Steve memperhatikan Debby yang sedang tidur. Wajah
gadis itu sangat polos, membuatnya gemas. Dulu -7 tahun yang lalu- saat ia
untuk pertama kalinya melihat Debby, rasa penasaran akan gadis itu sudah
menyelimutinya.
Steve sangat marah, ia kecewa dengan orang
tuanya. Bisnis yang dijalani mereka tak memungkinkan Steve untuk tinggal
bersama karena selalu berpindah-pindah tempat dan sebagai imbasnya Steve harus
tinggal dengan Bibi Han.
Hari pertama, ia tak mempunyai teman.
Setelah selesai mendaftar di SMP, ia langsung menuju kamar dan tak ada kegiatan
menarik untuk dilakukan.
“Steve, kau mau ikut Bibi bekerja?”
tanya Bibi Han dari ambang pintu kamar Steve.
Steve berdecak malas, “Memangnya aku
bisa bermain di tempat kerja?” Ucap Steve tanpa minat.
Bibi Han tersenyum, ia mengerti perasaan
keponakannya yang masih kecewa. Dengan pasti ia mendekat ke Steve. “Pemilik
toko kue tempat Bibi bekerja punya anak perempuan yang sepantaran denganmu,
nanti Bibi akan mengantarkanmu ke rumahnya agar kalian bisa bermain bersama.”
Steve mengalihkan pandangannya ke Bibi
Han sepertinya ia sedikit tertarik dengan ajakan itu, tapi ia kemudian menyela,
“Apa yang bisa kumainkan dengan anak perempuan?”
“Debby anak yang menyenangkan, Bibi
yakin kalian bisa bermain bersama.”
Steve nampak berpikir sejenak. Usulan
Bibinya tak buruk, siapa tahu anak perempuan itu memang menyenangkan. Dan lagi,
ia tak mau hanya berdiam di rumah. “Baiklah..”
***
Steve telah sampai di depan rumah Debby
dengan diantar Bibi Han. Ia memperhatikan rumah itu, tak lebih besar jika
dibanding dengan rumah orang tuanya namun ia tak mempermasalahkan hal itu. Steve terperangah saat melihat pintu rumah terbuka dan kemudian
seorang gadis kecil berambut panjang berlari keluar.
“Bibi Han!” Seru gadis itu. Ia berhenti di
depan Bibi Han dengan napas terengah, tangannya mengusap peluh yang membasahi
dahi. “Bibi melihat Cipo?” Gadis itu menanyakan anak anjing peliharaannya yang
lepas dari kandang.
“Bibi tidak melihat,” Bibi Han
menggeleng .
“Ahhh Cipo, kemana kau?” Erang Gadis
kecil itu frustasi. Ia sudah bolak-balik keluar masuk rumah namun anak
anjingnya tetap tak ketemu. Kakinya benar-benar lemas dan ia terduduk begitu
saja, matanya mulai berair –ia menangis.
“Sudahlah, jangan menangis. Nanti kita
cari bersama Cipo atau kita bisa melaporkannya ke polisi,” ucap Steve yang dari
tadi memperhatikan gadis itu.
Gadis itu mengusap air matanya dan
menatap Steve garang, “Kau bodoh atau apa? Cipo itu anak anjing!” Sentaknya
dengan diiringi tangis yang semakin keras.
“Steve, ini Debby. Debby, ini Steve.
Keponakan Bibi, dia tidak tahu siapa itu Cipo , jadi maafkanlah dia.” Bibi Han
memandang Debby dan Steve bergantian, mencoba memberi pengertian kepada dua
bocah kecil di hadapannya.
Gadis kecil itu –Debby- menghentikan
tangisnya. “Aku Debby,” ucapnya dengan sesenggukan. Rasa jengkelnya meluap
sudah, kini berbalik menatap laki-laki kecil itu penuh minat. Ia selalu
tertarik jika mengenal orang baru apalagi jika berteman dengannya.
Steve tak begitu mempedulikan emosi Debby
yang cepat berubah dan membalas jabatan tangan Debby, “Aku Stevan, panggil saja
Steve. Nanti kita cari anak anjingmu bersama, Okay?” tawar Steve.
