Blogger Widgets

Label

Jumat, 24 Mei 2013

Valday For Melly



Title : Valday for Melly
Author : Fera Fanisia Budi
Genre : Teenlit
Rating : PG-13
Casts : Melly, Juno, etc
Disclaimer : this story is made by myself, the casts are mine.
Don’t copast or edit!

“Ah gila Siwon ganteng banget!!! Gue mau pesen cowok kayak dia!” Seru seorang gadis yang sedang menatap layar TV.

“Dasar Melly jomblo! Kerjaannya tiap hari lihatin cowok sambil teriak aaaa gue mau ini, aaa gue mau itu. Ckckck!” Celetuk pria dengan rambut hitam kecoklatan dari ambang pintu.

Melly menatap pria yang tak lain adalah Juno, sahabatnya. Dengan hentakan kakikeras dan kedua tangan di pinggang dia menghampiri Juno yang sedang menatapnya remeh.

“Lo juga jomblo, Juno!” Tegas melly sambil mengacungkan telunjuk kanannya tepat di hidung Juno.

Juno tersenyum manis, ditepisnya tangan Melly dari hidungnya dan mulai memeluk sahabat kecilnya itu. “Gue baru putus seminggu yang lalu, sedangkan lo? Ultah jomblo, tahun baru jomblo, sebentar lagi valday dan lo masih aja jomblo. Uh,, pray for Melly!”

Melly menggedikan bahu melihat ekspresi Juno yang menurutnya errr menjijikan. “Masalah buat lo?” Ucap Melly ketus.

“Masalah buat gue? jelas nggak lah! Inget, umur lo udah 17 tahun dan belum pernah pacaran sama sekali!”

“Ngapain juga lo yang heboh?” Melly menghempaskan tangan Juno dari bahunya dan beranjak pergi.

***

Melly berjalan dengan malas-malasam sambil sesekali mengeluh. Dia memang tak suka siang hari, baginya panas itu sakit. Beberapa kali dia mengusap di dahi yang membasahi poni lurusnya.

“Astaga neraka bocor, orang rumah juga nggak ada yang jemput gara-gara jarak sekolah sampai rumah Cuma  empat ratus meter. Perasaan dulu waktu TK gue dijemput walaupun jaraknya Cuma dua ratus meter, dikira gue sekarang aman ya gara-gara udah gede. Tapi kan gue cantik, bisa jadi target penculikan. Kalau tuh penculik minta tebusan kan berabe, keluarga gue nggak sekaya musdalifah. Terus kalau gue nggak ditebus dan dijadiin gratitifikasi seksual sama pejabat atau pengusaha gimana? Terus kalau endingnya gue dikerubutin wartawan kayak si Maharani gimana? Astaga rumah gue kok kayaknya tambah jauh ya, perasaan udah jalan dari tadi kagak nyampai-nyampai!” Gerutu Melly di sepanjang jalan.

“Siang non Melly? Nggak mau minum dulu?” Sapa Mang Ucup, penjaga warung pinggir jalan.

“Ok Mang!” Melly menuju warung yang sudah menjadi langganannya. “Jus melon dua ya,Mang!” Pesan Melly sambil duduk di bawah pohon.

“Ini non minumnya!” Mang Ucup meletakkan dua gelas jus melon di depan Melly.

“Kamshahamnida, Mang.”

“Cheonma non.”

“Asikk sekarang udah korea-koreaan nih?” Goda Melly sambil menyeruput jusnya.

“Iya dong, Non. Gara-gara Non Melly yang selalu ngomong pakai gitu sih. Gimana Non jusnya?” tanya mang Ucup.

“Mashita! Mamang memang daebak!” Melly mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah mang Ucup. “Mang, minum jus di siang bolong gini tuh rasanya kayak ketemu pacar yang udah lama pisah.” Komentar Melly.

“Non Melly emang tahu rasaya? Pacar aja nggak punya.” Ledek Mang Ucup.

“Yeee.. bukan gitu Mang, Siwon sekarang lagi sibuk jadi nggak bisa nyamperin ceweknya yang di sini.” Kilah Melly ngelantur. “Nih Mang gelasnya! Yang bayar Juno ya, biasanya jam empat sore dia jogging lewat sini. Kalau dia nggak mau bayar, samperin aja di rumahnya. Tahu kan yang rumahnya di depan rumah saya?” Jelas Melly.

