Debby mencium seikat bunga Lily yang ada di
tangannya. Ia tak perlu memakan waktu lama untuk memilih karena ia selalu membeli bunga yang sama. Yang
merepotkan adalah jika bunga yang dicarinya tak ada.
“Berikan aku mawar putih!”
Suara yang baru tertangkap di indera pendengaran
Debby, untuk sejenak membuatnya memalingkan pandangan ke samping.
Oh My God, orang itu adalah Richard. Laki-laki itu berpenampilan casual yang membuat umurnya lebih tua beberapa tahun. Mungkin ingin pergi bersama Jannet, pikir Debby.
Oh My God, orang itu adalah Richard. Laki-laki itu berpenampilan casual yang membuat umurnya lebih tua beberapa tahun. Mungkin ingin pergi bersama Jannet, pikir Debby.
“Mengapa kau selalu membeli mawar putih untuk
kekasihmu, Richard? Setahuku mawar merah lebih menggambaran cinta eros.” Tanya
Paman pemilik toko. Paman itu cukup akrab dengan Debby dan ketika ia
secara-tak-sengaja menangkap pembiacaraan Paman dengan Richard, ia cukup kaget.
Selama bertahun-tahun toko bunga itu menjadi langganannya namunia tak pernah
sekalipun bertmu Richard.
“Ya, mungkin karena ini bukan cinta eros!” Jawab
Richard dengan santai.
“Oh, kau bermain-main lagi.” Terdengar oleh Debb,
Paman dan Richard tertawa ringan.
Tak ingin menjadi penguping, Debby memilih sedikit
menjauh. Ia juga takut Richard mendapatinya di sana dan sedang menguping.
Astaga, ia belum punya alasan untuk dilontarkan.
***
“Karen, aku membeli ini.” Debby memberikan sejumlah
uang kepada Karen, kasa yang juga akrab dengannya.
“Pilihanmu selalu sama Debby. Aku sampai hafal.”
“Ya, itu karena selera kami, maksudku aku dan
keluargaku tak pernah berubah.”
“Ini kembalianmu.” Karen memberikan uang kembalian
kepada Debby sambil tersenyum.
“Terima kasih, Karen,” Debby mengulum senyumnya lalu
berbalik menuju pintu keluar.
***
“Hei, kau!” Sial bagi Debby. Ia sudah memegang kenop
pintu dan membuka namun suara Richard
yang memanggil sukses menahannya untuk melangkah keluar.
Dengan sedikit ragu, Debby membalikkan badannya menghadap Richard, “Ya...” suara debby
sedikit gemetar. Astaga, di depannya ada sosok laki-laki yang kadar
ketampanannya sudah over dosis, perempuan mana yang tak gugup jika
berada di posisi Debby sekarang?
“Kau adalah mahasiswi yang tadi asyik mengobrol di
kelas, bukan?” Tebak Richard dengan benar. Yah, orang jenius memang dengan
mudah menghapal wajah.
“Iya benar,” jawab Debby sedikit kaku. Ia bahkan tak
memakai panggilan karena masih bingung akan dipanggil apa laki-laki yang lebih
muda satu tahun darinya ini.
“Oh ternyata itu benar kau! Aku sempat ragu tadi.
Kulihat kau ingin keluar, maaf telah menahanmu. Kau bisa keluar sekarang jika
mau..”
Debby melongo! Jadi Richard memanggilnya hanya untuk
memastikan saja? Apa itu penting? Apa laki-laki itu ingin pamer betapa besarnya
daya igat di otaknya? Aish! Jika tahu akan seperti ini, ia akan keluar tanpa
mempedulikan panggilan Richard.
“Eh, Debby!” Debby memutar bola matanya ke atas.
Laki-laki itu, tak bisakah ia memberinya waktu untuk bernapas dan tak
–terpaksa- membuatnya menatap paras sempurna itu?
“Ya.. Kali ini anda benar menebak lagi, nama saya
‘Debby’.” Ucap Debby dengan sedikit ketus.
“Hei, kau kenapa? Kau marah padaku karena memarahimu
tadi pagi? Itu memang salahmu,” balas Richard dengan santai. Apakah laki-laki
ini tak sadar bahwa eksistensinya sukses membuat jantung Debby berdebar lebih
kencang?
“Saya bahkan sudah melupakan hal itu. Apakah ada
yang bisa saya bantu?” Tanya Debby yang kini kembali sopan.
“Kau tenanglah, tak perlu bersikap berlebihan
seperti itu. Maksudku tak perlu terlalu formal. Ini bukan di lingkungan kampus
dan aku tak akan jadi asisten dosen lagi.” Debby sedikit bernapas lega. Tak
jadi asisten dosen lagi, itu berarti ia bisa berkonsentrasi dalam kuliah lagi.
“An.. Kau, hanya ingin mengatakan itu?”
Richard tak langsung menjawab pertanyaan Debby. ia
terlihat sedang bertransaksi dengan Karen. Dan tunggu? Kini di tangannya ada
seikat mawar putih dan seikat mawar merah. Benak Debby sedikit menggelitik
memikirkan untuk siapa bunga-bunga itu.
“Ini untukmu!” Richard menarik setangkai mawar merah
dan memberikannya kepada Debby yang belum sepenuhnya sadar dari lamunan. “Bunga
ini sebagai permintaan maafku.” Lanjut Richard lalu melangkah keluar.
Debby terpaku memandang mawar merah yang ada di
tangannya kini? Setangkai mawar merah? Kenapa Cuma setangkai? Bukankah kata
Cika, Richard adalah orang kaya? Debby dengan cepat menggelengkan kepala
mencoba untuk mengembalikan kesadarannya. Ah, apa-apaan aku ini, runtuknya.
***
Debby mengunjungi makam ayahnya bersama Ibu. Ia
meletakkan seikat bunga Lily di bawah nisan lalu menceritakan sedikt
pengalamannya, sama seperti cerita yang ia berikan kepada Ibunya. Sebenarnya ia
ingin menceritakan tentang Richard, namun ia masih malu.
“Deb, kau sudah selesai?” tanya Ibu yang berada di
belakang Debby.
“Iya Ibu! Ibu tak mau menceritakan sesuatu pada
Ayah?” tanya Debby balik.
Ibu tersenyum lalu melangkah lebih dekat ke samping
Debby. Matanya menatap teduh batu nisa Ayah, “Ayah, Debby sekarang sudah besar.
Kau lihat, mungkin sebentar lagi ia akan merasakan jatuh cinta.” Ibu menatap
jail ke arah Debby sebentar lalu kembali bercerita, “ Ia sekarang juga menjadi
gadis yang tegar. Kata-kata darimu, yang kemudian kuucapkan padanya, kata-kata itu seperti
mantra yang ampuh. It’s okay, dear , itu kata-kata yang menguatkan kita!
Sampai jumpa bulan depan, Ayah,” Ibu membungkuk untuk mencium puncak nisan
Ayah, tak lama lalu kembali tegak dan tersenyum pada Debby.
“Kita pulang sekarang?” tanya Debby memastikan.
“Iya, kita pulang sekarang.” Ibu menggandeng tangan
Debby dan melangkah meninggalkan pemakaman.
***
Sepulangnya dari pemakaman, Debby membersihkan diri
dan langsung menuju kamar. Ia mengatakan pada Ibu akan pergi belajar namun hal
itu tentu saja tak dilakukannya. Lagi pula, pada awal semester ia belum
mendapatkan tugas, materi saja belum diberikan.
Debby memandangi setangkai mawar merah yang ia
letakkan di vas kecil, mawar pemberian Richard. Ia masih memikirkan alasan
Richard memberinya mawar, apakah memang sebagai ucapan maaf? Atau iseng? Atau
Richard menyukainya? Debby menepuk-nepuk pipinya, memikirkan kemungkinan yang
terakhir rasanya tak mungkin. Richard sudah mempunyai Jannet, yang juga nyaris
sempurna.
Bunyi ponsel sedikit membuat Debby yang sedari tadi
melamun. Lalu dengan tergesa ia menuju ranjang, tempat dimana ponselnya berada.
Senyum terulas di wajahnya saat melihat nama si penelepon. Steve, keponakan
bibi Han sekaligus sahabatnya yang kini tengah mengenyam pendidikan di luar
kota.
“Hai Steve... Aku baik, bagaimana denganmu?... Hei,
kapan kau pulang...Really? Kau akan pindah ke kota ini lagi?...Ya, bibi
Han memang membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Beliau menolak untuk tinggal
bersama kami... Ah, baiklah baiklah” Debby menutup ponselnya dengan senang.
Stevan atau yang sering dipanggil Steve adalah
sahabat Debby. Ia adalah keponakan Bibi Han yang dulu tinggal serumah dengan
beliau. Orang tuanya sibuk dengan bisnis mereka dan selalu berpindah-pindah,
jadi ia dititipkan kepada Bibi Han. Pada saat lulus SMP, orang tua Steve
menjemputnya untuk tinggal bersama karena bisnis mereka sudah menetap di satu
kota.
***
Richard menikmati candlelight dinner yang sudah
dirancangnya jauh hari bersama Jannet. Tidak tanggung-tanggung, ia memilih
restoran Italia yang sangat eksklusif yang terletak di atas gedung pencakar
langit. Tiap sisi restoran terdiri dari kaca, yang memungkinkan mereka dapat
menikmati kerlap-kerlip lampu kota pada malam hari. Ia memang seorang perfeksionis dalam segala
hal, apalagi jika sudah menyangkut kekasihnya , Jannet, perempuan yang juga
nyaris sempurna.
“Seperti dugaan aku, seorang Richard memang sangat
berkelas dan aku selalu terkesan.” Ucap jannet dengan anggun sambil memberikan
senyum kecil pada Richard.
“Ini untukmu.” Richard meletakkan seikat mawar putih
yang tadi dibelinya ke depan Jannet.
“Terima kasih Richard.” Jannet mencium sebentar
bunga itu lalu meletakkannya kembali. “Sebenanya ada satu hal yang ingin
kutanyakan padamu, kenapa kau selalu memberiku mawar putih?”
“Kau tak suka?” Potong Richard cepat, membuat Jannet
tak enak. Meskipun laki-laki otu mengucapkannya dengan tenang namun ada semacam
nada mengintimidasi di sana.
“Tentu saja aku suka! Apa kau tahu arti dari warna
yang ada pada mawar?” Kejar Jannet.
“Aku tak berniat untuk mengetahuinya. Lagipula apa
bedanya? Menurutku sama saja, warna hanyalah warna. Sudahlah, aku kesini untuk
mengajakmu makan malam, bukan membahsa tentang bunga.”
“Maaf, aku tak akan membahasnya lagi kalau kau tak
suka.” Jannet memang tak lagi mengungkit tentang bunga, namun otaknya masih
dipenuhi banyak pertanyaan. Ah, lebih baik ia memendamnya saja, rasanya sayang
jika makan malam romantis rusak hanya karena bunga.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar