Richard menggelengkan kepala menatap dua kantong
kertas yang berada di tangannya. Ia tersenyum misterius lalu dengan langkah
mantap memasuki kamarnya.
Mata Richard terfokus pada Debby yang tengah terlelap di ranjang. Perlahan ia
mendekat, mengamati setiap detail paras perempuan itu , merekamnya ke dalam
memori. Sisi pinggir ranjang yang kosong ia duduki dan kantong yang di
pegangnya ia letakkan di meja.
“Hei, kau mau bangun atau menginap di sini?” Richard
menunggu mata Debby terbuka, namun ia tak mendapati respon apapun. “Baiklah
kalau kau ingin dibangunkan ala Putri Salju,” perlahan Richard mendekatkan
wajahnya pada Debby...
“Apa yang ingin kau lakukan?!” Debby seketika
mendorong tubuh Richard sampai hampir terjengkang. Ia segera duduk, meraih
selimut dan dengan pegangan erat menariknya sampai dada.
“Aku hanya ingin membangunkanmu! Dasar tukang
tidur!” Cibir Richard. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap Debby seolah
tanpa minat.
“Ha..haruskah kau sedekat itu? Atau kau ingin
mencuri kesempatan?” tuduh Debby. Ia begitu kacau karena jantungnya berdetak
begitu cepat. Demi Tuhan , sekarang ia di kamar Richard, laki-laki yang
mempesonanya apalagi saat jarak mereka sedekat tadi.
“Kesempatan seperti apa yang ingin kucuri? Jangan
memikirkan yang tidak-tidak Nona!”
Wajah Debby merona mendengar ucapan Richard. Kenapa laki-laki itu
berkata seolah-olah ia tidak menarik? Tapi kalau dipikir-pikir, Janet sudah sempurna
dan ia tak ada apa-apanya. Ah, itu membuat kepercayaan dirinya semakin kritis.
“Jangan dekat-dekat denganku lagi!” Debby mengeluarkan kata-kata itu dengan
lancar dan ia merasa sudah mengatakan hal yang benar. Jangan dekat-dekat
lagi atau aku tak akan bisa menahan diriku sendiri, batinnya.
“Kalau begitu pakailah yang telah kusiapkan!”
Richard mengarahkan dagunya ke meja, “Dan jangan membuat bekas apapun. Kuharap
kau mengerti!” Setelah memastikan Debby melihat isi kantong kertas, ia
melangkah keluar kamar.
***
Kantong pertama berisi pembalut, ok yang ini tak ada
masalah tapi Debby sempat memikirkan bagaimana Richard dapat mendapatkan benda
itu. Saat membuka kantong kedua ia nyaris tak berkedip. Baju branded
yang sangat terkenal. Ah, ia tak mau membayangkan berapa harganya, sekarang ia
malah berpikiran untuk mengembalikan baju itu nantinya.
“Richard benar-benar mengerikan!” gumam Debby sambil
melangkah ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Debby menuju kaca besar
yang menempel pada lemari. Ia berkali-kali melenggak-lenggok untuk memastikan
penampilannya sudah rapi apa belum.
“Kau sudah selesai rupanya?” Richard muncul dari
balik pintu dan mendekat pada Debby.
“Kenapa kau tak mengetuk pintu? Kau tak sopan!
Bagaimana kalau tadi aku belum selesai?” geram Debby.
“Memangnya kenapa kalau kau belum selesai? Aku
benar-benar tak tertarik padamu, tak ada yang bisa kulakukan jika keadaanmu
seperti ini,” ucap Richard santai. Bertindak acuh dengan berbagai ekspresi
Debby yang ditujukan kepadanya.
“Apa maksudmu?” tanya Debby dengan was-was.
Pertanyaan Debby terabaikan begitu saja. Kini
Richard menuju ranjangnya. “Kau yakin tak meninggalkan bekas apapun di sini?
Aku tak mau dituduh melakukan hal yang belum kulakukan.”
Debby menyusul Richard menuju samping ranjang.
Matanya ikut menjelajahi setiap inci dari tempat yang tadi ditidurinya. “Aku
yakin!” jawab Debby mantap. “Lagipula kalaupun ada sesuatu –bekas- di sana aku
yakin itu bukan dariku, kau kan punya kekasih jadi orang berpikir kalau itu
bekas itu dari..” Ia lekas menutup mulutnya yang terlalu banyak bicara dan
tertunduk, tak berani menatap lawan bicaranya.
Richard seakan tak peduli dengan ucapan-pembelaan
Debby. Ia mengubah posisinya mejadi menghadap Debby lalu berbisik, “What do you
think about ‘one night stand’?” Mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“HEI!” Pekik Debby. Ia berhadapan langsung dengan
wajah Richard dan menatap tajam laki-laki itu. “Kau pikir aku perempuan seperti
apa?”
