Blogger Widgets

Label

Senin, 19 Agustus 2013

It's Okay, Dear part 3



Richard menggelengkan kepala menatap dua kantong kertas yang berada di tangannya. Ia tersenyum misterius lalu dengan langkah mantap memasuki kamarnya.

Mata Richard terfokus pada Debby  yang tengah terlelap di ranjang. Perlahan ia mendekat, mengamati setiap detail paras perempuan itu , merekamnya ke dalam memori. Sisi pinggir ranjang yang kosong ia duduki dan kantong yang di pegangnya ia letakkan di meja.


“Hei, kau mau bangun atau menginap di sini?” Richard menunggu mata Debby terbuka, namun ia tak mendapati respon apapun. “Baiklah kalau kau ingin dibangunkan ala Putri Salju,” perlahan Richard mendekatkan wajahnya pada Debby...

“Apa yang ingin kau lakukan?!” Debby seketika mendorong tubuh Richard sampai hampir terjengkang. Ia segera duduk, meraih selimut dan dengan pegangan erat menariknya sampai dada.

“Aku hanya ingin membangunkanmu! Dasar tukang tidur!” Cibir Richard. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap Debby seolah tanpa minat.

“Ha..haruskah kau sedekat itu? Atau kau ingin mencuri kesempatan?” tuduh Debby. Ia begitu kacau karena jantungnya berdetak begitu cepat. Demi Tuhan , sekarang ia di kamar Richard, laki-laki yang mempesonanya apalagi saat jarak mereka sedekat  tadi.

“Kesempatan seperti apa yang ingin kucuri? Jangan memikirkan yang tidak-tidak Nona!”

Wajah Debby merona  mendengar ucapan Richard. Kenapa laki-laki itu berkata seolah-olah ia tidak menarik? Tapi kalau dipikir-pikir, Janet sudah sempurna dan ia tak ada apa-apanya. Ah, itu membuat kepercayaan dirinya semakin kritis. “Jangan dekat-dekat denganku lagi!” Debby mengeluarkan kata-kata itu dengan lancar dan ia merasa sudah mengatakan hal yang benar. Jangan dekat-dekat lagi atau aku tak akan bisa menahan diriku sendiri, batinnya.

“Kalau begitu pakailah yang telah kusiapkan!” Richard mengarahkan dagunya ke meja, “Dan jangan membuat bekas apapun. Kuharap kau mengerti!” Setelah memastikan Debby melihat isi kantong kertas, ia melangkah keluar kamar.

***
Kantong pertama berisi pembalut, ok yang ini tak ada masalah tapi Debby sempat memikirkan bagaimana Richard dapat mendapatkan benda itu. Saat membuka kantong kedua ia nyaris tak berkedip. Baju branded yang sangat terkenal. Ah, ia tak mau membayangkan berapa harganya, sekarang ia malah berpikiran untuk mengembalikan baju itu nantinya.

“Richard benar-benar mengerikan!” gumam Debby sambil melangkah ke kamar mandi.

Keluar dari kamar mandi, Debby menuju kaca besar yang menempel pada lemari. Ia berkali-kali melenggak-lenggok untuk memastikan penampilannya sudah rapi apa belum.

“Kau sudah selesai rupanya?” Richard muncul dari balik pintu dan mendekat pada Debby.

“Kenapa kau tak mengetuk pintu? Kau tak sopan! Bagaimana kalau tadi aku belum selesai?” geram Debby.

“Memangnya kenapa kalau kau belum selesai? Aku benar-benar tak tertarik padamu, tak ada yang bisa kulakukan jika keadaanmu seperti ini,” ucap Richard santai. Bertindak acuh dengan berbagai ekspresi Debby yang ditujukan kepadanya.

“Apa maksudmu?” tanya Debby dengan was-was.

Pertanyaan Debby terabaikan begitu saja. Kini Richard menuju ranjangnya. “Kau yakin tak meninggalkan bekas apapun di sini? Aku tak mau dituduh melakukan hal yang belum kulakukan.”

Debby menyusul Richard menuju samping ranjang. Matanya ikut menjelajahi setiap inci dari tempat yang tadi ditidurinya. “Aku yakin!” jawab Debby mantap. “Lagipula kalaupun ada sesuatu –bekas- di sana aku yakin itu bukan dariku, kau kan punya kekasih jadi orang berpikir kalau itu bekas itu dari..” Ia lekas menutup mulutnya yang terlalu banyak bicara dan tertunduk, tak berani menatap lawan bicaranya.

Richard seakan tak peduli dengan ucapan-pembelaan Debby. Ia mengubah posisinya mejadi menghadap Debby lalu berbisik, “What do you think about ‘one night stand’?” Mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“HEI!” Pekik Debby. Ia berhadapan langsung dengan wajah Richard dan menatap tajam laki-laki itu. “Kau pikir aku perempuan seperti apa?”

Richard mengangkat satu alisnya dan tetap memberikan tatapan tenang. “Kenapa kau menatapku seperti itu?  Apa kau merasa sudah cukup menarik? Lagipula sebagian identitasmu sudah kuketahui, jadi kau jangan berharap apa-apa tentang pertanyaanku tadi!”

Debby tercekat, bodoh! Ia benar-benar malu, malu, malu! Sekarang ia tak tahu harus dimana menaruh mukanya. Richard pasti menganggapnya sebagai perempuan mesum dan sangat menginginkan laki-laki itu. Astaga, bolehkah ia membuat orang di depannya amnesia, batin Debby menjerit.

“Sudahlah, supirku sudah menunggumu di luar untuk mengantarkanmu. Ah, dan kuharap kau melupakan tentang one night stand karena istilah itu tak akan bisa berlaku untuk kita.”

Sekian menit Richard dan Debby saling diam, tak saling memandang lagi. Bahkan tak ada yang bergerak sedikitpun. Debby malu sampai tak tahu apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia langsung lari atau haruskah ia membalas ucapan Richard terlebih dahulu untuk memperbaiki citranya?

“Kau akan pulang atau menginap di sini?” tanya Richard yang seakan mengiterupsi pikiran Debby.

“Hah?” Debby menatap Richard, tak begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan laki-laki di sampingnya itu.

“Kau tak ingin keluar dan pulang?” ulang Richard.

“Kau tak ikut keluar?” tanya Debby balik dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya pulih.

“Kenapa aku harus ikut keluar, ini kamarku!”

Rasa malu Debby melayang setinggi-tingginya, sebebas-bebasnya sampai tak bisa ia bendung lagi. Kenapa ia tak bisa berpikir jernih? Kenapa ia harus melamun sampai tanpa sengaja melontarkan perkataan konyol? Ia mengutuki dirinya sendiri. “Baiklah. Terima kasih atas semuanya,” tanpa berlama-lama lagi, ia mengambil langkah cepat untuk keluar. Keinginannya adalah menghilang dari pandangan Richard.

***
Debby telah sampai di depan rumahnya.Ia turun dan membungkukan badan, berterima kasih kepada supir yang mengantarnya. Setelah menunggu mobil yang tadi mengantarnya hilang di ujung persimpangan, ia segera masuk rumah dengan perasaan yang masih kacau.

Tempat pertama yang menjadi tujuan Debby setelah memasuki rumah adalah kamarnya. Ia ingin mengurung diri di sana sampai malam sambil menenggelamkan badan di balik bedcover, rasa malunya masih belum hilang, ia bahkan malu terhadap dirinya sendiri. Dengan tergesa ia membuka pintu namun belum sempat kakinya menuju ranjang, seseorang telah memeluknya dari belakang.

“Siapa kau?” Debby langsung memberontak dan menoleh ke belakang,mencoba melihat siapa orang yang lancang masuk kamarnya dan memeluknya, “Steve!” seru Debby.

Steve melepaskan pelukannya dan tersenyum manis pada Debby. Ia merentangkan tangan dan disambut oleh perempuan yang telah bertahun-tahun tak ditemuinya. Sejenak mereka terdiam, saling melepas rindu dengan pelukan hangat.

“Kau sekarang sudah besar dan bertambah...cantik,” ucap Steve. Ia melepaskan pelukannya dan mengamati Debby lekat-lekat.

“Kau juga... kau tinggi, aku sampai mendongak untuk menatapmu.”  Debby menepuk-nepuk bahu lebar Steve lalu kembali memeluk sahabatnya itu, “Dan berjinjit saat memeluk bahumu. Kenapa kau lama sekali di sana?” protes Debby.

“Apa kau tak suka aku tinggal di sana?” Steve mengamati berbagai ekspresi yang ditampilkan perempuan itu.

Debby kembali melonggarkan pelukannya dan sedikit menunduk. “Aku merindukanmu...” ucap Debby lirih.

Steve menangkup kedua pipi Debby, membuat perempuan itu menatapnya, “Aku juga merindukanmu...sangat merindukanmu!” Satu kecupan ringan mendarat di kening Debby.

“Bagaimana bisa kau...” Pertanyaan Debby terpotong karena bunyi ponsel Steve. Laki-laki itu lantas menatapnya , meminta izin untuk mengangkat telepon.

***
Debby berbaring di ranjangnya sambil memegang perutnya yang tiba-tiba kembali nyeri. Untuk sesaat ia melupakan rasa sakitnya karena diselimuti rasa senang saat bertemu Steve. Kini sahabatnya itu sedang mengangkat telepon di luar kamar dan ia baru merasakan sakit, aneh!

Tatapan Debby lurus, memandang langit-langit kamarnya yang putih. Kejadian di rumah Richard masih teringat jelas olehnya bahkan di setiap detiknya. Laki-laki itu, ahhh benar-benar tak bisa ditebak dan pikirannya benar-benar liar saat mereka berdekatan.

“Ahhhh... aku bisa gila kalau berdekatan dengannya,” Debby mengerang lirih sambil menepuki kepalanya. “Adakah yang salah dengan otakku? Astaga, bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu setiap dekat dengannya?” Ia gusar membolak-balik posisi tidurnya lalu memutuskan untuk duduk.

“Hei, apa yang kau lakukan?” Steve menatap geli  tingkah Debby. “Kau bisa sakit kepala kalau terus seperti itu.”

“Sejak kapan kau di sini?” tanya Debby balik. Ia takut Steve mendengar semua ucapannya tadi, kalau hal itu sampai terjadi,  bisa dipastikan ia tak akan lepas dari pertanyaan-pertanyaan aneh.

Steve mendekat pada Debby. “Yang jelas waktu aku masuk, aku melihatmu memukul-mukul kepalamu sendiri dan kau bergumam tak jelas. Memang apa yang kau ucapan?” selidiknya.

Debby menggeleng lemah. “Aku hanya memikirkan tentang kuliahku. Kau tahu kan, kalau aku bukan orang dengan otak berlebih sepertimu..”

“Sudahlah, aku tahu kau bukan orang yang akan membicarakan keterbatasanmu di saat seperti ini,” Steve tersenyum pada Debby, membuat pipi gadis itu merona karena tertangkap basah berbohong.

Steve naik ke ranjang Debby dan duduk di sebelahnya. “Ranjangmu mengecil,” komentar Steve.

“Ini masih sama, single bed. Kau tidurlah di bawah, aku tak suka berbagi tempat tidur!” Debby mendorong Steve dan tertawa saat melihat laki-laki itu terjengkang.

“Ahh..” Steve mengelus punggungnya yang membentur meja. “Inikah sambutanmu pada sahabat yang sudah lama tak kau temui?”

Debby mengangkat bahunya, tak peduli. “Kau benar-benar tak berubah, Steve! Kau pikir ini kamarmu, pergilah keluar dan cari kamar yang lain!” Usir Debby dengan sungguh-sungguh, “Lagipula orang akan mengira yang tidak-tidak kalau kita tidur seranjang,” Imbuhnya.

“Ya...Kau benar! Aku butuh istirahat dan aku malas kembali ke rumah Bibi Han, bisakah kau berdiri dan merelakan ranjangmu untukku?” tanya Steve tanpa beban. Debby mendesah, ya beginilah Steve –sahabatnya- yang sedikit tak tahu diri.

“Hei.. aku ini pemilik rumah, jadi aku berhak mengusirmu.”

“Tamu adalah raja, kau berani sekali mengusir raja,” balas Steve tak mau kalah.

“Baiklah...baiklah... di rumahku ada tiga kamar. Kau tak mungkin tidur di kamar Ibu, jadi aku mempersilahkanmu tidur di kamar sampingku,” tawar Debby.

Steve mengernyit, nampak tak suka dengan usulan Debby. “Aku tak mau. Kamar yang kau tawarkan sedikit gelap dan sirkulasi udaranya membuatku tak nyaman. Kenapa tidak kau saja yang tidur di sana?”

Debby menghembuskan napas kasar, “Kau ini kenapa tak tahu diri sekali, Stevan. Tak bisakah kau mengalah sedikit padaku, aku sedang sakit,” Debby menatap tajam Steve, ia kembali berbaring dan menutup seluruh tubuhnya menggunakan bedcover.

“Kau sakit apa? Kenapa kau tak ke rumah sakit? Kenapa kau masih saja galak? Ah... jangan-jangan ini akal-akalanmu supaya aku...”

“Datang bulan, aku sedang datang bulan dan sedikit sensitif.” Potong Debby.

“Baiklah Debora, kalau begitu aku akan menjagamu di sini.” Steve duduk di kursi dekat meja belajar Debby dan mulai mengobrak-abrik meja di depannya.

“Aku tak suka dilihat saat sedang tidur!”

“Tenanglah, aku tak akan melihatmu. Kau menutup tubuhmu dengan rapat, lagipula... meja belajarmu lebih menarik.”

Di balik bedcover Debby mendengus, apakah ia benar-benar tak menarik bagi kaum adam?


1 komentar :