Bibi Han tersenyum melihat keponakannya
dan Debby. Sepertinya mereka bisa berteman dengan baik dan ia tak perlu
mencemaskan Steve akan kesepian lagi. “Debby, bisakah kau menemani Steve
bermain. Ia baru pindah ke kota ini dan belum mempunyai teman. Nanti setelah
pulang dari toko kue ibumu, Bibi akan menjemputnya,” pinta Bibi Han.
Debby mengangguk mengerti, “Baiklah
Bibi, lagi pula nanti aku akan mempunyai teman untuk mencari Cipo.”
***
Sepeninggal Bibi Han, Debby dan Steve saling melihat dengan –masih-
sedikit canggung. Steve tertarik pada Debby karena rambut panjangnya yang
dikucir dua, ketika gadis itu berlari, rambutnya juga ikut bergerak ke sana
kemari.
“Kau mau mencari anjingmu lagi?” tanya
Steve yang dijawab anggukan oleh Debby. “Bagaimana ciri-cirinya?”
“Ekornya melingkar ke atas, tingginya
sekitar 20 cm dan warnanya cokelat.” Debby nampak berpikir lagi, “ Ah, dia juga
memakai kalung dengan tulisan Cipo’s Debora,” jelas Debby sebisanya.
“Debora?” Steve mengernyitkan dahinya.
“Itu namaku! Aku tak bisa mengucapkan
‘r’ sampai TK, jadi aku lebih suka dipangggil Debby.”
“Baiklah, ayo kita cari!” Tanpa aba-aba,
Steve menarik tangan Debby dan membawa gadis itu menuju jalan.
Steve tersenyum mengingat kembali pertemuannya
dengan Debby. Bagaimana merahnya hidung gadis itu saat menangis, bagaimana
marahnya dan bagaimana lelahnya mencari Cipo yang tak pernah ketemu sampai
sekarang.
Saat itu Steve berniat akan memberikan Debby anak
anjing yang sejenis dengan Cipo, namun dengan tegas gadis itu menolaknya. Debby
berkata akan sangat menyakitkan jika peliharaannya hilang lagi dan tak ketemu,
lebih baik tak usah mempunyai hewan peliharaan.
“Hah.. dia tidur sangat pulas seperti aku tak ada di
sini,” desah Steve. Ia mendekat ke ranjang Debby dan mendapati ponsel perempuan
itu bergetar. “Deb.. bangunlah dan angkat ponselmu,” Debby tak bereaksi apa-apa
dan membuat Steve mengangkat ponsel perempuan itu.
“Halo...Ya,
benar ini ponselnya...Dia sedang tidur, tinggalkan saja pesan dan aku akan
menyampaikannya..”
Steve tak lagi mendapat jawaban dari si penelepon.
“Aneh! Laki-laki itu menutup teleponnya tanpa meninggalkan pesan.” Steve
menatap heran ponsel di tangannya, nama penelepon tak tercantum di sana.
***
Debby menggeliat di atas ranjang. Badannya terasa
pegal, entahlah sudah berapa lama ia tidur, yang jelas sekarang rasa sakit di
perutnya sudah menghilang. Debby menghentikan gerakan meretangkan tangannya
sejenak, bukankah tadi ada Steve? Dimana dia? pikir Debby.
Dengan langkah yang masih gontai, Debby menuju
pintu. Jam sekarang pasti ibunya belum pulang dan ia lapar, jadi tujuannya
adalah ke dapur dan berharap ada sesuatu sudah siap makan. Pintu terbuka dan
Debby mendapati seorang laki-laki berambut cokelat dengan kaos putih yang
ditutupi oleh jaket yang senada dengan jeans yang dikenakan. Sungguh penampilan
yang sederhana namun terlihat mewah dan istimewa saat yang memakai
seorang...Richard Alfredo!
“Oh, memo?” Debby mengambil kertas kecil yang
tertindih pulpen di meja belajarnya.
Aku pulang karena bosan. Kau tidur
seolah-olah tak ada orang, apakah ini sambutan untuk teman yang sudah 4 tahun
tak bertemu? Ah, sudahlah! Kau tak perlu menyesal membaca ini, cukup temani aku
makan malam pukul 7. Steve.
“Memo dari Steve? Sampai jam berapa tadi dia
menungguiku?” gumam Debby lalu kembali melanjutkan langkahnya ke dapur.
“Harusnya kau mengajakku makan siang karena sekarang aku kelaparan,” protesnya
pada memo yang ditinggalkan Steve.
***
Debby mencari
makanan di dapur dan harus puas saat ia hanya menemukan roti tawar yang
selalu tersedia saat sarapan. Mau tak mau ia memakannya. Bukankah saat kita
lapar makanan apa saja akan terasa enak? Ya! Debby merasa seperti itu dan ia
sedang menghabiskan roti ketiganya saat bel pintu menginterupsi.
“Astaga, siapa yang bertamu di saat makan siang? Tak
bisakah ia datang setengah jam lagi?” Sungut Debby lalu berjalan menuju pintu
utama rumahnya.
Oh Tuhan, untuk apa laki-laki itu datang ke
rumahnya? Apakah ia ingin meminta kembali baju mahal yang kini masih dikenakan
Debby, dengan senang hati Debby akan mengembalikannya. Baju mahal membuatnya
terbebani karena tak bisa bebas bergerak dengan alasan klasik..takut rusak! Ia
tak peduli dikatakan norak tapi ia memang tak suka sesuatu yang berlebihan,
seperti laki-laki yang kini di hadapannya, tampan yang berlebihan sampai ia
lupa bernapas saat mereka dekat.
“Apakah kau akan membiarkanku berdiri dan
memandangiku saja?” ucap Richard , tampak jengah dengan tingkah Debby yang
menurutnya aneh.
Debby menggeser posisinya dari ambang pintu,
mempersilahkan Richard masuk. Oh Tuhan, bahkan hanya memasuki rumahnya Richard
berlagak seolah ia sedang berjalan di catwalk.
“Bolehkah aku duduk?” tanya Richard. Namun
sepertinya ia tak butuh jawaban Debby karena sebelum gadis itu membuka
mulutnya, ia sudah meletakan dirinya di
sofa.
“Ck!” Cibir Debby. “Ada perlu apa kau ke sini?”
tanya Debby yang kini telah duduk di hadapan Richard.
Richard meletakkan dompet berwarna biru di depan
Debby. “Kau meninggalkan ini.”
Debby segera menyambar dompetnya dan memeriksa
isinya. Ia tak pernah berpikir Richard akan mengambil uangnya karena harta yang
dimiliki laki-laki itu bisa membuat mabuk siapa saja yang menghitungnya.
“Bagaimana bisa ini tertinggal? Dompetku selalu kutaruh di tas saat pergi.”
Selidik Debby.
“Itu karena aku mengeluarkannya saat ingin mngetahui
identitasmu,” jawab Richard dengan tenang.
“Kau membuka dompetku dengan dalih ingin mengetahui
identitasku? Kau bahkan yak mengantarkanku pulang dengan alasan skandal dan
sekarang kau malah muncul di sini,” Sindir Debby. Ia bersyukur sekaligus bangga
karena dapat mengucapkan hal demikianpada Richard. Kalau ia tadi –di rumah
Richard- malu sampai nyaris gila, sekarang ia harus bisa membalas laki-laki
itu.
“Bisakah kau berpikir sebelum berbicara? Ck! Kalau
seandainya tadi kau kenapa-napa aku harus menghubungi siapa? Haruskah aku
membuangmu di tengah jalan?” Balas Richard.
Debby tercengang! Ia harus berpikir, berpikir bisa
membalas ucapan Richard. “Lalu kenapa kau mengantarkannya? Kenapa bukan
sopirmu? Kau tak takut dengan skandal?” Ia mrasa puas melontarkan ide
terbaiknya dalam 10 detik.
“Menyedihkan sekali karena keluargaku mempunyai dua
sopir dan mereka bukan buatku, jadi apa yang harus kulakukan jika mereka
tak ada? Harusnya aku tak harus
repot-repot ke sini kalau saja kau yang mengangkat teleponku!” Richard menatap
tajam Debby, seolah yang bersalah atas semua kejadian ini adalah gadis itu.
“Kau meneleponku? Kapan? Darimana kau dapat
nomorku?”
“Ck! Apakah kau lupa jika mempunyai ponsel dan aku
juga mengeceknya untuk keperluan tak terduga seperti ini? Apakah kau juga ingin
menanyakan kenapa aku tak meninggalkan pesan kepada laki-laki yang mengangkat
teleponku? Aku terlalu baik dan tak ingin ia salah paham!” Jelas Richard
panjang lebar sampai membuat Debby tercengang. Bisa ia tebak, hal yang baru
saja dikatakannya adalah yang ingin diketahui oleh gadis itu.
“Dia temanku jadi tak mungkin ada salah paham!”
Koreksi Debby.
”Siapapun akan salah paham kalau aku mengatakan kau
baru saja tidur di kamarku dan meninggalkan dompetmu.” Richard berdiri dan
nampak bersiap-siap untuk pulang. “Hah, kau benar-benar...” Keluhnya.
“Maaf..”
“Kau tak perlu meminta maaf, persiapkan saja dirimu
untuk 7 hari kemudian,” Richard melangkah keluar namun belum sampai pintu,
tangannya di cekal oleh Debby.
“Apa yang kau inginkan dariku 7 hari kemudian?”
tanya Debby.
Richard tersenyum sensual. Ia mendekat ke arah
Debby. Wajahnya semakin mendekat membuat perempuan itu tegang ketakutan. “ It’s
secret, babe..” bisiknya, lalu keluar rumah Debby dengan santai.
***
Debby sedang menikmati makan malam dengan Steve
namun pikirannya sedang melayang tak tentu kemana. Ia hanya mengaduk-aduk nasi
goreng yang dipesannya tanpa sadar, membuat sahabatnya bingung sendiri.
“Kau tak suka makanannya?” Tanya Steve sambil
menyuapkan spaghetti ke mulutnya.
Debby tersentak, “Oh..aku suka, sangat suka!” Dengan
bersemangat ia memakan nasi gorengnya.
“Tapi kulihat tadi hanya mengaduk-aduk makananmu,”
kekeuh Steve. Ia memajukan diri ke Debby yang duduk di seberangnya. “Apa
makanannya tak enak?” Bisiknya.
Baru saja Debby membuka mulutnya, ingin menjawab
tapi Steve menyela dengan memanggil orang lain. Awalnya Debby tak mempedulikan
hal itu, paling hanya kenalan atau anak dari relasi orang tua Steve, namun ia
mau tak mau mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang sudah tak asing di
telinganya.
“Hai Richard, lama kita tak bertemu. Bagaimana
kabarmu?” Tanya Steve. Ia menawarkan Richard untuk bergabung dengannya dan
langsung saja diterima oleh laki-laki itu.
Richard duduk di samping Steve. “Kabarku tak pernah
sebaik ini,” jawabnya lalu tersenyum. “Hai Debby..” Sapa Richard yang sukses
membuat gadis itu –Debby- nyaris tersedak karena terkejut.
“Kau kenal dengan Debby?” Tanya Steve, seolah melupakan
keberadaan Debby.
Senyum misterius terlihat di wajah tampan Richard,
sangat berbeda dengan ekspresi yang ditujukan Debby. Mengingat beberapa kali
pertemuan mereka membuatnya takut kalau hal aneh akan keluar dari bibir
laki-laki itu.
“Dia salah satu mahasiswi yang diampu oleh dosen
seniorku,” jawab Richard dengan tenang dan ia bisa melihat Debby bernapas lega.
“Kau? Sampai mengingat nama mahasiswi? Kau bukan
orang yang seperti itu..” Cibir Steve seolah tak percaya.
“Aku memang bukan orang yang seperti itu tapi aku mengingat
mahasiswi yang suka membuat forum sendiri dalam kelas,” ucap Richard.
Debby tersedak mendengar ucapan Richard. Sialan
kau, umpat Debby dalam hati. Ekor matanya menatap tajam laki-laki itu
seolah ingin melucuti sekarang juga, pasti setelah ini Steve akan berpikir
aneh-aneh tentang dirinya.
“Wow, seingatku kau bukan orang yang seperti itu
Deb,” Kini Steve beralih kearah Debby.
“Aku memang bukan seperti itu dan sekarang aku pun
masih sama!” Bantah Debby. Apa-apaan ini, mereka seenaknya saja membicarakan
orang di depannya secara langsung dan tanpa canggung sedikit pun.


Lanjut ya kak feeeeeeee
BalasHapus