“Baiklah, terserah kau
saja! Aku tak peduli, intinya kau tak akan menyukaiku, bukan?” Ucap Richard
akhirnya. Ahh, baguslah kalau dia tak mengungkitnya lagi, aku tak siap jika
harus memujinya kemudian dia dengan kepalanya yang tampan akan mencemoohku.
“Apa urusan kita sudah
selesai? Aku ingin pulang.”
Richard mengernyitkan
keningnya, nampak seperti tak suka dengan ucapanku. “Kenapa harus buru-buru?
Kita bahkan belum membicarakan soal peraturan tentang perjanjian kita ini.”
Peraturan? Dia benar
juga, aku harus berhati-hati bermain dengan laki-laki ini dan jangan sampai dia
memanfaatkan atau bahkan merugikanku, cukup dia menjebakku dengan terpaksa
mengikuti permainan gilanya. “Baiklah, dimulai darimu!”
“Jangan terburu-buru,
Debby. Kau terlalu ceroboh! Aku ingin membicarakannya di tempat lain
karena setiap dinding di rumah ini mempunyai telinga.” Richard menarikku
–membawa keluar kamar-. Sekarang siapa
yang terlalu buru-buru? Aku bahkan belum sempat meminum softdrink-ku.
***
Aku dan Richard masih
berada di dalam mobilnya yang berhenti di depan rumah mewah walaupun tak
sebesar dengan mansionnya yang tadi. Tapi aku tahu kalau harga satu rumah di
perumahan ini mencapai tiga kali lipat harga rumahku.
“Apa yang sedang kau
pikirkan?” tanya Richard yang kini mendekatkan wajahnya padaku.
“Dimana kita?” Aku
berusaha setenang mungkin di tengah kondisi yang tak nyaman bagiku, walaupun
aku cukup menikmati parasnya. Tak tahukah dia kalau aku bisa saja seketika
menjadi liar dan menjamah wajah tampannya dengan sesukaku?
“Kita sedang berada di
rumahku.” Richard tetap tak merubah posisinya dan sialnya dia terlihat santai.
“Rumahmu? Bukankah
rumahmu bukan ini?” Aku mulai mengingat kembali kejadian saat aku pingsan
minggu lalu. Aku ingat benar kalau rumahnya sangat berbeda dengan bangunan
mewah yang kini berdiri kokoh di depan kami. Astaga, aku bisa gila kalau
mengetahui kekayaannnya, mengerikan. “Kau benar-benar kaya!”
“Sesuai dengan namaku
bukan? Richard, rich?”
“Ya, kau benar juga!
Mungkin aku bisa menamai anakku kelak ‘kaya raya’.” Aku berubah menjadi serius
dan mengangguk puas seolah baru saja menemukan ide terbaik.
“Aku tak suka nama
itu!”
“Memangnya kau pikir
aku akan punya anak denganmu!” Aku berdecak sebagai tanda cibiranku terhadap
Richard, dan ini hanya sebagai kedok. Yang benar saja, siapa yang tak
mau bersanding, memiliki anak, dan hidup bahagia dengannya? Dia tampan, kaya,
dan jenius.
“Sudahlah, jangan
membuang waktu lebih banyak lagi!” Richard menjauhkan wajahnya dariku lalu
turun dari mobil. Lagi-lagi meninggalkanku. Tak bisakah dia membukakan pintu
untukku sebagai bentuk sopan santun?
***
Richard menulis
beberapa peraturan menyangkut sandiwara kami, sedangkan aku sibuk mengamati
interior dari ruang tamu rumahnya. Rumah ini sangat berbeda dengan tadi, ini
bergaya minimalis tapi mewah. Oh, ada kaca besar yang menghadap taman. Rasanya
aku akan betah kalau tinggal di sini, setiap pagi sampai sore bisa menikmati
taman yang indah, dan malam harinya bisa melihat bintang.
“Ini!” Richard
melemparkan kertas di depanku, dan sukses menyentakan khayalanku.
Dengan sedikit kesal,
kuambil kertas itu dan mulai membaca satu per satu butir peraturan yang telah
ditulisnya.
Peraturan selama
sandiwara :
1. Tidak boleh
menjalin hubungan dengan orang lain selama sandiwara.
2. Sandiwara hanya
diketahui ketahui kedua belah pihak.
3. Saling
menghargai privasi masing-masing pihak, kecuali yang menyangkut sandiwara.
4. Jika salah
satu pihak melanggar peraturan, maka harus siap menanggung konsekuensi yang
diberikan oleh pihak kedua.
5. Peraturan lain
bisa ditambahkan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
“Tambahkan ‘dilarangan
melakukan sentuhan fisik yang berlebihan’!” Suruhku dengan tegas. Dan
ekspresiku seketika berubah saat melihat kernyitan dahi Richard. “Aku hanya
ingin berjaga-jaga saja!” Jelasku agar ia tak memikirkan yang macam-macam.
