Blogger Widgets

Label

Senin, 15 Juli 2013

Sachybii part 1



Pernah nonton ‘cinta pertama’ yang dimainkan BCL dan Ben Joshua? Cerita ini kurang lebih seperti itu, maksudnya di sini ada 2 sudut pandang, Bisma dan Sachy. Sudut pandang Bisma’s POV menceritakan keadaan sekarang , sedangkan Sachy’s POV adalah keadaan di masa lalu (flashback)

Bisma’s Pov
Aku berdiri di depan pintu berwarna soft pink, beberapa kali kuhela napas sebelum memasuki ruangan di dalamnya. Percayalah, ini sungguh sulit bagiku tapi aku sudah memutuskan. Kupegang kenop pintu dan membukanya perlahan.


Di sinilah aku sekarang, sebuah kamar seorang perempuan yang berarti bagiku. Mataku beredar untuk mengamati setiap sudut ruangan ini, masih sama seperti terakhir kali aku mengunjunginya. Ranjang yang terletak di samping jendela, lemari besar di seberang ranjang berdampingan dengan meja rias  dan meja belajar yang berada di sisi kiri pintu.

Kakiku mendekat menuju ranjang. Bahkan aroma tubuh pemilik kamar masih bisa ditangkap oleh indra penciumanku.

“Bis, ternyata kau di sini. Aku mencarimu kemana-mana.” Seorang perempuan yang seumuran denganku berjalan mendekat. Ada yang berbeda darinya, ia selalu menampakkan wajah ceria setiap kali kita bertemu, tapi tidak untuk kali ini.

“Ada apa Vonda?” Kugeser sedikit dudukku untuk mempersilahkan Vonda duduk di sampingku.

“Ini!” Vonda menyerahkan buku harian bersampul boneka danbo.

“Punya siapa?” Aku mengamati buku yang kini berpindah ke tanganku.

“Sachy! Bacalah Bis, ia menulis ini untukmu.”

“Aku bahan tak tahu kalau ia suka menulis buku harian.” Kubuka halaman pertama, di sana tertulis besar nama pemiliknya ‘SAMANTHA REICHY’. Tanganku membuka lagi ke halaman berikutnya.

25 Juli 2007
Ini adalah diary pertama yang aku punya. Aneh memang, selama ini aku tak suka menulis diary. Pikirku buat apa , aku punya Vonda yang setia mendengar setiap ceritaku.
Bukan tanpa alasan aku menulis diary ini. Aku menulis ini untuk seseorang. Aneh bukan? Karena biasanya diary berisi tentang rahasia-rahasia yang tak boleh dilihat orang lain. Aku menulis diary ini untuk BII. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padanya dan aku tak mau ada yang terlewatkan, jadi aku menulis diary ini. Aku tak tau kapan lagi bisa bertemu dengannya dan sampai kapan batas waktuku di dunia ini. Mungkin diary ini bisa mewakili apa yang aku alami jika aku tak punya waktu untuk menceritakan hidupku padanya. SACHYBII.

Kini sakit yang sedari tadi kutahan mulai terkuak kembali sedikit demi sedikit. Dadaku merasa sesak bahkan nyeri saat bernapas. Sekali lagi kuhela napas lalu menutup buku itu. Aku bohong jika mengatakan tak ingin membacanya, aku bahkan penasaran setengah mati.

“Aku tahu ini berat untukmu Bis. Bukan hanya kau, kita semua yang dekat dengan Sachy juga merasakan hal yang sama. Tapi seperti yang kau tahu, kita tak punya daya untuk mengubahnya.” Vonda menepuk bahuku pelan. Aku tahu, ia sedang berusaha untuk menguatkanku meskipun ia sendiri juga merasa sakit. Akhirnya, aku kembali membuka buku harian Sachy.

Sachy’s Pov

Kulihat jam tanganku, masih terlalu pagi ternyata, pantas saja sepi. Kuputuskan untuk pergi ke kantin, tapi sebelumnya aku akan meletakkan tasku dulu di kelas.

Koridor kelas sebelas masih sepi, sepertinya hanya aku yang berada di sini. Hal ini membuatku teringat cerita Vonda tempo hari yang mengatakan kalau koridor kelas sebelas sedikit ‘wow’. Kurutuki diri sendiri, ah buat apa aku mengingat hal yang kini malah membuatku takut. Dengan cepat aku berlari menuju kelasku, XI IPS 1. Kuurungkan niat untuk meletakkan tas dengan layak, kubuka pintu kelas lalu melemparkan tas ke dalam. Aku benar-benar tak peduli akan mendarat dimana nantinya, yang kuinginkan hanyalah cepat pergi dari tempat ini.

Belum sempat aku berlari pergi, kurasakan ada yang menyentuh pundakku. Oh Tuhan, apalagi ini? Aku benar-benar menyesal berangkat pagi. Dengan takut aku menoleh ke belakang walaupun kini mataku terpejam rapat.

“Hai..” Suara itu, aku kenal suara itu. Perlahan, aku mulai membuka mataku.

“Kak Rafa?”

“Kau kenapa?” Keningnya sedikit berkerut, mungkin ia heran melihat tingkahku.

“Aku takut,” kataku lirih, nyaris seperti bisikan.

“Kau takut denganku?”

“Bukan, bukan denganmu!” selaku cepat. “Aku takut dengan hantu!” kata-kata itu begitu lancar keluar dari mulutku. Detik berikutnya, sudah dapat kutebak.

“Kau takut dengan hantu? Hahaa...” Kak Rafa tak dapat menahan tawanya, ia bahkan sampai memegangi perutnya. Astaga, aku malu!

“Sampai kapan kau akan menertawaiku, huh?” Kupasang wajah kesal dan berhasil, tawanya mulai mereda meskipun kini wajahnya sedikit memerah akibat menahan tawa.

“Maaf, maaf. Ya sudah, ayo!” Kak rafa memegang tanganku, seperti ingin mengajak pergi. Aku tetap tak bergeming karena masih bingung. “Ayo kita ke kantin, bukankah setiap hari kau ke sana,” jelasnya yang seakan tahu pikiranku.

“Oh, ayo!” Kini aku yang bersemangat menariknya untuk ke kantin. Sekilas, kulihat ia tersenyum. Ah manisnya..

Rasanya seperti berjalan dengan Edward Cullen. Laki-laki di sampingku ini tampan, tinggi, putih dan selalu membuatku nyaman. Aku sangat mengaguminya, bukan hanya aku hampir semua siswi di sekolahku mengagumi sosoknya yang tenang dan bersahaja.

***

“Dari kantin lagi?” tebak Vonda saat aku duduk di sampingnya.

“Iya.” Jawabku singkat.

“Sampai kapan kau seperti ini?”

Aku tertegun sejenak. “Entahlah, aku tak tahu.”

“Mereka adalah keluargamu, kau tak bisa seperti ini terus!”


“Sudahlah Von, aku muak harus mmbicarakan ini!” Pekikku tertahan. Ah, kenapa ia harus membahas ini? Ini masih terlalu pagi untuk memiliki suasana hati yang buruk.

***
Hari ini aku tak bisa berkonsentrasi dengan baik. Pikiranku seolah tertutup oleh kenangan masa lalu yang kini asyik mengusik, benar-benar menganggu.

“St..st..Sachy!” Vonda menyenggol tanganku sambil berbisik. Aku menatapnya tak mengerti.

“SAMANTHA REICHY!” Suara Miss Vonny berhasil membuat kesadaranku kembali, kesadaran dimana aku berada sekarang.

“I..iya Miss.” Jawabku sedikit bergetar.

“Kau kenapa? Kulihat kau melamun, apa kau juga tak mendengarkan penjelasanku?”

“Maaf Miss, saya merasa kurang sehat.” Aku memberikan alasan klasik saat tertangkap basah sedang tak fokus pada pelajaran.

“Kalau begitu kau boleh beristirahat di UKS.”

Kuhela napas lega saat Miss Vonny percaya, harusnya aku melakukan ini dari tadi sejak kehilangan konsentrasiku. Percayalah, berada di kelas tapi pikiran melayang itu sia-sia. “Terima Kasih, Miss.” Aku segera berdiri dan berjalan keluar kelas. Vonda sempat menggelengkan kepalanya. Ia tentu tahu bahwa aku tak sakit.

***
Aku melangkahkan kakiku tak tentu, sakit hanya alasanku saja dan aku tak ingin masuk ruang UKS yang dihiasi bau-bauan obat. Tiba-tiba ponsel di sakuku bergetar, sebuah pesan masuk.
Kuharap kau langsung pulang ke rumah nanti siang,” begitulah bunyi pesan yang kuterima. Kumasukkan kembali ponselku, tak berniat untuk membalasnya.

“Hai Sachy!” Jalanku terhadang oleh laki-laki berambut spiky, ia adalah Joan atau yang sering dipanggil Joe, salah satu teman dekatku. “Kenapa kau di luar saat jam pelajaran?”

“Aku.. Aku malas mengikuti pelajaran.”

“Kau membolos?” Joan memicingkan matanya kepadaku.

“Hei, jangan menatapku seperti itu! Aku tak bisa dikatakan membolos, Miss Vonny menyuruhku ke UKS karena tak enak badan.” Jelasku yang terima dengan tuduhannya.

“Kau membohongi guru cantik itu.” Aku muak mendengar ucapan Joan, ck! Dasar perayu ulung.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di luar kelas?”

“Kau tak lihat apa yang kupakai?”

Kuperhatikan penampilan Joan. Ia memakai baju basket dan bando untuk menahan poninya agar terkena keringat. “Basket lagi?” tebakku.

That’s right! Sebentar lagi ada pertandingan, jadi kami harus lebih sering berlatih. Kak Rafa juga ikut berlatih dengan kami,” jelas Joan, ia memang tahu kalau aku mengagumi Kak Rafa. Aku bahkan beberapa kali bertanya padanya tentang Kak Rafa.

“Aneh, harusnya ia fokus pada ujian.” Gumamku. “Joe, kau ingin menemaniku ke kantin?”

Joan nampak berpikir sejenak, demi Tuhan aku tahu ia sedang berpura-pura. “Baiklah! Tapi kau yang menraktirku!” Pintanya sambil menampakkan senyum tiga jari.

“Hei, bolehkah kali ini aku yang mengatakan itu? Kau hampir tak pernah menraktirku, ck!”

“Kau harusnya mengatakan hal itu tiga jam yang lalu, Bimo baru saja menyikat habis isi dompetku.”

“Baiklah baiklah.. Harusnya aku sudah tahu akan berakhir seperti ini.”

***

Bisma’s POV

Aku berhenti membaca sejenak. Ternyata Sachy dikelilingi banyak orang yang meyanyanginya termasuk Kak Rafa, ya aku tahu bahkan pernah melihat sendiri kedekatan mereka.

“Kau kenapa, Bis?” tanya Vonda yang membuyarkan lamunanku.

“Apa aku salah berada di tengah Sachy dan Rafa? Aku pikir harusnya aku tak kembali, aku hanya masa lalu.”

“Bicara apa kau? Kau adalah orang yang ditunggu Sachy. Dia bahkan tak pernah menganggapmu sebagai masa lalu.”

“Tapi gara-gara aku semuanya jadi hancur..”

Stop Bis! Kau kenapa? Kau tak seperti Bisma yang sering sachy ceritakan padaku. Apa dengan menyesali ini, semuanya bisa berubah sesuai dengan keinginanmu?”

Kini cairan bening menghiasi pipiku. Tak ada kata malu meskipun aku menangis di depan Vonda. Ini terlalu sakit untuk kutahan, setidaknya dengan menangis sakitnya akan sedikit berkurang. Vonda benar, aku tak selayaknya menyesali ini, semuanya telah terjadi dan penyesalan hanya akan menambah kadar sakitku.

27 Juli 2007
Selama dua hari ini aku menginap di rumah Vonda. Tak ku pedulikan perintah yang menyuruhku  Memangnya siapa yang mau tinggal di rumah neraka seperti itu? Tapi aku juga tak dapat menghindarinya , di sana tersimpan kenangan manis dari salah satu orang yang sangat berarti bagiku. Aku heran, mengapa mereka bisa tertawa di tempat seperti itu. Tawa yang menurutku sangat memuakkan.

Aku menatap Vonda untuk meminta penjelasan, “Apa dia selalu seperti ini?”

“Ya, seperti yang kau baca. Aku sudah sering menasehatinya tetapi dia masih terlalu keras dan aku juga tak mau memaksanya, aku tahu dia sudah cukup terluka.” Jelas Vonda.

“Tapi saat aku ke sini dia bersikap sewajarnya.” Pikirku kembali saat aku mengunjungi rumah Sachy setelah beberapa tahun lamanya. Di sana ia nampak hangat dengan semua anggota keluarganya, terlihat kasih sayang yang kental.

“Kau mau tahu alasannya?” tanya Vonda dengan serius dan kujawab dengan anggukkan mantap. “Semua karena Kak Rafa.” Rasanya hatiku sakit mendengar nama itu lagi. Mereka lebih dekat dari dugaanku, membuatku seperti bukan apa-apa.

“Maaf Bis, aku tak bermaksud untuk..”

“Tak apa, aku cukup kagum dengan Kak Rafa.” Aku mencoba untuk tegar meskipun harus mati-matian untuk tak menampakkan sakitku. “Aku tak tahu jadinya kalau Kak Rafa tak ada..”

***
“Kalian masih di sini rupanya.” Laki-laki tengah baya menghampiriku dan Vonda. Beliau adalah Om Harry, papa Sachy.

“Om tahu perasaanmu, Bis.” Om Harry  menepuk pundakku beberapa kali, seperti yang dilakukan Vonda tadi.

“Aku senang saat dia masih mengingatku, Om.”

“Mustahil kalau dia melupakanmu. Kau mengambil bagian yang penting di hidupnya, bahkan lebih penting daripada Om, papanya sendiri.” Sedikit senyum menghiasi wajah Om Harry yang sudah terlihat sangat lelah.

“Om terlalu berlebihan. Sachy selalu menganggap penting orang yang berada di sekitarnya.”

Bersambung

Tidak ada komentar :

Posting Komentar