Apa menghadapi
seorang Richard yang arogan tak cukup sampai aku harus berhadapan dengan
peneror itu? Seperti kurang sial saja hidupku!
Pukul sepuluh pagi. Aku tadinya beermaksud untuk
kembali tidur namun bunyi bel telah mengacaukan niatku itu. Dengan malas aku
beranjak dari tempat tidur dan merapikan penampilanku. Hem… masih jauh dari
rapi, tapi lebih baik jika dibanding dengan saat baru bangun.
Mataku terbuka sempurna saat membuka pintu. Richard?
Di rumahku pagi-pagi? Okay, memang
tak begitu pagi, tapi pukul sepuluh itu terlalu…awal. Aku ingin sekali menutup
pintu dan mengurung diri di kamar daripada harus bertemu dengannya. Ya Tuhan,
aku malu sekali dengan penampilanku saat ini. Ia sudah begitu rapi dan tampan,
sedangkan aku…
“Apa yang kaulakukan di sini, pagi-pagi?”
“Bukankah tadi malam aku sudah mengatakan padamu?”
Aku mengerutkan kening. “Sepertinya aku lupa.”
“Bolehkah aku masuk? Aku tak mungkin menunggumu
mandi dengan berdiri di luar bukan?”
Perkataan Richard membuatku terkesiap. Sepertinya
penampilanku sudah mengatakan baru-bangun-tidur. Akhirnya, dengan berat hati
aku membuka pintu lebih lebar untuknya.
“Kau mau minum apa?”
“Tidak perlu. Kita akan makan di luar lalu aku akan
mengajakmu ke suatu tempat.” Jelasnya dengan santai.
“Ini hari libur! Aku tak berniat untuk pergi
kemana-mana!” Protesku.
“Termasuk ke kamar mandi?”
Ahhhh… Dia benar-benar menyinggungku dan membuatku
semakin malu saja!
Dua puluh menit kemudian, aku sudah siap dengan
celana jeans selutut dan kaos V neck lengan panjang. Rambutku kukucir ekor kuda
dan wajahku kupoles dengan make up
sederhana. Okay Debby, sekarang kau
sudah terlihat seperti manusia bukan zombie!
***
Richard terlibat percakapan seru dengan Steve saat
aku sampai di ruang tamu. Aku jadi penasaran, seseru apa percakapan mereka
sampai tak menyadari kehadiranku? Dasar, tamu-tamu tak tahu diri!
“Hai.” Sapaku yang kutujukan untuk keduanya.
“Kau lama sekali!” Astaga… Bisakah Richard bersikap
lebih menyenangkan hari ini? Sudah tak merasa bersalah karena menganggu waktu
liburku, sekarang malah mengomel.
“Kurasa waktu dua puluh menit itu sudah sangat
singkat. Dasar laki-laki tak pengertian!” Aku mendekat ke arah mereka dan
memilih duduk di samping Steve.
“Sepertinya kalian sudah memiliki rencana untuk
berlibur.” Steve terlihat cangggung berada di antara aku dan Richard.
“Tak ada rencana khusus. Aku sendiri malah berniat
untuk menghabiskan hari ini dengan tidur…”
“Aku berencana mengajak Debby untuk menemaniku hunting foto.” Aku mendengus saat
mendengar interupsi dari Richard. Telingaku tidak kurang peka kalau hanya untuk
mengartikan ucapannya sebagai perintah.
“Wah, itu ide yang bagus. Cuaca hari ini cerah. Kau
tahu Deb, Richard jenius juga dalam fotografi!” Steve yang tadinya canggung
kini berubah menjadi sangat antusias. Oh
God, aku sudah tak terkejut lagi kalau ada yang mengatakan Richard jenius,
tapi aku rasa dia kelebihan talenta.
“Oh ya? Aku tak tahu sebelumnya.” Ucapku tanpa
minat, bahkan nada bicaraku seperti terdengar dia-jenius-dan-aku-tak-peduli.
Richard hanya menyunggingkan senyum kecil. Mungkin
dia sudah biasa mendengar pujian, seperti aku yang sudah biasa menghadapi
arogansinya.
“Jadi, aku tak salah kalau mengajak Debora bukan?”
Richard mengucapkannya dengan penuh kemenangan, tapi bukan itu yang mengganjal
telingaku. Saat ia memanggilku Debora, aku merasa ada yang aneh. Selama ini aku
lebih suka dipanggil Debby oleh orang tapi kenapa aku menjadi sangat senang
kalau laki-laki tampan itu memanggilku Debora? Rasanya itu seperti panggilan
sayang yang khusus.
“Jadi, kalian akan pergi sekarang?” Tanya Steve. Ia
sudah berniat untuk pergi, namun ucapan Richard menahan langkahnya.
“Ikutlah dengan kami, Steve. Bukankah kau juga suka
fotografi?”
Steve langsung tersenyum cerah mendengar ajakan
Richard. Tentu saja, kalau dilihat dari ekspresinya itu dia pasti akan
menerimanya.
***
Lokasi tempat Richard dan Steve hunting memang tak tanggung-tanggung. Richard rela berkendara
sampai keluar kota untuk sampai ke kawasan puncak yang pemandangannya indah.
Udara juga sejuk. Ahh, rasanya kalau bisa, aku ingin membawa udara di sini untuk
kuedarkan di rumah.
Richard terlihat sudah siap dengan kameranya dan
mulai mengambil beberapa obyek. Aku juga melihat ia tersenyum puas saat melihat
hasil bidikan kameranya. Sepertinya ucapan Steve tentang bakat fotografi
Richard memang tak bohong.
“Dia seperti lupa dengan segalanya kalau sudah mulai
mengambil gambar. Aku tahu itu waktu ikut hunting
dengannya sekali.” Ucap Steve yang masih berdiri di sampingku. Rupanya ia belum
selesai menyiapkan kameranya.
“Aku rasa, aku bisa mengerti itu. Lagipula, aku juga
ingin berjalan-jalan menikmati suasana di sini.”
“Pemandangan di sini indah. Kau tidak akan rugi jika
melakukannya.” Steve mengedarkan pandangannya lalu mengambil sebuah gambar dari
kebun bunga mawar yang beberapa bunganya mulai mekar.
“Boleh aku lihat?”
Steve mendekat padaku dan memperlihatkan hasil
bidikannya. “Bagaimana?”
“Bagus, walaupun sebenarnya aku tak mengerti tentang
fotografi. Aku suka bunganya, indah!”
“Kau bisa meminta beberapa tangkai pada petani
bunganya.”
“Boleh ya?” Tanyaku ragu.
“Kurasa mereka tak akan keberatan jika hanya
beberapa tangkai.”
***
“Apa yang kalian lakukan di sana?” Suara Kevin
menginterupsi pembicaraanku dengan Steve. Ia lalu berjalan menuju kami dengan
kerutan di keningnya.
“Debby ingin berjalan-jalan di sekitar sini. Aku
rasa dia tertarik dengan kebun mawar.” Jawab Steve untukku.
“Bukankah kau menyukai lily?” Kevin menatapku penuh
selidik.
“Mawarnya indah. Aku juga suka itu.” Kataku dengan
penuh minat.
“Kau tunggu di sini.” Perintah Richard sebelum pergi
menuju kebun bunga.
Aku dan Steve hanya diam memperhatikan tingkah
Richard. Aku sendiri mengira-ngira apa yang akan dilakukan laki-laki itu. Ia
terlihat sedang berbicara dengan petani bunga lalu mulai memetik beberapa
tangkai mawar. Tak lama kemudian, ia melangkah kembali ke arah kami dengan
senyum khas cassanova miliknya.
“Ini.” Aku nyaris tak percaya saat Richard
memberikan mawar-mawar yang dipetiknya untukku. Bolehkah aku merasa sedikit berbunga-bunga karena perlakuan
romantisnya ini? “Sekarang kau tak perlu kemana-mana!” tambahnya.
Hatiku yang tadinya tersenyum ceria langsung
merengut seketika saat mendengar perintahnya. Dasar! Aku pikir dia mau bersikap
romantic karena setidaknya ada Steve
di sini, tapi rupanya seorang Richard memang tidak bisa meninggalkan arogansinya
yang sudah setinggi langit. Dengan wajah yang masih ditekuk, aku akhirnya
menerima bunga dari Richard.
“Kenapa dengan wajahmu? Untuk seorang kekasih yang
rela memetikkan bunga, kau paling tidak memberinya senyuman. Itu pun kalau kau
sedang sakit gigi dan susah bilang terima kasih.”
“Terima kasih.” Aku tersenyum selebar-lebarnya pada
Richard sampai gigiku terlihat.
“Kenapa kau terlihat menyeramkan saat tersenyum
seperti itu?” Richard terkekeh sampai memegang perutnya. Astaga… dasar
menyebalkan!
“Biar bagaimanapun gadis menyeramkan ini adalah
kekasihmu, dan kau rela memetikkan mawar untuknya.” Balasku.
“Sudahlah, kau ke mobil saja. Aku akan memotret
dengan Steve di sini. Jangan pergi kemana-mana sendiri, itu sangat berbahaya!”
Richard menasihatiku seperti aku adalah anak SD yang masih perlu pantauan
ekstra. Aku bahkan sempat melihat Steve tertawa kecil.
“Ke tempat seindah ini tapi tak bisa jalan-jalan,
benar-benar payah!” Gerutuku sambil berjalan menuju mobil. Kenapa juga aku
harus begitu menurutinya? Aku jadi penasaran, kalau aku tak mematuhinya, apa
yang akan dia lakukan? Baiklah, kalau begitu aku akan berjalan-jalan sebentar.
Richard tak akan tahu karena dia sibuk dengan kameranya. Hanya sebentar dan aku
akan kembali sebelum dia selesai.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar