Blogger Widgets

Label

Kamis, 01 Agustus 2013

It's Okay, Dear part 2



Baru saja melangkah ke gedung kampus, Debby sudah dibuat pusing oleh celotehan Cika. Sahabatnya itu mengeluapkan kekecewaannya karena pangeran kampus –Richard- tak lagi menjadi asisten dosen.

“Ah, aku jadi tak begitu bersemangat seperti sebelumnya. Sekarang, siapa lagi yang mau kulirik saat mendengarkan mata kuliah yang sudah seperti pengantar tidur?” Keluh Cika sepanjang jalan. Ah, perempuan itu memang lebih banyak bicara jika dibandingkan dengan Debby.


“Sudahlah Cik, semester sebelumnya kita juga tak mempunyai asisten dosen yang tampan seperti Richard, tapi kita masih bisa mengikuti kuliah dengan baik. Aku jadi merasa kalau seandainya laki-laki itu menjadi asisten dosen di kelas kita, sebagian mahasiswi tak akan konsen pada materi.” Ucap Debby dengan yakin. Ia juga merasa sedikit kaget dengan berita itu namun sekaligus bersyukur, biar bagaimanapun ia juga perempuan yang tak akan tahan dengan pesona Richard sekalipun di dalam kelas. Tiba-tiba ingatannya dibawa pada kejadian kemarin saat di toko bunga, tak disangka laki-laki itu serius dengan ucapannya.

“Yah, kau benar juga. Setidaknya aku masih bisa melihat dia di kampus walaupun hanya sesekali, itupun kalau beruntung.” Nada bicara Cika terdengar pasrah dan lemas, membuat Debby tersenyum geli mendengarnya. Tapi tunggu? Kenapa Cika berkata seolah-olah bertemu dengan Richard adalah hal yang sulit? Mau tak mau, itu mengganggu pikiran Debby.

“Apa maksudmu dengan ‘jika beruntung’?” tanya Debby yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Kau tak tahu?” Cika menatap Debby lekat-lekat.

“Sungguh!”

“Baiklah akan aku ceritakan. Sepertinya Mr.Edwin Alfredo –ayah Richard- tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk anaknya bisa memegang perusahaana, jadi sekarang si tampan sedang menjalani pelatihan. Tadinya aku berpikir bahwa Richard akan dikirim ke luar negeri dulu untuk mengambil pendidikan S2.” Cika nampak berpikir dengan serius. Debby mengangkat sebelah alisnya, temannya yang satu ini memang selalu penasaran apalagi jika menyangkut hal yang menarik baginya.

“Mungkin karena Richard sudah terlalu jenius.” Timpal Debby asal. “Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk bergosip!” Dengan sedikit memaksa ia menarik tangan Cika agar mempercepat langkahnya menuju kelas.

***
Tak sengaja di bawah tangga Debby dan Cika berpapasan dengan Jannet. Perempuan itu nampak seperti biasa –mempesona-, dari tampilannya saja sudah menggambarkan sosok perempuan yang berpendidikan tinggi. Richard benar-benar perfeksionis, bahkan dalam urusan kekasih!

“Primadona kampus tak didampingi pangerannya,” bisik Cika pada Debby.

“Sudahlah, itu bukan porsimu untuk mengurusi kehidupan mereka,” balas Debby dengan berbisik pula.

“Aku masih tak menyangka kalau Richard akan ditarik secepat itu untuk mengurus perusahaan. Jangan-jangan rumor tentang Mr. Edwin yang sakit parah itu benar,” gumam Cika.

Debby tak lagi menangkap ucapan Cika, perhatiannya kini tengah terpusat pada perutnya yang tiba-tiba keram. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya, tangannya mencekaran perutnya dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.

“Kau kenapa?” Cika nampak khawatir melihat ekspresi Debby yang kesakitan.

“Entahlah..tadi baik-baik saja.” Jawab Debby sambil menggeleng lemah. “Sepertinya penyakit bulanan.”

“Sepertinya? Kau tak pernah mengingat tanggal kapan kau haid?” tanya Cika.

Debby menggeleng. “Kau ke kelas dulu sajalah. Sepertinya aku akan izin hari ini.”

“Kau mau kuantar pulang?” tawar Cika. Ia meragu kalau nanti Debby dapat pulang sendiri melihat keadaannya yang kini sedikit lemas.

“Tak usah, aku bisa duduk sambil menunggu taksi.” Yakin Debby. Ia tak ingin merepotkan Cika, lagi pula ia tak hanya sekali ini mengalami keram perut, walaupun yang ini rasanya lebih sakit dari yang sebelumnya.

“Kau yakin?” tanya Cika sekali lagi yang dijawab dengan anggukan mantap Debby. “Kalau begitu aku ke kelas dulu. Kau hati-hatilah, kalau ada apa-apa hubungi aku, Okay!” Pesan Cika sebelum meninggalkan Debby.

***

Sepeninggal Cika, Debby memutuskan untuk duduk sebentar. setelah dirasa sedikit membaik, ia berjalan menuju jalan untuk menunggu taksi.

Sudah sekitar lima belas menit Debby menunggu, tapi tak ada taksi yang lewat. Ia benar-benar sudah lemas, rasa sakit di perutnya dan matahari yang sudah semakin tinggi sangat menyiksanya. Wajah yang setengah jam lalu masih cerah kini berubah pucat.

Pandangan Debby tak lepas dari ujung jalan, tempat dimana biasanya taksi lewat. Kakinya menghentak beberapa kali antara kesal dan tidak tahan. Ia bersandar di pohon, tubuhnya makin lemas dan oleng...

***

Debby mengerjapkan mata beberapa kali sampai pandangannya jelas. Seketika rasa nyeri di perutnya kembali muncul, namun ia mengabaikan hal itu untuk sejenak dan memilih untuk mengamati ruangan dimana ia berada sekarang. Ia nampak asing di sini.

Mata Debby  menyapu setiap sudut sampai ia menarik kesimpulan bahawa ruangan yang ditempatinya adalah sebuah kamar. Kamar yang bernuansa  maskulin dengan warna hitam putih yang mendominasi. Ia tercengang. Ia tercengang melihat betapa mewah dan besarnya kamar itu, mungkin tiga kali kamarnya. Ranjang yang ia tiduri berada di tengah-tengah, dengan almari besar di sisi kanan. Di samping almari terdapat pintu yang ia yakini adalah pintu kamar mandi karena di sana juga terdapat kaca buram. Tepat di depannya ada satu set home theatre sedangkan di sisi kiri ranjang terdapat kaca besar yang masih tertutup korden putih yang jika disingkap akan membuat sinar matahari berlomba-lomba masuk. Ia juga melihat meja panjang berisi buku-bku, laptop dan beberapa foto yang terpajang di sana.

“Kau sudah sadar?” Suara berat yang bersumber dari pintu masuk kamar membuyarkan pengamatan Debby dan membuatnya berjingkat duduk.

“Kau.. Richard? Apa yang kau lakukan di sini? Dan aku..kenapa aku bisa di sini?” Debby menyerbu laki-laki yang kini berjalan mendekat ke arahnya dengan berbagai pertanyaan. Astaga, jangan dekat! Jangan dekat! Kau membuatku susah bernapas, teriaknya dalam hati.

“Kau ada di kamarku! Tadi aku menemukanmu pingsan di pinggir jalan, kau sangat mengenaskan, ck!” jawab Richard dengan tenang. Ia berdiri di samping ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap intens Debby dengan matanya yang tajam.

“A..apa maksudmu? Kenapa kau tak membawaku pulang?” Debby menaikkan nada bicaranya untuk menutupi rasa gugup yang kini menjalarinya. Benar-benar, kegugupannya bahkan nyaris membuatnya gagap.

Richard menarik kursi ke dekat ranjang dan mendudukinya. “Well, aku tak mau direpotkan dengan gosip atau rumor jika sampai ada yang melihatku di rumahmu. Berhubung orang tuaku sedang dalam perjalanan bisnis, aku bisa membawamu ke sini tanpa diintrogasi.”

“Lalu kenapa kau tak membawaku ke rumah sakit saja?” kejar Debby.

“Hah...” Richard menghela napas. “Aku malu!” jawabnya tegas.

Batin Debby meringis, pasti laki-laki itu malu membawa perempuan seperti dirinya.  Jauh dari kata sempurna!

“Hei.. hei, kau jangan salah paham dulu!” Sergah Richard saat mendapati ekspresi masam Debby. “Aku malu membawa perempuan yang pingsan karena datang bulan,” jelasnya.

Mata Debby sontak melotot, manifestasi antara malu dan marah. Darimana laki-laki ini tahu kalau ia sedang datang bulan. “Kau...” Suaranya tertahan. Entahlah, ia sendiri bingung akan mengatakan apa? Apa langsung menuduhnya atau memutar-mutar kata yang pada akhirnya akan membuatnya semakin malu?

“Kau tenang saja, aku tak melihat apa-apa di balik bajumu. Aku bahkan bisa mengetahuinya dari celanamu. Nodanya sudah terlihat di sana.” Ekspresi Richard sangat tenang. Berbeda dengan Debby pipinya kini bersemu merah. Perempuan itu bergerak-gerak mencoba untuk melihat bagian belakang celananya. “Apa yang kau lakukan? Kau bisa melihatnya di jaketku yang kini kau tindih! Tapi aku tak menganjurkanmu mengambil jaket itu sekarang, kau bisa mengotori ranjangku kalau sampai itu kau lakukan. Bahkan nodanya juga ada di jok mobilku.”

“Hentikan, hentikan!” Pekik Debby. “Kau membuatku malu dengan kata-katamu!” Ia benar-benar ingin menutup mukanya dengan apa saja saat ini. Ahh, kenapa yang menolongnya harus Richard? Laki-laki yang mempesonanya.

“Lantas aku harus bagaimana? Kau sepertinya sangat penasaran dan aku tak mau terjadi kesalah pahaman di sini. Bagaimanapun juga aku tak bisa melakukan apa-apa terhadap  gadis yang sedang datang bulan di atas ranjang.”

“Apa maksudmu ‘yang bisa dilakukan di atas ranjang’?” Debby menatap was-was Richard.

“Apalagi kalau bukan hal yang membuat AC di kamar ini jadi tak terasa? Lalu kau akan seharian di ranjang ini karena mendapati dirimu yang sampai tak bisa berjalan dan...”

“Hentikan perkataan mesummu!” Potong Debby.

“Apa-apaan kau ini? Aku hanya menjawab apa yang kau tanyakan!” Bela Richard.

“Tapi kau aaa..” Debby kembali mencekeram perutnya yang kini bertambah nyeri.

“Kau kenapa? Perlukan kupanggilkan dokter?” Richard sedikit menunduk mengamati wajah kesakitan Debby.

“Tidak! Ini..sudah beberapa kali terjadi.” Debby menghembuskan napas sesaat setelah sakitnya kmbali mereda.

“Apa selalu sakit seperti ini?” tanya Richard yang sedikit menampakan rasa khawatirnya.

“Tak penah sesakit ini. Tapi dalam beberapa hari pasti akan hilang. Kau...bisakah aku meminta tolong?” tanya Debby dengan ragu-ragu.

Richard berpikir sejenak. Ia tahu, tanpa Debby mengatakannya. “Aku benar-benar tak percaya harus mencarikanmu pembalut.” Ia menggeleng pelan. “Nanti akan kusuruh pembantuku untuk membelinya.”

Wajah Debby berbinar. Ternyata Richard tak seburuk perkiraannya. “Terima kasih.”

Richard mengernyitkan kening. “Biasanya sampai berapa hari kau mengalami ini?”

“Tujuh hari!” jawab Debby tanpa pikir panjang.

“Baiklah kalau begitu. Minggu depan aku akan menagih bayaranku.” Richard melenggang kluar kamarnya meninggalkan Debby.

Debby membelalakan matanya tak percaya dengan ucapan Richard, ia juga tak mengerti. Namun apapun itu, ia mencium sesuatu yang tak enak bagi dirinya di sini.

Bersambung


Tidak ada komentar :

Posting Komentar