“Juno? Oh yang cina tapi bule itu ya?” Tanya Mang Ucup.

“Eh? Ah iya iya yang putih kayak tepung terigu.” Jawab Melly ngasal.

***

Melly bernapas lega saat sampai di depan rumahnya, dia sudah membayang berdiri di depan kulkas dengan air dingin berbotol-botol. Namun niatnya diurungkan saat melihat motor Juno dia memutuskan untuk bermain di rumah Juno dahulu.

“Juno!” Melly memeluk Juno yang sedang bermain PS.

“Woy woy woy bau matahari!” Protes Juno sambil melepas pelukan Melly.

“Enak aja, ini bau perjuangan siswa!” Kilah Melly.

“Gaya lo perjuangan!” Cibir Juno sambil tetap bermain.

“Tanding lawan gue yok!” Tantang Melly.

Juno menghentikan permainannya sejenak, dia menatap Melly yang terlihat bersungguh-sungguh. Senyum kecil dia tunjukkan pada gadis dengan seragam putih abu-abu di depannya. “Boleh. Taruhan ya, kalau gue menang lo jadi valentine gue?” Tawar Juno.

Melly menatap bingung Juno. “kenapa harus itu?”

“Bentar lagi kan valday, nggak mungkin dong seorang Juno nggak bawa gandengan? Dan lebih nggak mungkin kalau gue ngajak sembarang cewek.”

“Ok! Tapi kalau gue menang, lo beliin gue tiket Super Show. Gimana?”

“Ok!”

Setengah jam sudah Melly dan Juno bertanding, keduanya sama-sama serius dan tak mau kalah. Beberapa kali Melly nyaris kalah karena dia memang buruk dalam bermain sampai akhirnya.. melly benar-benar kalah.

“Ah rese’ kemenangan lo menghambat pertemuan gue dengan suami.” Melly membanting stick game dan mendengus kesal. Diliriknya Juno yang tersenyum puas.

“Bodo!”
Melly terseyum jahil ke arah Juno lalu menariknya. Tak dihiaraukan teriakan dari Juno, dia masih menarik Juno sampai  keluar rumah.

“Woy Mel, gerimis nih!” Juno berlari menuju teras rumahnya.

“Ini tuh seger Jun, coba deh hirup aromanya!” Melly merentangkan kedua tangannya, matanya terpejam sambil menghirup aroma gerimis yang menyentuh tanah. Dia berputar-putar dengan riang tak peduli dengan air yang mulai membasahi seragamnya, tak disadarinya Juno yang sedang tersenyum melihat tingkahnya.

“Ini tuh seger Jun, coba deh lo hirup aromanya. Ahh!!” Usul Melly sambil menghirup napas dalam-dalam. “Ahhh...” Tiba-tiba Melly merintih kesakitan, tangannya mencekeram erat kepalanya.

Juno yang khawatir dengan keadaan Melly sontak menghampirinya tanpa mempedulikan dirinya yang kini ikut basah. “Mel, lo kenapa?” Tanya Juno cemas.

“Kepala gue Jun, sakit banget.” Rintih Melly. Dengan sigap Juni menggendong Melly menuju ke kamarnya.

***

Dengan hati-hati Juno merebahkan tubuh Melly di ranjangnya. Di selimutinya Melly menggunakan bed cover dan tak lupa dia mengompres dahi Melly.

“Makanya Mel, hilangin tuh kebiasaan buruk lo! Udah tahu air hujan mengandung asam, pakai dinikmati sambil muter-muter lagi. Dan satu lagi, lo pasti habis minum air es kan pas panas-panasan tadi? Hilangin tuh, atau minimal kurangin lah!” Nasihat Juno panjang lebar sambil menaruh segelas susu hangat di samping Melly.

“Iya bapak dokter, lo kenapa malah kayak nyokap gue sih?” Gerutu Melly sambil meminum susu hangatnya.

“Gue itu care sama lo, jelek! Kalau lo sakit, ntar nggak ada yang gue ledekin lagi.” Balas Juno.

Melly mendengus sebal mendengar ucapan sahabat kecilnya itu. Sifat isengnya tak pernah hilang walaupun mereka pernah terpisah selama tiga tahun, tepatnya saat Juno masuk SMA. Mereka baru bertemu kembali sekitar tiga bulan yang lalu saat Juno masuk ke universitas di Ibu kota. Meskipun begitu, ada sifat Juno yang membuat Melly kagum. Juno mempunyai jiwa sosial yang tinggi, itu lah alasan mengapa dia mengambil kuliah di jurusan kedokteran. Tapi, kalau ditanya secara langsung Juno akan menjawab dengan alasan yang sangat aneh. ‘Gue nggak mau orang di sekitar gue sakit, ntar kalau gue di tinggal mati gue sendirian dong’ begitulah jawaban yang selalu dilontarkan Juno pada Melly.

“Jun, gue mau pulang.” Pinta Melly dengan setengah merajuk.

“Di rumah lo lagi nggak ada orang, udah lo diem di sini dulu! Tenang, gue nggak mungut duit nginep kok, paling Cuma biaya perawatan doang.” Ucap Juno dengan sedikit candaan.

***

Sudah sejak setengah jam yang lalu  Melly memperhatikan wajah Juno yang sedang tidur  di hadapannya, wajah yang terlihat polos, nyaris sempurna dan tanpa cacat sedikit pun. Di sapukan telunjuknya menyusuri lekuk wajah Juno sampai berhenti di hidung, dengan jahil Melly memencet hidung sahabatnya itu. Sedikit senyum diulas wajah cantik Melly saat mendapati Juno sedikit terusik karena tingkahnya. Dengan perlahan Melly memajukan wajahnya hingga berjarak l5 cm dari wajah Juno.

“JUNO BANGUN!!!” Teriak Melly tepat di telinga kanan Juno, dan tak lupa satu pukulan kecil dari bantal di layangkan Melly pada lengan Juno.

Juno mengusap-usap matanya lalu duduk. Di kerjapkan matanya beberapa kali untu mengumpulkan kesadaran. “Lo udah sembuh?” Tanya Juno dengan suaranya yang masih parau dan di jawab anggukan oleh Melly. “Lo nggak sekolah?” Tanya Juno lagi.

“Gue libur.” Jawab Melly singkat.

Juno meraih kalender duduk yang berada di meja samping ranjangnya. “Sekarang bukan tanggal merah, Melly.”

Melly meraih kalender yang dibawa Juno dan melemparkannya asal. “Ayo kita bolos!” Ajak Melly.

Juno menatap Melly sebentar dan melayangkan pukulan kecil ke kepala Melly. “Lo udah kelas XII, nggak bisa!” Tolak Juno.

“Please, ayo kita beli baju pasangan buat ngerayain valday!” Melly menangkupkan kedua tangannya dan menatap Juno dengan wajah memelas, berharap permintaannya dikabulkan.

“Pulang sekolah kan bisa, Mel.” Kekeuh Juno.

“Sekarang aja ya!pulang sekolah itu gue capek dan panas, ntar gue pusing lagi gimana? Lagian, ini juga pertama kalinya gue bolos. Sekarang aja ya, ya ya ya?” Rajuk Melly.

“Ah iya iya. Yaudah lo tunggu di ruang tamu, gue mau mandi dulu!” Pasrah Juno.

“Ok!” Tanpa berlama-lama lagi Melly segera keluar dari kamar Juno dengan puas hati.

***

Sudah satu jam Melly dan Juno berkeliling mall untuk mencari baju pasangan namun tak ada yang cocok dengan mereka. Melly masih melihat-lihat baju tanpa menampakan raut wajah lelah. Berbeda dengan Juno, dia hanya bisa pasrah ditarik-tarik oleh Melly.

“Jun, gimana kalau yang ini?” melly menunjukkan sepasang baju dengan gambar kartun kepada Juno.

“Nggak ah! Lo pikir kita anak SMP?” Tolak Juno.

“Kalau yang ini?”

“Terlalu banyak motif. Itu lebih mirip korang daripada baju.” Tolak Juno lagi.

Melly mendengus kesal karena pilihannya selalu ditolak Juno. Kini ia sedang memeperhatikan Juno yang sedang memilih baju untuk mereka.

“Gimana kalau yang ini?” Tanya Juno.

“Jun, ini baju apa toilet? Kenapa ada tulisannya ‘Woman’ dan ‘Man’? Gambarnya juga kayak yang biasanya terpasang di toilet-toilet umum.”

