Pernah nonton ‘cinta pertama’ yang dimainkan BCL dan
Ben Joshua? Cerita ini kurang lebih seperti itu, maksudnya di sini ada 2
sudut pandang, Bisma dan Sachy. Sudut pandang Bisma’s POV menceritakan
keadaan sekarang , sedangkan Sachy’s POV adalah keadaan di masa lalu
(flashback)
Bisma’s Pov
Aku berdiri di depan pintu berwarna soft pink,
beberapa kali kuhela napas sebelum memasuki ruangan di dalamnya. Percayalah,
ini sungguh sulit bagiku tapi aku sudah memutuskan. Kupegang kenop pintu dan
membukanya perlahan.
Di sinilah aku sekarang, sebuah kamar seorang
perempuan yang berarti bagiku. Mataku beredar untuk mengamati setiap sudut
ruangan ini, masih sama seperti terakhir kali aku mengunjunginya. Ranjang yang
terletak di samping jendela, lemari besar di seberang ranjang berdampingan
dengan meja rias dan meja belajar yang
berada di sisi kiri pintu.
Kakiku mendekat menuju ranjang. Bahkan aroma tubuh
pemilik kamar masih bisa ditangkap oleh indra penciumanku.
“Bis, ternyata kau di sini. Aku mencarimu
kemana-mana.” Seorang perempuan yang seumuran denganku berjalan mendekat. Ada
yang berbeda darinya, ia selalu menampakkan wajah ceria setiap kali kita
bertemu, tapi tidak untuk kali ini.
“Ada apa Vonda?” Kugeser sedikit dudukku untuk
mempersilahkan Vonda duduk di sampingku.
“Ini!” Vonda menyerahkan buku harian bersampul boneka
danbo.
“Punya siapa?” Aku mengamati buku yang kini
berpindah ke tanganku.
“Sachy! Bacalah Bis, ia menulis ini untukmu.”
“Aku bahan tak tahu kalau ia suka menulis buku
harian.” Kubuka halaman pertama, di sana tertulis besar nama pemiliknya ‘SAMANTHA
REICHY’. Tanganku membuka lagi ke halaman berikutnya.
25
Juli 2007
Ini
adalah diary pertama yang aku punya. Aneh memang, selama ini aku tak suka menulis diary. Pikirku buat apa , aku punya Vonda yang setia mendengar
setiap ceritaku.
Bukan
tanpa alasan aku menulis diary ini. Aku menulis ini untuk seseorang. Aneh
bukan? Karena biasanya diary berisi tentang rahasia-rahasia yang tak boleh dilihat
orang lain. Aku menulis diary ini untuk BII. Ada banyak hal yang ingin ku
ceritakan padanya dan aku tak mau ada yang terlewatkan, jadi aku menulis diary
ini. Aku tak tau kapan lagi bisa bertemu dengannya dan sampai kapan batas
waktuku di dunia ini. Mungkin diary ini bisa mewakili apa yang aku alami jika
aku tak punya waktu untuk menceritakan hidupku padanya. SACHYBII.
Kini
sakit yang sedari tadi kutahan mulai terkuak kembali sedikit demi sedikit.
Dadaku merasa sesak bahkan nyeri saat bernapas. Sekali lagi kuhela napas lalu
menutup buku itu. Aku bohong jika mengatakan tak ingin membacanya, aku bahkan
penasaran setengah mati.
“Aku
tahu ini berat untukmu Bis. Bukan hanya kau, kita semua yang dekat dengan Sachy
juga merasakan hal yang sama. Tapi seperti yang kau tahu, kita tak punya daya
untuk mengubahnya.” Vonda menepuk bahuku pelan. Aku tahu, ia sedang berusaha
untuk menguatkanku meskipun ia sendiri juga merasa sakit. Akhirnya, aku kembali
membuka buku harian Sachy.
Sachy’s Pov
Kulihat jam tanganku, masih terlalu pagi ternyata,
pantas saja sepi. Kuputuskan untuk pergi ke kantin, tapi sebelumnya aku akan
meletakkan tasku dulu di kelas.
Koridor kelas sebelas masih sepi, sepertinya hanya
aku yang berada di sini. Hal ini membuatku teringat cerita Vonda tempo hari
yang mengatakan kalau koridor kelas sebelas sedikit ‘wow’. Kurutuki diri
sendiri, ah buat apa aku mengingat hal yang kini malah membuatku takut. Dengan cepat
aku berlari menuju kelasku, XI IPS 1. Kuurungkan niat untuk meletakkan tas
dengan layak, kubuka pintu kelas lalu melemparkan tas ke dalam. Aku benar-benar
tak peduli akan mendarat dimana nantinya, yang kuinginkan hanyalah cepat pergi
dari tempat ini.
Belum sempat aku berlari pergi, kurasakan ada yang
menyentuh pundakku. Oh Tuhan, apalagi ini? Aku benar-benar menyesal berangkat
pagi. Dengan takut aku menoleh ke belakang walaupun kini mataku terpejam rapat.
“Hai..” Suara itu, aku kenal suara itu. Perlahan,
aku mulai membuka mataku.
“Kak Rafa?”
“Kau kenapa?” Keningnya sedikit berkerut, mungkin ia
heran melihat tingkahku.
“Aku takut,” kataku lirih, nyaris seperti bisikan.
“Kau takut denganku?”
“Bukan, bukan denganmu!” selaku cepat. “Aku takut
dengan hantu!” kata-kata itu begitu lancar keluar dari mulutku. Detik berikutnya,
sudah dapat kutebak.
“Kau takut dengan hantu? Hahaa...” Kak Rafa tak
dapat menahan tawanya, ia bahkan sampai memegangi perutnya. Astaga, aku malu!
“Sampai kapan kau akan menertawaiku, huh?” Kupasang
wajah kesal dan berhasil, tawanya mulai mereda meskipun kini wajahnya sedikit
memerah akibat menahan tawa.
“Maaf, maaf. Ya sudah, ayo!” Kak rafa memegang
tanganku, seperti ingin mengajak pergi. Aku tetap tak bergeming karena masih
bingung. “Ayo kita ke kantin, bukankah setiap hari kau ke sana,” jelasnya yang
seakan tahu pikiranku.
“Oh, ayo!” Kini aku yang bersemangat menariknya
untuk ke kantin. Sekilas, kulihat ia tersenyum. Ah manisnya..
Rasanya seperti berjalan dengan Edward Cullen. Laki-laki
di sampingku ini tampan, tinggi, putih dan selalu membuatku nyaman. Aku sangat
mengaguminya, bukan hanya aku hampir semua siswi di sekolahku mengagumi
sosoknya yang tenang dan bersahaja.
***
“Dari kantin lagi?” tebak Vonda saat aku duduk di
sampingnya.
“Iya.” Jawabku singkat.
“Sampai kapan kau seperti ini?”
Aku tertegun sejenak. “Entahlah, aku tak tahu.”
“Mereka adalah keluargamu, kau tak bisa seperti ini
terus!”
“Sudahlah Von, aku muak harus mmbicarakan ini!”
Pekikku tertahan. Ah, kenapa ia harus membahas ini? Ini masih terlalu pagi
untuk memiliki suasana hati yang buruk.
***
Hari ini aku tak bisa berkonsentrasi dengan baik. Pikiranku
seolah tertutup oleh kenangan masa lalu yang kini asyik mengusik, benar-benar
menganggu.
“St..st..Sachy!” Vonda menyenggol tanganku sambil
berbisik. Aku menatapnya tak mengerti.
“SAMANTHA REICHY!” Suara Miss Vonny berhasil membuat
kesadaranku kembali, kesadaran dimana aku berada sekarang.
“I..iya Miss.” Jawabku sedikit bergetar.
“Kau kenapa? Kulihat kau melamun, apa kau juga tak
mendengarkan penjelasanku?”
“Maaf Miss, saya merasa kurang sehat.” Aku
memberikan alasan klasik saat tertangkap basah sedang tak fokus pada pelajaran.
“Kalau begitu kau boleh beristirahat di UKS.”
Kuhela napas lega saat Miss Vonny percaya, harusnya
aku melakukan ini dari tadi sejak kehilangan konsentrasiku. Percayalah, berada
di kelas tapi pikiran melayang itu sia-sia. “Terima Kasih, Miss.” Aku segera
berdiri dan berjalan keluar kelas. Vonda sempat menggelengkan kepalanya. Ia tentu
tahu bahwa aku tak sakit.
***
Aku melangkahkan kakiku tak tentu, sakit hanya
alasanku saja dan aku tak ingin masuk ruang UKS yang dihiasi bau-bauan obat. Tiba-tiba
ponsel di sakuku bergetar, sebuah pesan masuk.
“Kuharap kau langsung pulang ke rumah nanti siang,”
begitulah bunyi pesan yang kuterima. Kumasukkan kembali ponselku, tak berniat
untuk membalasnya.
“Hai Sachy!” Jalanku terhadang oleh laki-laki
berambut spiky, ia adalah Joan atau yang sering dipanggil Joe, salah
satu teman dekatku. “Kenapa kau di luar saat jam pelajaran?”
“Aku.. Aku malas mengikuti pelajaran.”
“Kau membolos?” Joan memicingkan matanya kepadaku.
“Hei, jangan menatapku seperti itu! Aku tak bisa
dikatakan membolos, Miss Vonny menyuruhku ke UKS karena tak enak badan.” Jelasku
yang terima dengan tuduhannya.
“Kau membohongi guru cantik itu.” Aku muak mendengar
ucapan Joan, ck! Dasar perayu ulung.
“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di luar kelas?”
“Kau tak lihat apa yang kupakai?”
Kuperhatikan penampilan Joan. Ia memakai baju basket
dan bando untuk menahan poninya agar terkena keringat. “Basket lagi?” tebakku.
“That’s right! Sebentar lagi ada
pertandingan, jadi kami harus lebih sering berlatih. Kak Rafa juga ikut
berlatih dengan kami,” jelas Joan, ia memang tahu kalau aku mengagumi Kak Rafa.
Aku bahkan beberapa kali bertanya padanya tentang Kak Rafa.
“Aneh, harusnya ia fokus pada ujian.” Gumamku. “Joe,
kau ingin menemaniku ke kantin?”
Joan nampak berpikir sejenak, demi Tuhan aku tahu ia
sedang berpura-pura. “Baiklah! Tapi kau yang menraktirku!” Pintanya sambil
menampakkan senyum tiga jari.
“Hei, bolehkah kali ini aku yang mengatakan itu? Kau
hampir tak pernah menraktirku, ck!”
“Kau harusnya mengatakan hal itu tiga jam yang lalu,
Bimo baru saja menyikat habis isi dompetku.”
“Baiklah baiklah.. Harusnya aku sudah tahu akan
berakhir seperti ini.”
***
Bisma’s POV
Aku berhenti membaca sejenak. Ternyata Sachy
dikelilingi banyak orang yang meyanyanginya termasuk Kak Rafa, ya aku tahu
bahkan pernah melihat sendiri kedekatan mereka.
“Kau kenapa, Bis?” tanya Vonda yang membuyarkan
lamunanku.
“Apa aku salah berada di tengah Sachy dan Rafa? Aku pikir
harusnya aku tak kembali, aku hanya masa lalu.”
“Bicara apa kau? Kau adalah orang yang ditunggu
Sachy. Dia bahkan tak pernah menganggapmu sebagai masa lalu.”
“Tapi gara-gara aku semuanya jadi hancur..”
“Stop Bis! Kau kenapa? Kau tak seperti Bisma yang
sering sachy ceritakan padaku. Apa dengan menyesali ini, semuanya bisa berubah
sesuai dengan keinginanmu?”
Kini cairan bening menghiasi pipiku. Tak ada kata
malu meskipun aku menangis di depan Vonda. Ini terlalu sakit untuk kutahan,
setidaknya dengan menangis sakitnya akan sedikit berkurang. Vonda benar, aku
tak selayaknya menyesali ini, semuanya telah terjadi dan penyesalan hanya akan
menambah kadar sakitku.
27 Juli 2007
Selama dua hari ini aku menginap di rumah Vonda. Tak ku pedulikan
perintah yang menyuruhku Memangnya siapa
yang mau tinggal di rumah neraka seperti itu? Tapi aku juga tak dapat
menghindarinya , di sana tersimpan kenangan manis dari salah satu orang yang
sangat berarti bagiku. Aku heran, mengapa mereka bisa tertawa di tempat seperti
itu. Tawa yang menurutku sangat memuakkan.
Aku menatap Vonda untuk meminta penjelasan, “Apa dia selalu seperti ini?”
“Ya, seperti yang kau baca. Aku sudah sering menasehatinya tetapi dia
masih terlalu keras dan aku juga tak mau memaksanya, aku tahu dia sudah cukup
terluka.” Jelas Vonda.
“Tapi saat aku ke sini dia bersikap sewajarnya.” Pikirku kembali saat
aku mengunjungi rumah Sachy setelah beberapa tahun lamanya. Di sana ia nampak
hangat dengan semua anggota keluarganya, terlihat kasih sayang yang kental.
“Kau mau tahu alasannya?” tanya Vonda dengan serius dan kujawab dengan
anggukkan mantap. “Semua karena Kak Rafa.” Rasanya hatiku sakit mendengar nama
itu lagi. Mereka lebih dekat dari dugaanku, membuatku seperti bukan apa-apa.
“Maaf Bis, aku tak bermaksud untuk..”
“Tak apa, aku cukup kagum dengan Kak Rafa.” Aku mencoba untuk tegar
meskipun harus mati-matian untuk tak menampakkan sakitku. “Aku tak tahu jadinya
kalau Kak Rafa tak ada..”
***
“Kalian masih di sini rupanya.” Laki-laki tengah baya menghampiriku dan
Vonda. Beliau adalah Om Harry, papa Sachy.
“Om tahu perasaanmu, Bis.” Om Harry
menepuk pundakku beberapa kali, seperti yang dilakukan Vonda tadi.
“Aku senang saat dia masih mengingatku, Om.”
“Mustahil kalau dia melupakanmu. Kau mengambil bagian yang penting di
hidupnya, bahkan lebih penting daripada Om, papanya sendiri.” Sedikit senyum
menghiasi wajah Om Harry yang sudah terlihat sangat lelah.
“Om terlalu berlebihan. Sachy selalu menganggap penting orang yang
berada di sekitarnya.”
Bersambung
Tidak ada komentar :
Posting Komentar