Richard mengangkat satu alisnya dan tetap memberikan
tatapan tenang. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau merasa sudah cukup menarik? Lagipula
sebagian identitasmu sudah kuketahui, jadi kau jangan berharap apa-apa tentang
pertanyaanku tadi!”
Debby tercekat, bodoh! Ia benar-benar malu, malu,
malu! Sekarang ia tak tahu harus dimana menaruh mukanya. Richard pasti
menganggapnya sebagai perempuan mesum dan sangat menginginkan laki-laki itu.
Astaga, bolehkah ia membuat orang di depannya amnesia, batin Debby menjerit.
“Sudahlah, supirku sudah menunggumu di luar untuk
mengantarkanmu. Ah, dan kuharap kau melupakan tentang one night stand
karena istilah itu tak akan bisa berlaku untuk kita.”
Sekian menit Richard dan Debby saling diam, tak
saling memandang lagi. Bahkan tak ada yang bergerak sedikitpun. Debby malu
sampai tak tahu apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia langsung lari atau
haruskah ia membalas ucapan Richard terlebih dahulu untuk memperbaiki citranya?
“Kau akan pulang atau menginap di sini?” tanya
Richard yang seakan mengiterupsi pikiran Debby.
“Hah?” Debby menatap Richard, tak begitu mendengar
pertanyaan yang dilontarkan laki-laki di sampingnya itu.
“Kau tak ingin keluar dan pulang?” ulang Richard.
“Kau tak ikut keluar?” tanya Debby balik dengan
kesadaran yang masih belum sepenuhnya pulih.
“Kenapa aku harus ikut keluar, ini kamarku!”
Rasa malu Debby melayang setinggi-tingginya,
sebebas-bebasnya sampai tak bisa ia bendung lagi. Kenapa ia tak bisa berpikir
jernih? Kenapa ia harus melamun sampai tanpa sengaja melontarkan perkataan
konyol? Ia mengutuki dirinya sendiri. “Baiklah. Terima kasih atas semuanya,”
tanpa berlama-lama lagi, ia mengambil langkah cepat untuk keluar. Keinginannya
adalah menghilang dari pandangan Richard.
***
Debby telah sampai di depan rumahnya.Ia turun dan membungkukan
badan, berterima kasih kepada supir yang mengantarnya. Setelah menunggu mobil
yang tadi mengantarnya hilang di ujung persimpangan, ia segera masuk rumah
dengan perasaan yang masih kacau.
Tempat pertama yang menjadi tujuan Debby setelah memasuki
rumah adalah kamarnya. Ia ingin mengurung diri di sana sampai malam sambil
menenggelamkan badan di balik bedcover, rasa malunya masih belum hilang,
ia bahkan malu terhadap dirinya sendiri. Dengan tergesa ia membuka pintu namun
belum sempat kakinya menuju ranjang, seseorang telah memeluknya dari belakang.
“Siapa kau?” Debby langsung memberontak dan menoleh
ke belakang,mencoba melihat siapa orang yang lancang masuk kamarnya dan
memeluknya, “Steve!” seru Debby.
Steve melepaskan pelukannya dan tersenyum manis pada
Debby. Ia merentangkan tangan dan disambut oleh perempuan yang telah
bertahun-tahun tak ditemuinya. Sejenak mereka terdiam, saling melepas rindu
dengan pelukan hangat.
“Kau sekarang sudah besar dan bertambah...cantik,”
ucap Steve. Ia melepaskan pelukannya dan mengamati Debby lekat-lekat.
“Kau juga... kau tinggi, aku sampai mendongak untuk
menatapmu.” Debby menepuk-nepuk bahu
lebar Steve lalu kembali memeluk sahabatnya itu, “Dan berjinjit saat memeluk
bahumu. Kenapa kau lama sekali di sana?” protes Debby.
“Apa kau tak suka aku tinggal di sana?” Steve
mengamati berbagai ekspresi yang ditampilkan perempuan itu.
Debby kembali melonggarkan pelukannya dan sedikit
menunduk. “Aku merindukanmu...” ucap Debby lirih.
Steve menangkup kedua pipi Debby, membuat perempuan
itu menatapnya, “Aku juga merindukanmu...sangat merindukanmu!” Satu
kecupan ringan mendarat di kening Debby.
“Bagaimana bisa kau...” Pertanyaan Debby terpotong
karena bunyi ponsel Steve. Laki-laki itu lantas menatapnya , meminta izin untuk
mengangkat telepon.
***
Debby berbaring di ranjangnya sambil memegang
perutnya yang tiba-tiba kembali nyeri. Untuk sesaat ia melupakan rasa sakitnya
karena diselimuti rasa senang saat bertemu Steve. Kini sahabatnya itu sedang
mengangkat telepon di luar kamar dan ia baru merasakan sakit, aneh!
Tatapan Debby lurus, memandang langit-langit
kamarnya yang putih. Kejadian di rumah Richard masih teringat jelas olehnya
bahkan di setiap detiknya. Laki-laki itu, ahhh benar-benar tak bisa ditebak dan
pikirannya benar-benar liar saat mereka berdekatan.
“Ahhhh... aku bisa gila kalau berdekatan dengannya,”
Debby mengerang lirih sambil menepuki kepalanya. “Adakah yang salah dengan
otakku? Astaga, bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu setiap dekat
dengannya?” Ia gusar membolak-balik posisi tidurnya lalu memutuskan untuk
duduk.
“Hei, apa yang kau lakukan?” Steve menatap geli tingkah Debby. “Kau bisa sakit kepala kalau
terus seperti itu.”
“Sejak kapan kau di sini?” tanya Debby balik. Ia
takut Steve mendengar semua ucapannya tadi, kalau hal itu sampai terjadi, bisa dipastikan ia tak akan lepas dari
pertanyaan-pertanyaan aneh.
Steve mendekat pada Debby. “Yang jelas waktu aku
masuk, aku melihatmu memukul-mukul kepalamu sendiri dan kau bergumam tak jelas.
Memang apa yang kau ucapan?” selidiknya.
Debby menggeleng lemah. “Aku hanya memikirkan
tentang kuliahku. Kau tahu kan, kalau aku bukan orang dengan otak berlebih
sepertimu..”
“Sudahlah, aku tahu kau bukan orang yang akan
membicarakan keterbatasanmu di saat seperti ini,” Steve tersenyum pada Debby,
membuat pipi gadis itu merona karena tertangkap basah berbohong.
Steve naik ke ranjang Debby dan duduk di sebelahnya.
“Ranjangmu mengecil,” komentar Steve.
“Ini masih sama, single bed. Kau tidurlah di
bawah, aku tak suka berbagi tempat tidur!” Debby mendorong Steve dan tertawa
saat melihat laki-laki itu terjengkang.
“Ahh..” Steve mengelus punggungnya yang membentur
meja. “Inikah sambutanmu pada sahabat yang sudah lama tak kau temui?”
Debby mengangkat bahunya, tak peduli. “Kau
benar-benar tak berubah, Steve! Kau pikir ini kamarmu, pergilah keluar dan cari
kamar yang lain!” Usir Debby dengan sungguh-sungguh, “Lagipula orang akan
mengira yang tidak-tidak kalau kita tidur seranjang,” Imbuhnya.
“Ya...Kau benar! Aku butuh istirahat dan aku malas
kembali ke rumah Bibi Han, bisakah kau berdiri dan merelakan ranjangmu
untukku?” tanya Steve tanpa beban. Debby mendesah, ya beginilah Steve
–sahabatnya- yang sedikit tak tahu diri.
“Hei.. aku ini pemilik rumah, jadi aku berhak
mengusirmu.”
“Tamu adalah raja, kau berani sekali mengusir raja,”
balas Steve tak mau kalah.
“Baiklah...baiklah... di rumahku ada tiga kamar. Kau
tak mungkin tidur di kamar Ibu, jadi aku mempersilahkanmu tidur di kamar
sampingku,” tawar Debby.
Steve mengernyit, nampak tak suka dengan usulan
Debby. “Aku tak mau. Kamar yang kau tawarkan sedikit gelap dan sirkulasi
udaranya membuatku tak nyaman. Kenapa tidak kau saja yang tidur di sana?”
Debby menghembuskan napas kasar, “Kau ini kenapa tak
tahu diri sekali, Stevan. Tak bisakah kau mengalah sedikit padaku, aku sedang
sakit,” Debby menatap tajam Steve, ia kembali berbaring dan menutup seluruh
tubuhnya menggunakan bedcover.
“Kau sakit apa? Kenapa kau tak ke rumah sakit?
Kenapa kau masih saja galak? Ah... jangan-jangan ini akal-akalanmu supaya
aku...”
“Datang bulan, aku sedang datang bulan dan sedikit
sensitif.” Potong Debby.
“Baiklah Debora, kalau begitu aku akan menjagamu di
sini.” Steve duduk di kursi dekat meja belajar Debby dan mulai mengobrak-abrik
meja di depannya.
“Aku tak suka dilihat saat sedang tidur!”
“Tenanglah, aku tak akan melihatmu. Kau menutup
tubuhmu dengan rapat, lagipula... meja belajarmu lebih menarik.”
Di balik bedcover Debby mendengus, apakah ia
benar-benar tak menarik bagi kaum adam?

Hahaha kasihan debby,,,
BalasHapus