“Gue juga geli.” Komentar Juno.

“Milih yang bener dong!” Geram Melly.

“Nih!” Juno menyerahkan satu kaos pada Melly.

“I’m your cappuccino.” Gumam Melly saat membaca tulisan pada baju yang diberikan Juno.

“Gue kan suka cappuccino, jadi lo pake itu.” Jelas Juno.

“Kalau baju lo tulisannya apa?” Tanya Melly.

“I’m your chococino.” Jawab Juno singkat. “Itu kesukaan lo, kan?” Lanjutnya.

“Tapi gue heran, kok ada ya baju couple yang tulisannya begini?”

“Gue udah pesen kemarin, lagian ini distro milik temen gue.” Ucap Juno tanpa rasa bersalah.

“Rese’ kalau lo udah pesen, ngapain tadi kita muter-muter?” Kesal Melly. “Sebagai gantinya lo harus traktir gue makan es krim.”

***

Melly melahap es krim coklatnya dengan penuh gairah. Dia memang menyukai sesuatu yang berbau coklat, bahkan ini adalah es krim ketiganya.

“Lo nggak takut pusing makan es krim sebanyak gitu?” Juno memperhatikan mangkok-mangkok es krim yang isinya telah dihabiskan Melly.

“Nggak! Ini enak, thanks ya..” Jawab Melly sambil tetap melahap es krimnya.

“Cuma es krim doang nggak bakal bikin gue bangkrut.” Sahut Juno.

“Bukan es krimnya, tapi hari ini. Gue seneng muter-muter di mall sama lo, ini udah lama nggak kita lakuin kan?” Melly mengatupkan kedua tangannya, wajahnya tersenyum menunjukkan eye-smilling.

Hati Juno mencelos mendengar penuturan Melly, dia menghentikan sejenak kegiatan melahap es krim stroberi. “Mulai sekarang kalau gue ada waktu, gue bakal usahain buat main sama lo.” Janji Juno.

“Harus itu! Seenggaknya sebelum kita pergi dengan takdir masing-masing.”

“Jodoh maksud lo? Gila aja, gue baru 19 tahun, belum mikir sampai ke situ.”

Melly tersenyum tulus kepada Juno tanpa bermaksud membalas ucapannya.

***

Juno dan Melly berjalan menyusuri trotoar menuju taman bermain, sekadar untuk mengenang masa kecil mereka. Sesampainya di taman, Melly duduk di sebuah ayunan. Pandangannya menelisik setiap sudut taman, senyum manis disunggingkannya manakala ia melihat beberapa anak kecil bermain pasir.

“Kenapa, Mel?” Juno duduk di ayunan yang bersebelahan dengan Melly.

“Lihat deh Jun anak kecil yang lagi main itu! Kelihatannya damai banget, kayak nggak ada masalah.” Jawab Melly.

“Setiap orang punya masalah, anak kecil juga. Bedanya, masalah mereka hanya sebatas ya..masalah anak kecil lah. Emang kenapa? Lo mau jadi anak kecil lagi?”

“Kalau bisa kayak gitu, mungkin gue mau nyoba sekali lagi. Gue mau ngelakuin hal yang seharusnya udah gue lakuin dari dulu, pasti enak. Iyakan , Jun?” Cukup lama Melly tak mendengar jawaban Juno sampai akhirnya dia mendapati Juno yang sedang tak fokus dengan ceritanya. “JUN!!!” Teriak Melly tepat di telinga Juno.

“Mel, lo apa-apaan sih?” Sewot Juno sambil mengusap telinganya.

“Ya abis lo sih, gue ngomong tapi nggak didengerin.” Sahut Melly dengan cemberut.

“sorry, gue lagi nggak fokus.”

“Lo lihatin apaan sih?” Tanya Melly penasaran.

“Mantan gue.”

“Mantan lo? Mana?” Melly mengikuti  arah pandangan Juno. “Oh, yang pakai dress pink itu ya? Dia cantik. Lo ...masih suka ya?”

“Kalaupun masih suka juga percuma, kita udah putus ini!” Pasrah Juno.

“Ya lo ajak balikan aja, kali aja mau.” Usul Melly.

“Nggak usah lah, lagian dulu yang mutusin juga gue.”

***

Juno sudah bersiap di ruang tamu Melly, sudah sekitar tiga puluh menit ia menunggu Melly bersiap. Rencananya, mereka hendak merayakan valday pada acara kampus Juno. Selang lima menit kemudian Melly turun dari tangga. Juno memperhatikan penampilan Melly, kaos yang dipadukan dengan blazer ,celana jeans dengan , rambut yang di kepang satu kesamping, menyisakan beberapa helai rambut yang terurai, kaki jenjang Melly dibalut dengan highheels dengan desain simple.

“Jun, lo serius temanya casual begini? Aneh banget, biasanya tuh kalo valentine party pakai dress gitu.” Tanya Melly sambil membenarkan bajunya.

“Iya. Udah jangan dipegang-pegang , ntar lecek!”

“Ini tuh kegedean, Jun. Terlalu panjang tahu nggak?”

“Gue lihatnya bagus kok. Ayo berangkat, ntar telat!”Juno menarik tangan Melly menuju mobilnya.

“Jun, Jun, Jun bentar!” Melly menahan langkah mereka yang baru sampai di ambang pintu.

“Apaan lagi sih?” Tanya Juno kesal.

“Gue mau ambil sesuatu dulu..”

“Penting, nggak?” Juno tak dapat menyembunyikan  raut wajahnya yang gelisah karena acara akan di mulai setengah jam lagi.

“E.. nggak begitu penting sih, tapi...”

“Ayo!!” Tanpa menunggu ucapan Melly selesai, Juno langsung menariknya keluar.

***

“ Lo tunggu di sini ya, gue ambilin minum!” Titah Juno yang hanya diangguki oleh Melly.

Melly memperhatikan suasana valentine party yang di dominasi oleh musik beat, sangat kontras dengan suasana valentine party yang ia bayangkan. Dia sering mendengar cerita dari teman-teman kalau suasananya diiringi dengan musik jazz yang lembut. Melly melihat seseorang yang pernah dilihatnya di taman sedang mendekat ke arahnya, tepatnya mantan Juno.

“Hai..” Sapa melly ramah.

“Ternyata bajunya agak kebesaran ya di lo, tapi lumayan lah.” Gadis itu langsung melontarkan komentar saat melihat penampilan Melly.

“Lo mantannya Juno?”

“Ternyata Juno udah cerita ke lo. Nama gue Marissa dan yang lo pake itu baju pasangan buat gue sama Juno.”  Marissa menatap remeh Melly sekilas.

“Maksud lo?” Tanya Melly penasaran.

“Sebelum gue putus sama Juno, kita sempet mesen baju buat valday. Tapi, kita putus dan ya.. gue nggak nyangka dia gandeng anak kecil kaya lo.  Siap-siap deh dicampakin sama dia!” Marissa tersenyum sinis diakhir kalimatnya.

“Juno nggak mungkin kayak gitu sama gue, gue yakin!” Balas Melly sambil tersenyum paksa.

“Gue harap impian lo itu jadi kenyataan deh.” Marissa berjalan meninggalkan Melly yang masih tertegun atas ucapannya.

“Nih minum lo..” Juno menyerahkan segelas minuman pada Melly. “Lo habis ngomong sama siapa?”

“Marissa!” Jawab Melly singkat lalu menghabiskan minumannya dalam sekali tengguk.

“Ngomongin apaan? Dia nggak ngomong yang aneh-aneh kan?” Juno menantikan jawaban Melly dengan cemas.

“Dia Cuma bilang kalau baju ini harusnya milik dia, makanya agak kepanjangan buat gue. Jadi, lo mau mamerin gue ke mantan lo itu? Tapi emang dasarnya sial, gue malah dikatain anak kecil sama dia.” Gerutu Stevie sambil menampakkan wajah cemberutnya.

“Lo kesel atau cemburu sama Marissa?” Juno mengacak-acak gemas rambut Melly.

“Ihhh gue kesel!!! I’m not child anymore!” Melly menghempaskan tangan Juno yang tadi berada di kepalanya.

“Ok ok, i know. . Gimana kalau kita pergi aja, gue bosen!” Juno menarik Melly untuk meninggalkan valetine party.

“Ih.. lo dari tadi main tarik-tarik kagak minta persetujuan gue dulu!” Protes Melly yang diabaikan oleh Juno.

***

Melly mengedarkan pandangannya pada tempat dimana ia dan Juno sekarang berada. Dia tak menyangka Juno akan membawanya ke taman yang pernah mereka datangi setelah membeli baju pasangan.

“Lo kenapa bawa gue kesini?” Tanya Melly sambil mengayunkan pelan ayunan yang didudukinya.

“Nggak tahu. Gue pengen aja di sini lagi sama lo. Lo inget ngga, dulu kan pulang sekolah kita sering banget ke sini?”

“Iya, gue inget. Gue duduk di ayunan ini dan ngelihatin lo yang lagi main pasir.” Kenang Melly.

“Gue mau ngelakuin itu lagi!” Seru Juno bersemangat.

“Lo gila! Kita kan bukan anak kecil lagi.” Sahut Melly.

“Udah lo cukup duduk di sini dan lihat gue!” Juno berjalan menuju bak pasir yang cukup luas. Tangannya dengan terampil mulai membangun sebuah istana. Beberapa kali Juno merobohkan bangunannya karena merasa kurang bagus tanpa memedulikan bajunya yang kini kotor.

“Finish!!” Juno menatap puas hasil karyanya.

“Keren!” Komentar Melly yang kini berada di samping Juno.

“Iya dong, kan gue yang bikin!!”

“Ish, dasar!!” Melly duduk di samping Juno sambil memperhatikan hasil karya Juno.

“Ayo pulang atau makan dulu aja deh..” Ajak Juno.

Melly menggeleng. “Kita disini aja ..” Tolaknya. “Makasih ya, buat hari ini.”

“Cuma ngajak lo ke valentine party doang kan? Itu juga gagal gara-gara gue malah ngajak lo ke sini.”

“Makasih buat waktu lo, makasih udah buat gue ngerasain valday, makasih udah jadi sahabat gue dan meskipun kita sempet kepisah jarak, lo masih inget sama gue.” Melly menyandarkan kepalanya ke bahu Juno. Matanya terpejam seolah menikmati angin yang menerpa wajahnya.

“Lo nggak perlu berterima kasih, Mel. Gue ngelakuin ini juga seneng kok. Lo tahu nggak, baju yang lo pake itu emang khusus buat lo bukan Marissa.”

Melly mengangkat kepalanya dan menatap Juno heran. “Maksud lo?”

“Gueemang pernah pesen baju sama Marissa tapi karena kita putus, jadi deh tuh baju gue ganti tulisannya jadi ‘cappuccino’.” Jelas Juno.

“Bagus deh, seenggaknya  gue nggak jadi seperti tempat penampungan. Boleh gue tahu kenapa lo putus sama Marissa?”

“ I’ll tell you but not now, maybe next time.”

“Ish.. pelit!!”

***

Juno berlari-lari di koridor rumah sakit, rasa khawatir sangat kentara di wajah tampannya. Setiap pintu yang ia lalui selalu dibacanya berharap itu adalah pintu dari ruang ‘mawar 114’. ‘Melly menderita kanker otak stadium lanjut dan semalam dia kollaps, kemungkinan Melly lupa meminum obatnya padahal ia tak boleh telat minum obat, akibatnya bisa sangat fatal. Dokter pernah memvonis hidupnya tinggal 2 bulan, namun karena Melly keras kepala dia masih tetap menjalani hidupnya seperti orang normal’ ucapan bunda Melly di telponmasih terngiang di kepala Juno. Dia menganggap dirinya sebagai penyebab Melly bertambah parah, ingatannya berlari pada malam valday dimana Melly hendak mengambil sesuatu.

Juno menemukan ruangan Melly yang ternyata terletak di ujung koridor. Dia menghentikan langkahnya, nafasnya terengah, dengan perlahan ia membuka pintu. Di dapatinya orang tua Melly, seorang dokter dan suster. Bunda Melly tersedu sedangkan Ayah Melly mencoba menenangkan. Pandangan Juno beralih pada ranjang dimana Melly terbaring. Dia  menghampirinya, di lihatnya wajah yang selama ini ceria kini menjadi pucat pasi.

“Mel...” Panggil Juno lirih.

“Juno.. Melly.. Melly..” Bunda Melly terisak tak mampu meneruskan kalimatnya.

“Melly telah pergi.” Ucap Ayah Melly .

“Mel.. Lo lihat, lo lihat gue belajar jadi dokter. Lo tahu alasan gue jadi dokter, tapi kenapa lo malah seperti ini. Lo bikin gue nggak berguna, gue yang nyebabin ini Mel, GUE!!!” Juno berteriak frustasi di samping jenazah Melly, membuat tangis bunda Melly semakin pecah.

“Kamu.. nggak salah Jun.. Tante.. tante hiks... berterima kasih sama kamu. Kamu adalah orang yang ingin dilihat Melly di sisa hidupnya.” Jelas Bunda Melly.

Juno tercekat, dadanya bergemuruh, air mata yang tadi di tahannya kini berhasil membuat tubuhnya bergetar bahkan sampai terduduk di lantai. Jika ingin dia meminta, dia ingin semua yang dilihatnya ini tak nyata, hal semacam ini tak pernah diinginkan Juno di dalam mimpi sekalipun.

***

Selesai dari pemakaman Melly, Juno menyusuri jalan yang selama ini dilewati Melly tiap pulang sekolah. Kakinya melangkah menuju warung pinggir jalan, warung mang Ucup.

“Mas Juno ya?” Tebak Mang Ucup.

“Iya, Mang. Kok tahu?”

“Saya sering lihat mas Juno sama non Melly main bareng. Duduk dulu mas, non Melly biasanya suka duduk di bawah pohon.”

Juno tersenyum dan duduk di bawah pohon, tempay Melly biasanya duduk. “Jus melon dua ya, Mang!” Pesan Juno.

Juno membuka surat Melly untuknya, surat yang di tulis Melly pada hari valentine malam.

Dear Juno
Gue bingung mau nulis apa, please ya Jun ini bukan gaya gue banget, jadi lo jangan ketawa!!
Ok, gue mulai ya...
Gue mau ngucapin makasih sama lo..
Makasih udah dateng dan ngizinin gue buat bisa lihat lo lagi
Makasih udah ngajakin gue main ps, gara-gara itu gue bisa ngerasain valday xixixi
Makasih lo udah nemenin gue keliling mall, walaupun gue bilang capek tapi sebenernya gue senenggg banget
Makasih udah ajak gue ke taman
Makasih udah mesenin gue baju pasangan
Makasih udah nunjukkin mantan lo, dia cantik tapi masih imutan gue :p
Makasih lo udah kasih itu semua sebelum takdir jemput gue
Sorry gue nggak bilang keadaan gue yang sebenernya, gue Cuma nggak mau diperlakuin beda hanya karena gue sakit. Oh ya pak dokter, lo tenang aja ya, gue nggak bakal tinggalin lo, gue akan ada di hidup lo sampai lo ga ingin gue ada di hidup lo lagi.
Jun, ada hal yang pengen gue bilang dari dulu, dari sebelum kita berpisah
JUNO, I LOVE U
Lo jangan ngetawain gue ya!
Gue rasa ini udah cukup, gue nggak tau harus nulis apa lagi. yang gue rasain ga cukup hanya di wakili huruf A-Z. Bye Juno, jangan nangis terlalu lama dan jangan jd playboy lagi.

Melly :D

Juno menghapus air matanya setelah membaca surat dari Melly, surat pertama yang Melly tulis untuknya.

“Non Melly itu orangnya ceria, saya juga nggak nyangka kalau non Melly sakit.” Komentar Mang Ucup sambil menaruh dua gelas jus melon.

“Itu istimewanya dia, Mang.” Balas Juno.

“Mas Juno suka sama non Melly?”

Juno tak lekas menjawab pertanyaan mang Ucup, dia malah asyik menghabiskan dua gelas jus melonnya. “Ini mang, sekalian utang Melly yang dulu.” Juno menyerahkan sejumlah uang pada Mang Ucup dan bersiap akan pulang.

“Mas Juno belum jawab pertanyaan saya.” Mang Ucup sukses menahan pergerakan Juno.

“Saya bahkan rela putus dengan mantan saya untuk bisa merayakan valentine dengan Melly.” Jawab Juno sambil memberikan senyum tulus.

End

Kritik+saran+no bully J
Makasih J
@ferafany

Tidak ada komentar :

Posting Komentar