Baru saja melangkah ke gedung kampus, Debby sudah dibuat
pusing oleh celotehan Cika. Sahabatnya itu mengeluapkan kekecewaannya karena
pangeran kampus –Richard- tak lagi menjadi asisten dosen.
“Ah, aku jadi tak begitu bersemangat seperti
sebelumnya. Sekarang, siapa lagi yang mau kulirik saat mendengarkan mata kuliah
yang sudah seperti pengantar tidur?” Keluh Cika sepanjang jalan. Ah, perempuan
itu memang lebih banyak bicara jika dibandingkan dengan Debby.
“Sudahlah Cik, semester sebelumnya kita juga tak
mempunyai asisten dosen yang tampan seperti Richard, tapi kita masih bisa
mengikuti kuliah dengan baik. Aku jadi merasa kalau seandainya laki-laki itu
menjadi asisten dosen di kelas kita, sebagian mahasiswi tak akan konsen pada
materi.” Ucap Debby dengan yakin. Ia juga merasa sedikit kaget dengan berita
itu namun sekaligus bersyukur, biar bagaimanapun ia juga perempuan yang tak
akan tahan dengan pesona Richard sekalipun di dalam kelas. Tiba-tiba ingatannya
dibawa pada kejadian kemarin saat di toko bunga, tak disangka laki-laki itu
serius dengan ucapannya.
“Yah, kau benar juga. Setidaknya aku masih bisa
melihat dia di kampus walaupun hanya sesekali, itupun kalau beruntung.” Nada
bicara Cika terdengar pasrah dan lemas, membuat Debby tersenyum geli mendengarnya.
Tapi tunggu? Kenapa Cika berkata seolah-olah bertemu dengan Richard adalah hal
yang sulit? Mau tak mau, itu mengganggu pikiran Debby.
“Apa maksudmu dengan ‘jika beruntung’?” tanya Debby
yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Kau tak tahu?” Cika menatap Debby lekat-lekat.
“Sungguh!”
“Baiklah akan aku ceritakan. Sepertinya Mr.Edwin
Alfredo –ayah Richard- tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk anaknya bisa memegang
perusahaana, jadi sekarang si tampan sedang menjalani pelatihan. Tadinya aku
berpikir bahwa Richard akan dikirim ke luar negeri dulu untuk mengambil
pendidikan S2.” Cika nampak berpikir dengan serius. Debby mengangkat sebelah
alisnya, temannya yang satu ini memang selalu penasaran apalagi jika menyangkut
hal yang menarik baginya.
“Mungkin karena Richard sudah terlalu jenius.”
Timpal Debby asal. “Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk bergosip!” Dengan
sedikit memaksa ia menarik tangan Cika agar mempercepat langkahnya menuju
kelas.
***
Tak sengaja di bawah tangga Debby dan Cika
berpapasan dengan Jannet. Perempuan itu nampak seperti biasa –mempesona-, dari
tampilannya saja sudah menggambarkan sosok perempuan yang berpendidikan tinggi.
Richard benar-benar perfeksionis, bahkan dalam urusan kekasih!
“Primadona kampus tak didampingi pangerannya,” bisik
Cika pada Debby.
“Sudahlah, itu bukan porsimu untuk mengurusi
kehidupan mereka,” balas Debby dengan berbisik pula.
“Aku masih tak menyangka kalau Richard akan ditarik
secepat itu untuk mengurus perusahaan. Jangan-jangan rumor tentang Mr. Edwin
yang sakit parah itu benar,” gumam Cika.
Debby tak lagi menangkap ucapan Cika, perhatiannya
kini tengah terpusat pada perutnya yang tiba-tiba keram. Ia menyandarkan
tubuhnya pada dinding di belakangnya, tangannya mencekaran perutnya dan menggigit
bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.
“Kau kenapa?” Cika nampak khawatir melihat ekspresi
Debby yang kesakitan.
“Entahlah..tadi baik-baik saja.” Jawab Debby sambil
menggeleng lemah. “Sepertinya penyakit bulanan.”
“Sepertinya? Kau tak pernah mengingat tanggal kapan
kau haid?” tanya Cika.
Debby menggeleng. “Kau ke kelas dulu sajalah.
Sepertinya aku akan izin hari ini.”
“Kau mau kuantar pulang?” tawar Cika. Ia meragu
kalau nanti Debby dapat pulang sendiri melihat keadaannya yang kini sedikit lemas.
“Tak usah, aku bisa duduk sambil menunggu taksi.”
Yakin Debby. Ia tak ingin merepotkan Cika, lagi pula ia tak hanya sekali ini
mengalami keram perut, walaupun yang ini rasanya lebih sakit dari yang
sebelumnya.
“Kau yakin?” tanya Cika sekali lagi yang dijawab
dengan anggukan mantap Debby. “Kalau begitu aku ke kelas dulu. Kau
hati-hatilah, kalau ada apa-apa hubungi aku, Okay!” Pesan Cika sebelum
meninggalkan Debby.
***
Sepeninggal Cika, Debby memutuskan untuk duduk
sebentar. setelah dirasa sedikit membaik, ia berjalan menuju jalan untuk
menunggu taksi.
Sudah sekitar lima belas menit Debby menunggu, tapi
tak ada taksi yang lewat. Ia benar-benar sudah lemas, rasa sakit di perutnya
dan matahari yang sudah semakin tinggi sangat menyiksanya. Wajah yang setengah
jam lalu masih cerah kini berubah pucat.
Pandangan Debby tak lepas dari ujung jalan, tempat
dimana biasanya taksi lewat. Kakinya menghentak beberapa kali antara kesal dan
tidak tahan. Ia bersandar di pohon, tubuhnya makin lemas dan oleng...
***
Debby mengerjapkan mata beberapa kali sampai
pandangannya jelas. Seketika rasa nyeri di perutnya kembali muncul, namun ia
mengabaikan hal itu untuk sejenak dan memilih untuk mengamati ruangan dimana ia
berada sekarang. Ia nampak asing di sini.
Mata Debby
menyapu setiap sudut sampai ia menarik kesimpulan bahawa ruangan yang
ditempatinya adalah sebuah kamar. Kamar yang bernuansa maskulin dengan warna hitam putih yang
mendominasi. Ia tercengang. Ia tercengang melihat betapa mewah dan besarnya
kamar itu, mungkin tiga kali kamarnya. Ranjang yang ia tiduri berada di
tengah-tengah, dengan almari besar di sisi kanan. Di samping almari terdapat
pintu yang ia yakini adalah pintu kamar mandi karena di sana juga terdapat kaca
buram. Tepat di depannya ada satu set home theatre sedangkan di sisi
kiri ranjang terdapat kaca besar yang masih tertutup korden putih yang jika
disingkap akan membuat sinar matahari berlomba-lomba masuk. Ia juga melihat meja
panjang berisi buku-bku, laptop dan beberapa foto yang terpajang di sana.
“Kau sudah sadar?” Suara berat yang bersumber dari
pintu masuk kamar membuyarkan pengamatan Debby dan membuatnya berjingkat duduk.
“Kau.. Richard? Apa yang kau lakukan di sini? Dan
aku..kenapa aku bisa di sini?” Debby menyerbu laki-laki yang kini berjalan
mendekat ke arahnya dengan berbagai pertanyaan. Astaga, jangan dekat! Jangan
dekat! Kau membuatku susah bernapas, teriaknya dalam hati.
“Kau ada di kamarku! Tadi aku menemukanmu pingsan di
pinggir jalan, kau sangat mengenaskan, ck!” jawab Richard dengan tenang. Ia
berdiri di samping ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap
intens Debby dengan matanya yang tajam.
“A..apa maksudmu? Kenapa kau tak membawaku pulang?”
Debby menaikkan nada bicaranya untuk menutupi rasa gugup yang kini
menjalarinya. Benar-benar, kegugupannya bahkan nyaris membuatnya gagap.
Richard menarik kursi ke dekat ranjang dan
mendudukinya. “Well, aku tak mau direpotkan dengan gosip atau rumor jika
sampai ada yang melihatku di rumahmu. Berhubung orang tuaku sedang dalam
perjalanan bisnis, aku bisa membawamu ke sini tanpa diintrogasi.”
“Lalu kenapa kau tak membawaku ke rumah sakit saja?”
kejar Debby.
“Hah...” Richard menghela napas. “Aku malu!”
jawabnya tegas.
Batin Debby meringis, pasti laki-laki itu malu
membawa perempuan seperti dirinya. Jauh
dari kata sempurna!
“Hei.. hei, kau jangan salah paham dulu!” Sergah
Richard saat mendapati ekspresi masam Debby. “Aku malu membawa perempuan yang
pingsan karena datang bulan,” jelasnya.
Mata Debby sontak melotot, manifestasi antara malu
dan marah. Darimana laki-laki ini tahu kalau ia sedang datang bulan. “Kau...”
Suaranya tertahan. Entahlah, ia sendiri bingung akan mengatakan apa? Apa
langsung menuduhnya atau memutar-mutar kata yang pada akhirnya akan membuatnya
semakin malu?
“Kau tenang saja, aku tak melihat apa-apa di balik
bajumu. Aku bahkan bisa mengetahuinya dari celanamu. Nodanya sudah terlihat di
sana.” Ekspresi Richard sangat tenang. Berbeda dengan Debby pipinya kini
bersemu merah. Perempuan itu bergerak-gerak mencoba untuk melihat bagian
belakang celananya. “Apa yang kau lakukan? Kau bisa melihatnya di jaketku yang
kini kau tindih! Tapi aku tak menganjurkanmu mengambil jaket itu sekarang, kau
bisa mengotori ranjangku kalau sampai itu kau lakukan. Bahkan nodanya juga ada
di jok mobilku.”
“Hentikan, hentikan!” Pekik Debby. “Kau
membuatku malu dengan kata-katamu!” Ia benar-benar ingin menutup mukanya dengan
apa saja saat ini. Ahh, kenapa yang menolongnya harus Richard? Laki-laki yang
mempesonanya.
“Lantas aku harus bagaimana? Kau sepertinya sangat
penasaran dan aku tak mau terjadi kesalah pahaman di sini. Bagaimanapun juga
aku tak bisa melakukan apa-apa terhadap gadis yang sedang datang bulan di atas ranjang.”
“Apa maksudmu ‘yang bisa dilakukan di atas
ranjang’?” Debby menatap was-was Richard.
“Apalagi kalau bukan hal yang membuat AC di kamar
ini jadi tak terasa? Lalu kau akan seharian di ranjang ini karena mendapati
dirimu yang sampai tak bisa berjalan dan...”
“Hentikan perkataan mesummu!” Potong Debby.
“Apa-apaan kau ini? Aku hanya menjawab apa yang kau
tanyakan!” Bela Richard.
“Tapi kau aaa..” Debby kembali mencekeram perutnya
yang kini bertambah nyeri.
“Kau kenapa? Perlukan kupanggilkan dokter?” Richard
sedikit menunduk mengamati wajah kesakitan Debby.
“Tidak! Ini..sudah beberapa kali terjadi.” Debby
menghembuskan napas sesaat setelah sakitnya kmbali mereda.
“Apa selalu sakit seperti ini?” tanya Richard yang
sedikit menampakan rasa khawatirnya.
“Tak penah sesakit ini. Tapi dalam beberapa hari
pasti akan hilang. Kau...bisakah aku meminta tolong?” tanya Debby dengan
ragu-ragu.
Richard berpikir sejenak. Ia tahu, tanpa Debby
mengatakannya. “Aku benar-benar tak percaya harus mencarikanmu pembalut.” Ia
menggeleng pelan. “Nanti akan kusuruh pembantuku untuk membelinya.”
Wajah Debby berbinar. Ternyata Richard tak seburuk
perkiraannya. “Terima kasih.”
Richard mengernyitkan kening. “Biasanya sampai
berapa hari kau mengalami ini?”
“Tujuh hari!” jawab Debby tanpa pikir panjang.
“Baiklah kalau begitu. Minggu depan aku akan menagih
bayaranku.” Richard melenggang kluar kamarnya meninggalkan Debby.
Debby membelalakan matanya tak percaya dengan ucapan
Richard, ia juga tak mengerti. Namun apapun itu, ia mencium sesuatu yang tak
enak bagi dirinya di sini.
Bersambung

Tidak ada komentar :
Posting Komentar