“Apa kau yakin aku akan
menyentuhmu secara berlebihan? Sepertinya kau yang akan menyerangku, Nona.”
“Pokoknya tambahkan!”
Kutinggikan nada bicaraku agar Richard tak mendengar suaraku yang tiba-tiba bergetar.
Ya, dia benar, peraturan itu untuk membatasi kami karena aku tak tahu akan
segila apa aku nanti.
“Sentuhan fisik seperti
apa yang menurutmu tidak berlebihan?” tanya Richard dengan santai. Ah,
kalau saja dia tahu, melihatnya saja sudah cukup berlebihan bagiku karena
berpotensi membuatku ‘kacau’.
“Bergandengan!” Jawabku
dengan penuh keyakinan. Sepertinya, sepulang dari sini nanti, aku harus
berlatih untuk menahan tanganku.
“Bergandengan? Kau
pikir aku sedang berjalan dengan anak kecil? Kita butuh sedikit pelukan untuk
meyakinkan!”
“Ba... Baiklah! Hanya
sebatas itu!” Kulihat Richard mulai menuliskan peraturan tambahan. Baguslah,
aku aman sekarang!
“Puas?”
“Ya!”
“Kalau begitu, kita
mulai dari besok!” Putus Richard dan mau tak mau aku mengangguk setuju.
***
Oh my God, i’m late
again! Ada apa dengan ponselku? Kenapa aku tak bisa
mendengar alarm sama sekali tadi? Kalau bukan karena mendengar suara teriakan
penjual sayur, aku pasti masih asyik meringkuk di tempat tidur.
Dalam waktu setengah
jam, aku selesai mandi dan berganti baju. Masa bodoh dengan mix and match,lagipula
selama ini tak ada yang memperhatikan penampilanku. Dengan asal-asalan,kucepol
rambutku yang panjangnya sudah berlebihan. Sepertinya, aku harus menjadwalkan
potong rambut minggu ini. Masalah penampilan selesai!
Astaga, aku benci
kebiasaanku yang muncul di saat sedang panik. Apa jadwal kuliahku hari ini?
Dengan tergesa-gesa aku membuka-buka buku, mencari dimana aku menyimpan jadwal
kuliah. Aku tak pernah menempelkan jadwal kuliah karena itu sangat mudah
diingat, tapi juga mudah dilupakan saat panik. Ah, ketemu! Tapi bagaimana bisa
jadwal kuliah terselip di novel? Benar-benar ceroboh!
Sebelum keluar kamar,
aku menatap miris kondisinya. Sangat berantakan, terutama di meja belajar. Ibu
pasti akan mengomeliku, apalagi jika tahu ini disebabkan karena aku terlambat
bangun.
‘Tin tin’
Suara klakson mobil?
Aku tersenyum mendengarnya. Ah, Steve, you’re my hero!
***
“Apa yang kau lakukan
di sini?” Aku menatap heran Richard yang sedang bersandar di mobil dengan
gayanya yang cool, dan beberapa ibu-ibu yang membeli sayur menatapnya
dengan kagum. Ya aku bisa memakluminya, karena ketampanan laki-laki ini diluar
batas kewajaran.
“Aku hanya menjemput
kekasihku.”
Kuputar bola mataku. Pagi-pagi
sudah merayu! Karena tak ingin lebih lama dipandangi ibu-ibu, aku segera
masuk ke dalam mobil Richard. Lagipula, aku juga sudah terlambat!
***
“Kau sepertinya tak
suka aku menjemputmu?” tanya Richard saat kami sudah memasuki mobil. Tak suka?
Apa ekspresiku sangat terlihat tadi?
“Bukannya tak suka, aku
hanya kaget saja!” Elakku. “Kukira kau Steve!”
“Apa dia sering
mengantarmu kuliah?”
“Peraturan nomor tiga!”
Aku mengingatkan Richard tentang peraturan yang kemarin kami buat. Pasti
sekarang dia kesal karena tak mendapat yang diinginkannya.
“Tapi ini menyangkut
sandiwara kita. Kau adalah kekasihku, dan bagaimana kalau orang-orang tahu
kau...”
“Aku bisa mengatasi hal
itu!” Potongku. Ck! Harusnya aku juga ingat kalau Richard sangat pintar
berbicara.
“Kau ingat dengan
perkataanku kemarin?” tanya Richard lagi. Astaga, tak bisakah ia membiarkanku
berangkat kuliah tanpa harus memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya?
“Perkataanmu yang mana?
Kau banyak bicara kemarin!” tanyaku balik.
“Tak perlu orang
sejenius dirimu hanya untuk mengingat hal itu.”
“Kalau begitu, kenapa
kau berpenampilan seperti ini?”
Apa yang dia katakan? Penampilan? Memangnya
ada yang salah dengan penampilanku? Ya, ada yang salah! Rambut cepol
berantakan, hoodie, jeans, sneaker. Sepertinya aku akan terlihat
seperti preman atau bodyguard jika nanti berjalan dengannya.
“Aku bangun terlambat,
jadi tak ada waktu untuk sekadar berdandan.”
Jelasku dengan nada suara serendah mungkin. Ini sungguh memalukan!
Richard menggerakan
tangan kirinya untuk menggapai rambutku. Lalu, dengan sekali sentak, cepol yang
kubuat kurang dari lima menit lepas seketika.
“Rapikan rambutmu, itu
akan membuatmu terlihat sedikit anggun!” Perintah Richard tak terbantahkan.
Aku berdecak mendengar perintahnya, namun tetap saja
kurapikan rambutku, bukan untuk menyenangkannya tapi supaya aku tak dipanggil
preman. Beruntung, hair mask yang rutin kulakukan membuat rambutku mudah
diatur.
***
Aku sampai di kampus
tepat sepuluh menit sebelum perkuliahan dimulai. Ternyata mempunyai kekasih
cukup menyenangkan juga, walaupun hanya pura-pura. Saat akan turun dari mobil,
Richard juga membukakan pintu mobil untukku. Kurasa dia sangat pintar dalam
berakting.
“Kenapa kau tak jadi aktor
saja? Kau pintar berkating.” Aku
merapikan rambutku kembali yang sempat tertiup angin.
“Aku hanya ingin kita terlihat seperti sepasang kekasih.” Richard menggandeng tanganku mulai membawaku untuk mengikuti langkahnya. “Hari ini kau mengikuti kelas MR.Darwing bukan?”
Itu pernyataan bukan
pertanyaan. Apakah ia ingat juga kalau hari ini pertama kalinya kita bertemu?
Aku yang memandangnya penuh rasa kagum dan berakhir dengan tegurannya di kelas
karena mendapatiku mengobrol dengan Chika.
***
***
“Kenapa kau berpikiran
hal yang buruk?” Ucap Richard pelan, yang hanya bisa kudengar.
“Darimana kau tahu?”
“Kau sangat mudah
dibaca, Honey. Ekspresi tadi juga tak enak dilihat.” Jawab Richard
dengan lembut. Astaga, laki-laki ini membuatku seperti kekasih yang sebenarnya.
“Kau bahkan tak sadar kalau kita sudah berada di depan kelasmu.”
Aku memutar badan
menghadap pintu. Kuangkat kepalaku untuk melihat nama ruangan yang berada di
atas pintu. Dia benar, sudah sampai kelas! Apakah aku terlalu nyaman bersamanya
sampai-sampai waktu terasa begitu cepat. Ah, tidak! Tadi aku hanya
terlalu sibuk dengan pandangan orang, makanya aku tak sadar.
“Belajarlah yang rajin,
nanti kita pulang bersama.”
Aku menghela napas
kasar mendengar perintahnya lagi dan lagi. “Kau tahu, aku tak suka diatur oleh
orang yang lebih muda dariku!”
“Dan kau tahu, aku tak
suka kau membahas soal umur! Come on, cinta tak mengenal usia.” Balasnya
dengan santai. Tapi, kalau aku tak salah, aku sempat melihat kilatan di matanya
tadi. “Aku pergi.” Richard benar-benar pergi sebelum aku sempat membalas
ucapannya. Rasanya aku semakin terlihat bodoh kalau berhadapan dengan laki-laki
itu.
***
Baru saja aku menduduki
kursi, Chika sudah menatapku dengan... Oh God, aku tahu arti tatapan
seperti ini, dan bukan hanya Chika yang melakukannya. Hampir setiap orang dalam
kelasku juga menatapku.
“Aku sedang tak ingin
membicarakan apapun, Chika!” Aku memilih mengabaikan Chika dan mulai menyiapkan buku-buku yang akan dipakai
saat kuliah nanti.
“Ayolah, Deb. Kau tak
kasihan melihat tatapan-penasaran-setengah-mati-kami?” Rengek Chika.
“Just believe what
you’ve seen!”
“Astaga! Richard and
you are dating? How can? Too difficult to believe it!”
“In this world,
everything is possible, Chika!”
Aku malas jika harus
menjelaskannya kepada Chika. Memangnya apa yang akan kujelaskan nanti? Kalau
pasangan normal bisa saja menjelaskan awal mereka pendekatan sampai berpacaran
dengan baik, tapi itu jelas tidak untukku! Aku juga tak mungkin menjelaskan
soal sandiwara kami, Richard akan membunuhku jika aku melakukannya.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar