Blogger Widgets

Label

Rabu, 16 April 2014

It's Okay, Dear 9



Aku duduk di depan Richard dan mulai menatapnya tajam, tapi memang dasarnya aku saja yang payah. Aku tak tahan melihat wajah sempurnanya terlalu lama, bisa-bisa aku menciu… Don’t be stupid, Debby! Kugeleng-gelengkan kepalaku untuk mengembalikan akal sehat yang tadi sempat pingsan saat melihat Richard.
“Apa yang kaulakukan di sini?” desisku
.
Richard memakan satu gigit cupcake lalu tersenyum padaku disela kegiatannya mengunyah. Uhh, dia kelihatan cukup imut dengan pipi yang menggembung. “Aku hanya ingin mengunjungi ibu dari kekasihku, apa itu salah?”
“Kekasih pura-pura!” koreksiku. “Apa menurutmu hal itu penting?”
“Penting! Setidaknya kalau sewaktu-waktu kalau aku mengajakmu pergi, Ibumu bisa memberikan izin. Lagipula, aku bilang pura-pura bukan menyembunyikan. ” Richard melipat kedua tangannya di atas meja dan ganti menatapku intens. “Sekarang, bolehkah aku yang ganti bertanya?”
Kutundukkan wajahku untuk menghindari tatapan Richard. Kalau tidak, laki-laki itu akan melihat pipiku yang merona. “Memangnya apa yang ingin kautanyakan?”
“Kemana kau tadi?”
Aku memasang raut wajah tak mengerti. Memangnya apa yang sedang Richard bicarakan? Jelas-jelas ia tahu kalau aku baru saja dari kampus? Ia bisa melihat buku yang kuletakkan di depannya. Atau jangan-jangan… “Kau… apa yang kaumaksud?”
“Kau pergi dengan laki-laki-yang-entah-siapa itu kemana?” sahut Richard dengan tidak sabaran.
“Maksudmu Steve? Bukankah kau juga mengenalnya?”
“Jadi kau kemana?” Rasanya aku ingin memukulkan apa saja ke kepala Richard agar ia berhenti mengejarku dengan arogansinya.
“Kedai es krim.” Balasku singkat, tapi kemudian muncul pertanyaan sakral yang wajib kutanyakan padanya. “Sampai kapan kita akan menjalani hubungan pura-pura ini?
Richard menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kedua tangan dilipat di depan dada. “Sampai kapan batas toleransimu?”
Aku mengangkat kedua alis. Dia baru saja menanyakan padaku tentang batas toleransi, apakah itu berarti dia menyerahkan padaku masa pura-pura kami? Wow, it sounds great!
“Jadi batas toleransiku sampai…”
“Tiga bulan! Aku ingin kita menjalani ini sampai tiga bulan!” Putus Richard tak terbantahkan.
Aku sontak memasang raut wajah kesal ke level tertinggi. Kalau akhirnya dia yang memutuskan, untuk apa dia menanyakan padaku tentang batas toleransi? Rasanya aku ingin sekali menjawab kalau aku tak bisa menjalani hubungan ini barang sehari pun. Memang benar wajahnya sempurna, kepintarannya pun mencengangkan, dan hartanya bisa membuatku pingsan jika menghitungnya, tapi kalau hanya pura-pura dan semua dikendalikan olehnya, siapa yang sanggup?
Come on, Debora. Aku menanyakan hal itu hanya agar kau memperpanjang batas toleransimu, jadi kau bisa siap dan tak protes dilain hari.”
“Apa aku punya hak untuk protes? Rasanya kau selalu memutuskan segala sesuatu dengan sekehendak hatimu.” Sindirku.
Richard hendak membalas ucapanku tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Ibu berjalan mendekat. Bisa kulihat Ibu mengulas senyum penuh makna di wajah cantiknya. Aku tentu tak bodoh untuk bisa menebak apa yang dipikrkan Ibu, pasti Ibu sekarang sedang merasakan euphoria berlebihan karena anak gadis satu-satunya mempunyai seorang kekasih. Tepatnya, bukan kekasih biasa karena sang laki-laki mempunyai wajah dewa yunani yang bisa membuat setiap wanita bertekuk lutut.
“Sepertinya kalian sedang terlibat pembicaraan yang serius?” Wajah Ibu semakin sumringah saja saat menatap Richard sampai-sampai tak memperhatikan wajahku yang kusut.
“Kami sedang membicarakan tentang rencana kami hari ini Bibi.” Jawab Richard disertai senyum sopannya. Aku hampir ingin membenturkan kepalaku sendiri ke meja saat mendengar penuturannya. Ya Tuhan… kali ini apalagi yang akan dilakukan laki-laki tampan itu?
“Wah, itu ide yang bagus. Ajaklah Debby ke pantai, ia sangat menyukai pantai.”
“Pantai? Aku juga menyukainya, Bibi. Baiklah kalau begitu kami pergi dulu.” Richard menggamit tanganku agar aku berdiri. Ia tersenyum lagi kepada Ibu sebelum kami beranjak dari toko.
“Selamat bersenang-senang, dear.”
***
Aku tak menyangka sekarang berada di tempat ini. Richard benar-benar membawaku ke pantai, padahal tadi kukira dia hanya sekadar berbasa-basi.
Thanks.” Ucapku tulus pada Richard. Aku memang sudah lama tak ke pantai, terakhir mungkin beberapa bulan yang lalu saat mengenang kematian Ayah.
“Apa yang biasanya kaulakukan di pantai?”
“Hanya berjalan di pinggir sambil mendengar suara ombak yang menurutku sangat menenangkan.” Kuhirup napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya dengan rasa puas. Aroma pantai memang mempunyai efek positif untuk pikiranku.
“Kupikir kita bisa melakukannya.” Richard nampak berpikir, seperti mempertimbangkan keputusannya sendiri. “Kita menjadi kekasih kalau di depan orang, tapi kalau hanya berdua kita bisa menjadi teman.”
“Apa kita sudah bisa dikatakan sebagai teman?”
Richard terkekeh pelan. “Entahlah. Mungkin kita bisa mencoba?”
“Kedengarannya aneh.” Aku ikut terkekeh lalu berjalan mendahului Richard menuju pinggir pantai.
Kukucir rambutku menjadi ekor kuda agar tak mengenai wajah saat tertiup angin sedang tangan kananku meneteng sepatu karena aku ingin membiarkan air menyapu pelan kakiku. Berjalan di pantai saat mendung memang lebih menyenangkan, teriknya matahari tak sampai menyakiti kulitku, jadi aku bisa berlama-lama di sini.
Richard rupanya tak menyusulku, tapi baguslah! Aku tak boleh terlalu dekat dengannya, bisa-bisa aku mencintainya. Akan jadi apa hidupku kalau hal itu benar terjadi? Mencintai seseorang yang memintamu untuk menjadi kekasih pura-pura selama tiga bulan, setelah itu? Mungkin kita akan menjadi seperti semula dimana tak saling mengenal dan tak pernah bersimpangan.
Kupandangi Richard lebih lama, untungnya ia sibuk dengan ponselnya jadi tak menyadari kegiatanku ini. Laki-laki sempurna itu… sampai sekarang aku masih bertanya mengapa dia harus memintaku untuk melakukan hal konyol seperti ini? Apakah ini murni tuntutan balas budi? Tapi rasanya tak masuk akal kalau hanya masalah itu. Dia bisa saja meminta gadis lain untuk menjadi kekasih pura-puranya, yang pasti gadis yang lebih popular, yang lebih pantas jika berjalan dengannya. Dan Janet… gadis sempurna itu ditinggal begitu saja hanya demi sebuah hubungan pura-pura dengan gadis sepertiku. Benar-benar tak masuk akal!
***
“Terima kasih untuk hari ini.” Ucapku sebelum keluar dari mobil Richard.
“Sepertinya untuk membuatmu senang tak susah. Hanya tinggal mengajakmu ke pantai dan voila… kau menjadi hobi mengucapkan terima kasih padaku.” Richard memamerkan senyum mengejek padaku.
“Terserah apa katamu! Aku mengucapkannya karena aku memang tahu terima kasih!” Aku kembali bersikap ketus padanya. Benar-benar menyebalkan! Aku mengucapkan terima kasih padanya tapi balasannya malah seperti itu.
“Beristirahatlah!”
“Tanpa kau suruh pun, aku akan melakukannya.”
Richard mengalihkan pandangannya padaku. “Aku serius! Kau akan sibuk besok, jadi kuharap kau beristirahat dengan baik.”
Aku mengerutkan keningku –kebiasaanku saat sedang berpikir- .”Besok adalah hari libur, jangan merusak hariku dengan rencanamu!” Aku memberinya peringatan keras walaupun aku sendiri ragu kalau dia akan menurutinya.
Richard menghela napas panjang. “Sudahlah. Selamat beristirahat.”
“Aku pergi.” Aku keluar dari mobil Richard namun tak lantas masuk rumah karena ingin menunggunya sampai berjalan.
Richard menurunkan kaca jendela mobilnya lalu sedikit mencondongkan kepalanya keluar. “Kenapa kau tak masuk?”
“Hah? Aku menunggumu pergi.”
“Aku menunggumu masuk. Masuklah, ini sudah malam!” Perintahnya.
Aku berdecak sebelum akhirnya menurut. Dasar arogan!
***
“Ibu, aku pulang.” Ucapku saat memasuki rumah.
Ibu setengah berlari menuju ke arahku. “Bagaimana hari ini? Menyenangkan? Ah, harusnya Ibu sudah bisa menebak! Pergi ke pantai dengan laki-laki setampan itu, pasti sangat romantis dan banyak gadis yang iri denganmu, dear.” Ibu mengucapkan semuanya dengan mata berbinar dan senyum yang semakin lebar. Astaga, apa sudah seampuh ini pesona Richard pada Ibu? Bagaimana kalau Ibu tahu kalau semua ini hanya pura-pura? Bisa mati aku!
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi Ibu. “Debby ke kamar dulu, Ibu.”

“Tadi ada paket untukmu, dear. Ibu menaruhnya di meja belajar.” Ucap Ibu saat aku membuka kamar.
Aku langsung menuju meja belajar dan mendapati sebuah kotak berukuran sedang di sana. Aneh… siapa yang mengirimiku paketan? Rasanya aku tak pernah memesan barang, atau biasanya yang mengirimiku paketan adalah Steve, tapi dia kan ada di sini. Dengan sedikit tergesa karena penasaran, kubuka kotak itu dan mataku sontak melotot saat tahu apa isinya. Ini apa? Teror?
Terdapat boneka yang sudah dipotong-potong . Lalu kukeluarkan beberapa lembar fotoku yang terdapat tanda silang besar berwarna merah. Kemudian masih ada beberapa surat yang isinya adalah perintah untuk menjauhi Richard. Surat itu ditulis dengan darah ayam yang sudah mengering, ya Tuhan… ini membuatku mual!
Jauhi Richard atau kau dapat yang lebih mengerikan!
Kau tak pantas untuk Richard!
Enyah kau dari hidup Richard!
Dan masih banyak lagi tulisan-tulisan mengerikan. Aku tak sanggup membaca semuanya. Segera kumasukan kembali barang-barang mengerikan itu ke dalam kotak lalu keluar rumah untuk membuangnya. Bisa gawat kalau sampai Ibu mengetahui ini!
***
Saat aku membuka mata, matahari sudah tinggi dan sinar matahari berlomba-lomba masuk ke dalam kamarku. Tadi malam aku tidur terlalu larut karena memikirkan paketan terror dari entah siapa itu. Rasanya aku tak pernah mempunyai musuh, jadi otakku buntu untuk memikirkan siapa pengirimnya. Atau jangan-jangan paketan itu berasal dari fans Richard yang bermental psikopat? Ahhh…. Rasanya aku ingin teriak saja! Apa menghadapi seorang Richard yang arogan tak cukup sampai aku harus berhadapan dengan peneror itu? Seperti kurang sial saja hidupku!
Pukul sepuluh pagi. Aku tadinya beermaksud untuk kembali tidur namun bunyi bel telah mengacaukan niatku itu. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur dan merapikan penampilanku. Hem… masih jauh dari rapi, tapi lebih baik jika dibanding dengan saat baru bangun.
Mataku terbuka sempurna saat membuka pintu. Richard? Di rumahku pagi-pagi? Okay, memang tak begitu pagi, tapi pukul sepuluh itu terlalu…awal. Aku ingin sekali menutup pintu dan mengurung diri di kamar daripada harus bertemu dengannya. Ya Tuhan, aku malu sekali dengan penampilanku saat ini. Ia sudah begitu rapi dan tampan, sedangkan aku…
“Apa yang kaulakukan di sini, pagi-pagi?”
“Bukankah tadi malam aku sudah mengatakan padamu?”
Aku mengerutkan kening. “Sepertinya aku lupa.”
“Bolehkah aku masuk? Aku tak mungkin menunggumu mandi dengan berdiri di luar bukan?”
Perkataan Richard membuatku terkesiap. Sepertinya penampilanku sudah mengatakan baru-bangun-tidur. Akhirnya, dengan berat hati aku membuka pintu lebih lebar untuknya.
“Kau mau minum apa?”
“Tidak perlu. Kita akan makan di luar lalu aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Jelasnya dengan santai.
“Ini hari libur! Aku tak berniat untuk pergi kemana-mana!” Protesku.
“Termasuk ke kamar mandi?”
Ahhhh… Dia benar-benar menyinggungku dan membuatku semakin malu saja!
Dua puluh menit kemudian, aku sudah siap dengan celana jeans selutut dan kaos V neck lengan panjang. Rambutku kukucir ekor kuda dan wajahku kupoles dengan make up sederhana. Okay Debby, sekarang kau sudah terlihat seperti manusia bukan zombie!
***
Richard terlibat percakapan seru dengan Steve saat aku sampai di ruang tamu. Aku jadi penasaran, seseru apa percakapan mereka sampai tak menyadari kehadiranku? Dasar, tamu-tamu tak tahu diri!
“Hai.” Sapaku yang kutujukan untuk keduanya.
“Kau lama sekali!” Astaga… Bisakah Richard bersikap lebih menyenangkan hari ini? Sudah tak merasa bersalah karena menganggu waktu liburku, sekarang malah mengomel.
“Kurasa waktu dua puluh menit itu sudah sangat singkat. Dasar laki-laki tak pengertian!” Aku mendekat ke arah mereka dan memilih duduk di samping Steve.
“Sepertinya kalian sudah memiliki rencana untuk berlibur.” Steve terlihat cangggung berada di antara aku dan Richard.
“Tak ada rencana khusus. Aku sendiri malah berniat untuk menghabiskan hari ini dengan tidur…”
“Aku berencana mengajak Debby untuk menemaniku hunting foto.” Aku mendengus saat mendengar interupsi dari Richard. Telingaku tidak kurang peka kalau hanya untuk mengartikan ucapannya sebagai perintah.
“Wah, itu ide yang bagus. Cuaca hari ini cerah. Kau tahu Deb, Richard jenius juga dalam fotografi!” Steve yang tadinya canggung kini berubah menjadi sangat antusias. Oh God, aku sudah tak terkejut lagi kalau ada yang mengatakan Richard jenius, tapi aku rasa dia kelebihan talenta.
“Oh ya? Aku tak tahu sebelumnya.” Ucapku tanpa minat, bahkan nada bicaraku seperti terdengar dia-jenius-dan-aku-tak-peduli.
Richard hanya menyunggingkan senyum kecil. Mungkin dia sudah biasa mendengar pujian, seperti aku yang sudah biasa menghadapi arogansinya.
“Jadi, aku tak salah kalau mengajak Debora bukan?” Richard mengucapkannya dengan penuh kemenangan, tapi bukan itu yang mengganjal telingaku. Saat ia memanggilku Debora, aku merasa ada yang aneh. Selama ini aku lebih suka dipanggil Debby oleh orang tapi kenapa aku menjadi sangat senang kalau laki-laki tampan itu memanggilku Debora? Rasanya itu seperti panggilan sayang yang khusus.
“Jadi, kalian akan pergi sekarang?” Tanya Steve. Ia sudah berniat untuk pergi, namun ucapan Richard menahan langkahnya.
“Ikutlah dengan kami, Steve. Bukankah kau juga suka fotografi?”
Steve langsung tersenyum cerah mendengar ajakan Richard. Tentu saja, kalau dilihat dari ekspresinya itu dia pasti akan menerimanya.
***
Lokasi tempat Richard dan Steve hunting memang tak tanggung-tanggung. Richard rela berkendara sampai keluar kota untuk sampai ke kawasan puncak yang pemandangannya indah. Udara juga sejuk. Ahh, rasanya kalau bisa, aku ingin membawa udara di sini untuk kuedarkan di rumah.
Richard terlihat sudah siap dengan kameranya dan mulai mengambil beberapa obyek. Aku juga melihat ia tersenyum puas saat melihat hasil bidikan kameranya. Sepertinya ucapan Steve tentang bakat fotografi Richard memang tak bohong.
“Dia seperti lupa dengan segalanya kalau sudah mulai mengambil gambar. Aku tahu itu waktu ikut hunting dengannya sekali.” Ucap Steve yang masih berdiri di sampingku. Rupanya ia belum selesai menyiapkan kameranya.
“Aku rasa, aku bisa mengerti itu. Lagipula, aku juga ingin berjalan-jalan menikmati suasana di sini.”
“Pemandangan di sini indah. Kau tidak akan rugi jika melakukannya.” Steve mengedarkan pandangannya lalu mengambil sebuah gambar dari kebun bunga mawar yang beberapa bunganya mulai mekar.
“Boleh aku lihat?”
Steve mendekat padaku dan memperlihatkan hasil bidikannya. “Bagaimana?”
“Bagus, walaupun sebenarnya aku tak mengerti tentang fotografi. Aku suka bunganya, indah!”
“Kau bisa meminta beberapa tangkai pada petani bunganya.”
“Boleh ya?” Tanyaku ragu.
“Kurasa mereka tak akan keberatan jika hanya beberapa tangkai.”
***
“Apa yang kalian lakukan di sana?” Suara Kevin menginterupsi pembicaraanku dengan Steve. Ia lalu berjalan menuju kami dengan kerutan di keningnya.
“Debby ingin berjalan-jalan di sekitar sini. Aku rasa dia tertarik dengan kebun mawar.” Jawab Steve untukku.
“Bukankah kau menyukai lily?” Kevin menatapku penuh selidik.
“Mawarnya indah. Aku juga suka itu.” Kataku dengan penuh minat.
“Kau tunggu di sini.” Perintah Richard sebelum pergi menuju kebun bunga.
Aku dan Steve hanya diam memperhatikan tingkah Richard. Aku sendiri mengira-ngira apa yang akan dilakukan laki-laki itu. Ia terlihat sedang berbicara dengan petani bunga lalu mulai memetik beberapa tangkai mawar. Tak lama kemudian, ia melangkah kembali ke arah kami dengan senyum khas cassanova miliknya.
“Ini.” Aku nyaris tak percaya saat Richard memberikan mawar-mawar yang dipetiknya untukku. Bolehkah aku merasa sedikit berbunga-bunga karena perlakuan romantisnya ini? “Sekarang kau tak perlu kemana-mana!” tambahnya.
Hatiku yang tadinya tersenyum ceria langsung merengut seketika saat mendengar perintahnya. Dasar! Aku pikir dia mau bersikap romantic karena setidaknya ada Steve di sini, tapi rupanya seorang Richard memang tidak bisa meninggalkan arogansinya yang sudah setinggi langit. Dengan wajah yang masih ditekuk, aku akhirnya menerima bunga dari Richard.
“Kenapa dengan wajahmu? Untuk seorang kekasih yang rela memetikkan bunga, kau paling tidak memberinya senyuman. Itu pun kalau kau sedang sakit gigi dan susah bilang terima kasih.”
“Terima kasih.” Aku tersenyum selebar-lebarnya pada Richard sampai gigiku terlihat.
“Kenapa kau terlihat menyeramkan saat tersenyum seperti itu?” Richard terkekeh sampai memegang perutnya. Astaga… dasar menyebalkan!
“Biar bagaimanapun gadis menyeramkan ini adalah kekasihmu, dan kau rela memetikkan mawar untuknya.” Balasku.
“Sudahlah, kau ke mobil saja. Aku akan memotret dengan Steve di sini. Jangan pergi kemana-mana sendiri, itu sangat berbahaya!” Richard menasihatiku seperti aku adalah anak SD yang masih perlu pantauan ekstra. Aku bahkan sempat melihat Steve tertawa kecil.
“Ke tempat seindah ini tapi tak bisa jalan-jalan, benar-benar payah!” Gerutuku sambil berjalan menuju mobil. Kenapa juga aku harus begitu menurutinya? Aku jadi penasaran, kalau aku tak mematuhinya, apa yang akan dia lakukan? Baiklah, kalau begitu aku akan berjalan-jalan sebentar. Richard tak akan tahu karena dia sibuk dengan kameranya. Hanya sebentar dan aku akan kembali sebelum dia selesai.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar