Blogger Widgets

Label

Selasa, 14 Januari 2014

It's Okay, Dear part 7



“Baiklah, terserah kau saja! Aku tak peduli, intinya kau tak akan menyukaiku, bukan?” Ucap Richard akhirnya. Ahh, baguslah kalau dia tak mengungkitnya lagi, aku tak siap jika harus memujinya kemudian dia dengan kepalanya yang tampan akan mencemoohku.
“Apa urusan kita sudah selesai? Aku ingin pulang.”
Richard mengernyitkan keningnya, nampak seperti tak suka dengan ucapanku. “Kenapa harus buru-buru? Kita bahkan belum membicarakan soal peraturan tentang perjanjian kita ini.”
Peraturan? Dia benar juga, aku harus berhati-hati bermain dengan laki-laki ini dan jangan sampai dia memanfaatkan atau bahkan merugikanku, cukup dia menjebakku dengan terpaksa mengikuti permainan gilanya. “Baiklah, dimulai darimu!”
“Jangan terburu-buru, Debby. Kau terlalu ceroboh! Aku ingin membicarakannya di tempat lain karena setiap dinding di rumah ini mempunyai telinga.” Richard menarikku –membawa  keluar kamar-. Sekarang siapa yang terlalu buru-buru? Aku bahkan belum sempat meminum softdrink-ku.
***
Aku dan Richard masih berada di dalam mobilnya yang berhenti di depan rumah mewah walaupun tak sebesar dengan mansionnya yang tadi. Tapi aku tahu kalau harga satu rumah di perumahan ini mencapai tiga kali lipat harga rumahku.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Richard yang kini mendekatkan wajahnya padaku.
“Dimana kita?” Aku berusaha setenang mungkin di tengah kondisi yang tak nyaman bagiku, walaupun aku cukup menikmati parasnya. Tak tahukah dia kalau aku bisa saja seketika menjadi liar dan menjamah wajah tampannya dengan sesukaku?
“Kita sedang berada di rumahku.” Richard tetap tak merubah posisinya dan sialnya dia terlihat santai.
“Rumahmu? Bukankah rumahmu bukan ini?” Aku mulai mengingat kembali kejadian saat aku pingsan minggu lalu. Aku ingat benar kalau rumahnya sangat berbeda dengan bangunan mewah yang kini berdiri kokoh di depan kami. Astaga, aku bisa gila kalau mengetahui kekayaannnya, mengerikan. “Kau benar-benar kaya!”
“Sesuai dengan namaku bukan? Richard, rich?”
“Ya, kau benar juga! Mungkin aku bisa menamai anakku kelak ‘kaya raya’.” Aku berubah menjadi serius dan mengangguk puas seolah baru saja menemukan ide terbaik.
“Aku tak suka nama itu!”
“Memangnya kau pikir aku akan punya anak denganmu!” Aku berdecak sebagai tanda cibiranku terhadap Richard, dan ini hanya sebagai kedok. Yang benar saja, siapa yang tak mau bersanding, memiliki anak, dan hidup bahagia dengannya? Dia tampan, kaya, dan jenius.
“Sudahlah, jangan membuang waktu lebih banyak lagi!” Richard menjauhkan wajahnya dariku lalu turun dari mobil. Lagi-lagi meninggalkanku. Tak bisakah dia membukakan pintu untukku sebagai bentuk sopan santun?
***
Richard menulis beberapa peraturan menyangkut sandiwara kami, sedangkan aku sibuk mengamati interior dari ruang tamu rumahnya. Rumah ini sangat berbeda dengan tadi, ini bergaya minimalis tapi mewah. Oh, ada kaca besar yang menghadap taman. Rasanya aku akan betah kalau tinggal di sini, setiap pagi sampai sore bisa menikmati taman yang indah, dan malam harinya bisa melihat bintang.
“Ini!” Richard melemparkan kertas di depanku, dan sukses menyentakan khayalanku.
Dengan sedikit kesal, kuambil kertas itu dan mulai membaca  satu per satu butir peraturan yang telah ditulisnya.
Peraturan selama sandiwara :
1. Tidak boleh menjalin hubungan dengan orang lain selama sandiwara.
2. Sandiwara hanya diketahui ketahui kedua belah pihak.
3. Saling menghargai privasi masing-masing pihak, kecuali yang menyangkut sandiwara.
4. Jika salah satu pihak melanggar peraturan, maka harus siap menanggung konsekuensi yang diberikan oleh pihak kedua.
5. Peraturan lain bisa ditambahkan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
“Tambahkan ‘dilarangan melakukan sentuhan fisik yang berlebihan’!” Suruhku dengan tegas. Dan ekspresiku seketika berubah saat melihat kernyitan dahi Richard. “Aku hanya ingin berjaga-jaga saja!” Jelasku agar ia tak memikirkan yang macam-macam.
“Apa kau yakin aku akan menyentuhmu secara berlebihan? Sepertinya kau yang akan menyerangku, Nona.”
“Pokoknya tambahkan!” Kutinggikan nada bicaraku agar Richard tak mendengar suaraku yang tiba-tiba bergetar. Ya, dia benar, peraturan itu untuk membatasi kami karena aku tak tahu akan segila apa aku nanti.
“Sentuhan fisik seperti apa yang menurutmu tidak berlebihan?” tanya Richard dengan santai. Ah, kalau saja dia tahu, melihatnya saja sudah cukup berlebihan bagiku karena berpotensi membuatku ‘kacau’.
“Bergandengan!” Jawabku dengan penuh keyakinan. Sepertinya, sepulang dari sini nanti, aku harus berlatih untuk menahan tanganku.
“Bergandengan? Kau pikir aku sedang berjalan dengan anak kecil? Kita butuh sedikit pelukan untuk meyakinkan!”
“Ba... Baiklah! Hanya sebatas itu!” Kulihat Richard mulai menuliskan peraturan tambahan. Baguslah, aku aman sekarang!
“Puas?”
“Ya!”
“Kalau begitu, kita mulai dari besok!” Putus Richard dan mau tak mau aku mengangguk setuju.

***
Oh my God, i’m late again! Ada apa dengan ponselku? Kenapa aku tak bisa mendengar alarm sama sekali tadi? Kalau bukan karena mendengar suara teriakan penjual sayur, aku pasti masih asyik meringkuk di tempat tidur.
Dalam waktu setengah jam, aku selesai mandi dan berganti baju. Masa bodoh dengan mix and match,lagipula selama ini tak ada yang memperhatikan penampilanku. Dengan asal-asalan,kucepol rambutku yang panjangnya sudah berlebihan. Sepertinya, aku harus menjadwalkan potong rambut minggu ini. Masalah penampilan selesai!
Astaga, aku benci kebiasaanku yang muncul di saat sedang panik. Apa jadwal kuliahku hari ini? Dengan tergesa-gesa aku membuka-buka buku, mencari dimana aku menyimpan jadwal kuliah. Aku tak pernah menempelkan jadwal kuliah karena itu sangat mudah diingat, tapi juga mudah dilupakan saat panik. Ah, ketemu! Tapi bagaimana bisa jadwal kuliah terselip di novel? Benar-benar ceroboh!
Sebelum keluar kamar, aku menatap miris kondisinya. Sangat berantakan, terutama di meja belajar. Ibu pasti akan mengomeliku, apalagi jika tahu ini disebabkan karena aku terlambat bangun.
‘Tin tin’
Suara klakson mobil? Aku tersenyum mendengarnya. Ah, Steve, you’re my hero!
***
“Apa yang kau lakukan di sini?” Aku menatap heran Richard yang sedang bersandar di mobil dengan gayanya yang cool, dan beberapa ibu-ibu yang membeli sayur menatapnya dengan kagum. Ya aku bisa memakluminya, karena ketampanan laki-laki ini diluar batas kewajaran.
“Aku hanya menjemput kekasihku.”
Kuputar bola mataku. Pagi-pagi sudah merayu! Karena tak ingin lebih lama dipandangi ibu-ibu, aku segera masuk ke dalam mobil Richard. Lagipula, aku juga sudah terlambat!
***
“Kau sepertinya tak suka aku menjemputmu?” tanya Richard saat kami sudah memasuki mobil. Tak suka? Apa ekspresiku sangat terlihat tadi?
“Bukannya tak suka, aku hanya kaget saja!” Elakku. “Kukira kau Steve!”
“Apa dia sering mengantarmu kuliah?”
“Peraturan nomor tiga!” Aku mengingatkan Richard tentang peraturan yang kemarin kami buat. Pasti sekarang dia kesal karena tak mendapat yang diinginkannya.
“Tapi ini menyangkut sandiwara kita. Kau adalah kekasihku, dan bagaimana kalau orang-orang tahu kau...”
“Aku bisa mengatasi hal itu!” Potongku. Ck! Harusnya aku juga ingat kalau Richard sangat pintar berbicara.
“Kau ingat dengan perkataanku kemarin?” tanya Richard lagi. Astaga, tak bisakah ia membiarkanku berangkat kuliah tanpa harus memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya?
“Perkataanmu yang mana? Kau banyak bicara kemarin!” tanyaku balik.
“Kita memulai sandiwara hari ini.” Jawabnya dengan penuh penekanan di setiap kata.
“Tak perlu orang sejenius dirimu hanya untuk mengingat hal itu.”
“Kalau begitu, kenapa kau berpenampilan seperti ini?”
 Apa yang dia katakan? Penampilan? Memangnya ada yang salah dengan penampilanku? Ya, ada yang salah! Rambut cepol berantakan, hoodie, jeans, sneaker. Sepertinya aku akan terlihat seperti preman atau bodyguard jika nanti berjalan dengannya.
“Aku bangun terlambat, jadi tak ada waktu untuk sekadar berdandan.”  Jelasku dengan nada suara serendah mungkin. Ini sungguh memalukan!
Richard menggerakan tangan kirinya untuk menggapai rambutku. Lalu, dengan sekali sentak, cepol yang kubuat kurang dari lima menit lepas seketika.
“Rapikan rambutmu, itu akan membuatmu terlihat sedikit anggun!” Perintah Richard tak terbantahkan.
Aku berdecak  mendengar perintahnya, namun tetap saja kurapikan rambutku, bukan untuk menyenangkannya tapi supaya aku tak dipanggil preman. Beruntung, hair mask yang rutin kulakukan membuat rambutku mudah diatur.
***
Aku sampai di kampus tepat sepuluh menit sebelum perkuliahan dimulai. Ternyata mempunyai kekasih cukup menyenangkan juga, walaupun hanya pura-pura. Saat akan turun dari mobil, Richard juga membukakan pintu mobil untukku. Kurasa dia sangat pintar dalam berakting.
“Kenapa kau tak jadi aktor saja? Kau pintar berkating.”  Aku merapikan rambutku kembali yang sempat tertiup angin.

“Aku hanya ingin kita terlihat seperti sepasang kekasih.” Richard menggandeng tanganku mulai membawaku untuk mengikuti langkahnya. “Hari ini kau mengikuti kelas MR.Darwing bukan?”
Itu pernyataan bukan pertanyaan. Apakah ia ingat juga kalau hari ini pertama kalinya kita bertemu? Aku yang memandangnya penuh rasa kagum dan berakhir dengan tegurannya di kelas karena mendapatiku mengobrol dengan Chika.
***

Di sepanjang jalan menuju kelas, aku melihat beberapa pasang mata –terutama dari para gadis- memperhatikanku dan Richard. Aku yakin sekarang mereka bertanya-tanya ‘siapa yang berjalan dengan Richard?’ , ‘Gadis itu sangat menganggu jika bersanding dengan Richard!’ , ‘Apakah itu kekasih Richard? Kurasa ia sedang mabuk saat memilihnya.’
“Kenapa kau berpikiran hal yang buruk?” Ucap Richard pelan, yang hanya bisa kudengar.
“Darimana kau tahu?”
“Kau sangat mudah dibaca, Honey. Ekspresi tadi juga tak enak dilihat.” Jawab Richard dengan lembut. Astaga, laki-laki ini membuatku seperti kekasih yang sebenarnya. “Kau bahkan tak sadar kalau kita sudah berada di depan kelasmu.”
Aku memutar badan menghadap pintu. Kuangkat kepalaku untuk melihat nama ruangan yang berada di atas pintu. Dia benar, sudah sampai kelas! Apakah aku terlalu nyaman bersamanya sampai-sampai waktu terasa begitu cepat. Ah, tidak! Tadi aku hanya terlalu sibuk dengan pandangan orang, makanya aku tak sadar.
“Belajarlah yang rajin, nanti kita pulang bersama.”
Aku menghela napas kasar mendengar perintahnya lagi dan lagi. “Kau tahu, aku tak suka diatur oleh orang yang lebih muda dariku!”
“Dan kau tahu, aku tak suka kau membahas soal umur! Come on, cinta tak mengenal usia.” Balasnya dengan santai. Tapi, kalau aku tak salah, aku sempat melihat kilatan di matanya tadi. “Aku pergi.” Richard benar-benar pergi sebelum aku sempat membalas ucapannya. Rasanya aku semakin terlihat bodoh kalau berhadapan dengan laki-laki itu.
***
Baru saja aku menduduki kursi, Chika sudah menatapku dengan... Oh God, aku tahu arti tatapan seperti ini, dan bukan hanya Chika yang melakukannya. Hampir setiap orang dalam kelasku juga menatapku.
“Aku sedang tak ingin membicarakan apapun, Chika!” Aku memilih mengabaikan Chika dan  mulai menyiapkan buku-buku yang akan dipakai saat kuliah nanti.
“Ayolah, Deb. Kau tak kasihan melihat tatapan-penasaran-setengah-mati-kami?” Rengek Chika.
Just believe what you’ve seen!”
“Astaga! Richard and you are dating? How can? Too difficult to believe it!”
In this world, everything is possible, Chika!”
Aku malas jika harus menjelaskannya kepada Chika. Memangnya apa yang akan kujelaskan nanti? Kalau pasangan normal bisa saja menjelaskan awal mereka pendekatan sampai berpacaran dengan baik, tapi itu jelas tidak untukku! Aku juga tak mungkin menjelaskan soal sandiwara kami, Richard akan membunuhku jika aku melakukannya.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar