Blogger Widgets

Label

Kamis, 21 November 2013

It's Okay, Dear part 6


Mata Debby mengerjap beberapa kali memperhatikan bangunan di depannya, sebuah mansion yang besar dan mewah. Tapi, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah kenapa Richard membawanya ke sini? Apa laki-laki itu ingin mengunjungi kerabatnya yang sangat sangat sangat kaya? Ataukah bangunan itu mewah itu miliknya?


“Turun!” Perintah Richard. Ia segera melepas seatbelt-nya dan turun mendahului Debby.

Debby memperhatikan setiap pergerakan Richard dengan tatapan sinis. “Selalu memerintah sesuka hati!”

“Apa aku harus melepaskan seatbelt-mu dan menuntunmu keluar mobil seperti nenek-nenek?” ucap Richard dari luar jendela di samping Debby.

Tanpa pikir panjang, Debby melepas seatbelt-nya dan membuka pintu dengan cepat sampai membentur hidung Richard. Rasakan kau!

“Apa yang kau lakukan?” Geram Richard sambil mengelus hidungnya yang sedikit berdenyut.

“Aku hanya menuruti perintahmu,” balas Debby tanpa rasa bersalah. “Apa yang akan kita lakukan di sini?” Setelah keluar dari mobil Debby masih memperhatikan mansion di depannya dan acuh terhadap Richard.

Tak ada jawaban dari Richard. Apakah dia marah? Oh ayolah, benturan itu tak sampai membuat hidung mancungnya patah ‘kan?

Tanpa sadar Debby menggumamkan apa yang dipikirkannya dan itu semakin membuat Richrad geram.

“Bukankah lebih baik kau meminta maaf padaku?” Sindir Richard. Ia menatap tajam Debby seolah berkata –minta maaflah- .

Debby memalingkan wajahnya dari Richard, tak tahan dengan tatapan intimidasi yang dilayangkan laki-laki itu padanya. “Aku hanya mengikuti perintahmu dan kenapa kau menempatkan wajahmu di depan pintu?” balasnya tak mau kalah. Untuk saat ini dia bisa tertawa dalam hati karena Richard tak terlihat ingin membalas ucapannya.

“Hei.. hei apa yang kau lakukan?” Debby memekik seketika karena Richard tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya menuju mansion. Langkah Richard yang besar-besar  membuat Debby  yang menggunakan high heels semakin kesusahan.

“Jangan menguras tenagamu dengan berteriak seperti itu, kau akan lebih membutuhkannya nanti!” Jawab Richard dengan dingin.

“Kasihanilah aku,” mohon Debby. Nada bicara melembut dan terdengar frustasi.

Richard menghentikan langkahnya tiba-tiba dan Debby yang tak siap pun membentur punggung  kokohnya. Laki-laki itu menoleh ke belakang dan mengamati keadaan Debby. Gadis itu terengah-engah dan meringis sambil menatap kakinya.

“Kau pakai high heels? Kenapa aku tak menyadarinya?” Richard mengamati kaki Debby yang sepertinya lecet, kemudian ia mengangkat alisnya. “Harusnya kau terlihat tinggi tapi ini...”

“Apa maksudmu?” Debby melotot kepada Richard tapi detik berikutnya ia menyesal. Astaga, kenapa laki-laki itu malah terlihat lebih tampan?

“Apa aku terlihat begitu mempesona sampai kau enggan berkedip? Hati-hati, Nona, bola matamu bisa lepas kalau kau menatapku seperti itu,” Richard mendekatkan mukanya dengan Debby –memperkecil jarak mereka- . “Sudahlah, aku tak ingin buang-buang waktu.”



***
Debby’s POV
Saat memasuki mansion, aku dan Richard–atau lebih tepatnya Richard-disambut oleh beberapa pelayan dengan seragam putih hitam. Mereka menunduk sebagai tanda penghormatan dan Richrad dengan angkuhnya hanya melengos.

Mataku tak bisa berhenti mengagumi  interior mansion megah ini. Bahkan, mungkin saat ini mulutku menganga karenanya. Bayangkan saja, tempat yang kuinjak saat pertama masuk adalah sebuah ruangan mewah menyerupai ballroom, belum lagi dengan sentuhan klasik di sana-sini. Arsitek bangunan ini pasti seorang yang jenius.

“Apa yang kau lihat? Kita tak punya banyak waktu dan jangan sia-siakan waktumu dengan bangunan mati ini!” Tegur Richard sebelum melangkah menuju tangga. Ah, ia memang benar-benar... Tapi apa yang dikatakannya tadi? Bangunan mati? Kurasa ia tak mengerti nilai estetika.

“Tuan Muda Richard, senang sekali melihat Anda kembali,” sambut laki-laki paruh baya dengan ramah. Kalau dilihat dari penampilannya dan sikapnya yang lebih luwes, sepertinya ia sudah lama bekerja di mansion ini.

“Oh Fred. Kemana Ayah dan Ibuku?” Tanya Richard setelah membalas sapaan pelayan yang dipanggilnya ‘Fred’ itu dengan singkat.

“Tuan Besar dan Nyonya sedang menghadiri pertemuan dengan kolega bisnis, mungkin mereka akan kembali sore nanti,” jawab Fred dengan sopan, kemudian pandangannya teralih padaku.

Richard sepertinya mengerti maksud pandangan Fred. “Kemarilah, sayang..” Tak ada yang bergeming saat mendengar perintah Richard yang entah ditujukan pada siapa itu. “Debby..kemarilah!” Ia mengulang lagi perintahnya dan kali ini membuatku membelalakan mata tak percaya. Apa maksudnya dengan memanggilku ‘sayang’?

Karena aku tak segera mendekat, Richard berinisiatif untuk menarikku dengan melingkarkan tangannya dipinggangku dengan posesif. Apakah ini yang dimaksud dengan balas budi? Ya Tuhan, ini benar-benar keterlaluan, aku bahkan mengalami sport jantung karena sentuhan fisik ini!

“Fred, ini adalah Debby..” Richard terus berbicara di tengah kondisiku yang masih mematung, ingin sekali kusumpal mulutnya yang seksi itu! “Dia adalah kekasihku.” Lanjutnya kemudian yang membuatku tak tahu lagi harus berkata apa untuk kegilaannya.

“Senang bertemu dengan Anda, Nona Debby,” sapa Fred padaku dan hanya kubalas dengan senyuman canggung.

“Baiklah kalau begitu.. Sepertinya aku butuh waktu berdua dengan kekasihku, Fred.” Ucap Richard disertai senyuman penuh arti dan sialnya aku tak tahu apa itu.

Fred menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan izin untuk meninggalkan kami berdua. Mungkin arti ucapan Richard tadi ‘tolong tinggalkan kami berdua’ atau ‘kau bisa pergi sekarang, Fred’.

“Dia adalah Fred, kepala pelayan di sini, dan kami sudah menganggapnya sebagai keluarga,” jelas Richard sebelum aku bertanya. Baiklah... untuk beberapa hal, laki-laki cukup peka.

***
Surprise again!! Dimana lagi aku sekarang? Okay, aku melihat ranjang dengan ukuran king size,home teathre,walk in closet,sebuah buffet dengan buku-buku tebal, lemari besar dan meja belajar. “ Sepertinya aku pernah melihat yang seperti ini, tapi dimana?”

“Ini kamarku.”

“Ya benar, ini mirip dengan kamarmu...Apa? Kamarmu?” Aku memberikan Richard sebuah tatapan tertajam yang pernah aku miliki, walaupun aku sendiri tak yakin dengan reaksinya.

Richard mengangkat alisnya. “Kenapa kau sekaget ini? Bukankah kau pernah di kamarku sebelumnya?”

“Dan aku berharap itu yang terakhir!” Balasku dengan kesal. Astaga bagaimana bisa aku berada di tempat –kamar Richard- lagi? Okay... sepertinya aku akan memaki diri sendiri kalau mengingat dengan bodohnya aku mau memasuki mansion ini.

“Wah,, bagaimana ini? Tentu saja harapanmu itu tak kan terkabul!” Ucapan Richard terdengar seperti ‘kau bodoh sekali. Apa kau tadi tidur saat kutuntun ke sini?’

Aku masih berdiri mematung di tempatku tadi –depan pintu- sedangkan Richard sudah melenggang ke ranjang yang terlihat nyaman. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan gaya telentang dan...seksi! Aish, bisa-bisanya otakku berpikiran yang tidak-tidak di saat seperti ini.

“Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah!” Seru Richard.

“Kenapa kau membawaku kesini?”

Richard mengubah posisinya menjadi berdiri lalu bersandar dengan tampan di samping bingkai jendela. “Kalau kau mau tahu, kesinilah!”

Akhirnya, mau tak mau aku memang menghampirinya. Kutatap ia tajam dan kedua tangan terlipat di dada, seharusnya dia tahu kalau aku sedang marah sekarang!

“Kau harusnya senang karena aku mengajakmu kesini. Kau tahu, aku bahkan belum pernah mengajak siapa pun sebelumnya.”

Aku tak tersanjung dengan ucapannya itu. Mana mungkin aku yang pertama? Dia pasti sudah berkali-kali mengajak Janette kesini. “Aku lebih senang kalau tak berada di sini.” Dan tentu tak harus melihat pesonamu yang menyilaukan! , lanjutku dalam hati.

“Begitukah? Kalau begitu kau bisa keluar nanti, tentunya setelah aku menjamumu.” Richard berjalan menuju kulkas yang ada di salah satu sudut kamarnya. Ck, dasar orang kaya, kamarnya saja sudah seperti rumah. “Kau mau minum apa?”

Aku akan meminum apa saja asal bisa menjernihkan pikiranku darinya. “Terserah!” jawabku singkat.

Richard nampak mengamati isi kulkasnya. “Kau mau apa?” tanyanya lagi.

“Kenapa kau harus repot-repot bertanya, bukankah kau sering bertindak sesukamu? Ambilkan aku apa saja!”

Richard kembali menghampiriku dengan dua kaleng softdrink di tangannya. Oh God, sebenarnya aku tak begitu suka minuman itu, tapi aku lebih tak suka jika harus berdebat hanya karena minuman.

“Jadi kau sudah siap balas jasa?” tanya  Richard sambil memberikan satu kaleng softdrink padaku. “Ini tak sesulit yang kau kira, jadi tenanglah,” lanjutnya.

Aku hanya melengos. Tak seperti yang kukira, katanya? Ah, yang benar saja, aku bahkan tak bisa mengira-ngira apa maunya. “Katakanlah!”

“Aku hanya ingin memastikan, apa kau tak menyukaiku?”  Nada bicara Richard berubah menjadi serius dan ia kini menatapku lekat-lekat. Astaga, kalau begini bagaimana aku bisa menjawab. “Debby!”

“Tentu saja tidak!” Jawabku secara refleks. Untuk kali ini aku patut berlega karena tak sampai mengucapkan hal yang bisa membuatku malu di hadapannya. “ Bukankah tadi aku sudah menjawab, kenapa kau mengulang-ulangnya? Apa kau berharap aku akan menyukaimu, huh?” Lanjutku dengan sedikit terang-engah karena sudah berbicara cukup panjang dengan nada tinggi. Demi Tuhan, aku sendiri tak tahu bagaimana perasaanku kepadanya, yang aku tahu dia terlalu mempesona-menyilaukan- dan aku ingin cepat-cepat pergi dari hadapannya.

“Apa yang tak kau sukai dariku?” Richard memperhatikan penampilan. Mungkin ia tak percaya ada gadis yang terang-terangan mengakui kalau tak menyukainya.

“Mana aku tahu! Yang jelas kau menyebalkan dan suka mengintimidasi orang dengan matamu yang...” Seketika kututup mulutku. Apa aku tadi salah bicara? Sepertinya iya. Debby... apa yang kau lakukan? Kau ingin mengatakan kalau ia punya mata tajam yang mengintimidasi sekaligus mengagumkan?

“Ada apa dengan mataku? Mempesona? Mengagumkan?”

Aku hanya bisa menggeleng tak percaya. Sepertinya orang paling menyebalkan adalah orang tampan yang menyadari kalau dirinya tampan. Aku jadi berpikir kalau Richard tak semenawan ini, akankah sifat overconfidence-nya hilang?

“Bukankah akan menyenangkan dan membanggakan kalau kau punya kekasih sepertiku?” Richard masih saja berceloteh tentang hal-hal yang merujuk pada pesonanya. Tapi, apa dia bilang tadi? Kekasih?

“Apa maksudmu dengan ‘kekasih’?

Okay... aku langsung ke intinya saja. Aku butuh kekasih yang tak menyukaiku. Seseorang yang dapat menghindarkanku dari perjodohan atau apapun itu yang akan menyulitkanku.” Jelas Richard.

Aku masih tak bersuara, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibirnya. “Maksudmu kekasih pura-pura?”

Richard mngernyitkan keningnya, terlihat tak setuju dengan yang baru saja aku lontarkan. “Aku tak tahu kau terlalu banyak menonton film atau membaca cerita. Kekasih yang kumaksud bukanlah kekasih di kisah-kisah yang sering kau ikuti. Aku butuh kekasih yang sesungguhnya.”

“Kekasih yang tak menyukai kekasihnya? Apa ada? Kau aneh!”

“Ini akan lebih baik daripada kau patah hati. Kau tahu, ketika kau jatuh hati , kau harus siap patah hati.”

Aku berdecak mendengar jawaban Richard. “Kau buruk sekali!”

“Lupakan soal itu.” Richard menghela napas panjang. Ia menengguk softdrink-nya, lalu kembali menatapku. “Aku akan jelaskan padamu semuanya, dan kuharap kau akan langsung mengerti.”

“Richard, my dearest..” Seorang wanita paruh baya menginterupsi pembicaraanku dengan Richard. Tanpa aba-aba wanita itu masuk kamar Richard dan memeluknya erat.

“Ma...” Richard membalas pelukan wanita itu –yang sekarang aku tahu kalau itu ibunya- .
Sepertinya Richard begitu dekat dengan ibunya. Ah, kenapa dia bertambah tampan karena begitu menyayangi sang ibu. Dan yah...bagaimana kalau laki-laki itu tahu kalau aku begitu mengaguminya? Akankah dia segera mendepakku dari mansion megah ini?

“Oh, siapa gadis cantik ini?” Mama Richard mengalihkan pandangannya padaku.

She’s my girl..” Richard melepas pelukan ibunya dan menggandeng tanganku mesra. “Namanya Debby.”

“Debby, saya Julia...” Tante Julia mengulurkan tangannya, yang dengan senang hati kubalas jabatan tangannya.  “Maaf sudah mengganggu acara kalian.”

“Kami tadi hanya mengobrol biasa, Tante,” Lagi-lagi aku  tersenyum canggung seperti waktu bertemu dengan Fred. Astaga... kenapa aku jadi gugup seperti ini? Tenang Debby.... tenang! Everything will be okay... Kau hanya perlu mengikuti permainan gila laki-laki itu!

“Ma, sudahlah... Debby sedikit pemalu, aku kasian melihat pipinya yang merona,” Richard menatapku mesra dan melingkarkan tangan kekarnya di pundakku.

“Baiklah kalau begitu, aku akan meninggalkan kalian. Have fun..” Tante Julia berlalu dari hadapan kami setelah mengedipkan mata, yang entah apa itu artinya.

***
Aku melipat kedua tanganku di depan Richard, benar-benar tak habis pikir, apa mau laki-laki ini sebenarnya? Aku belum mengatakan ‘deal’ dengan permintaanya, tapi dia sudah seenaknya mngakuiku sebagai pacaranya di depan pelayan dan Mamanya. Kuakui memang aku tertarik dengan otak, paras dan pesona yang ada di dirinya, tapi kalau harus menjadi kekasihnya... pasti akan menyenangkan jika aku bisa dengan bebas menyukainya.

“Kau tak ada pilihan lain, Deb... Semua orang telah tahu kalau kita berpacaran.” Ucapnya dengan santai.

“Kalau begitu, ayo kita buat semua orang tahu kalau ini hanya sandiwara!” Usulku.

Richard mengangkat sebelah alisnya, kemudian tertawa kecil meremehkan. “Kau pikir mereka akan percaya. Aku, Richarad Alfredo, laki-laki yang bisa mendapatkan wanita yang diingikannya tapi menjalin hubungan pura-pura dengan wanita biasa... Ckckck, urungkan saja niatmu itu! Lagipula, kita tak menjalin hubungan pura-pura, we’re real!” balasnya telak tanpa ingin dibantah.

“Kenapa kau begitu egois? Kau tak memikirkan perasaanku! Bagaimana kalau ternyata saat ini aku menyukai seseorang?” Nada bicaraku semakin meninggi, semakin terdengar frustasi pula di  telingaku.

“Kau menyukai seseorang? Apa orang itu Steve?” tanya Richard.

“Bukan, tapi bisa saja saat menjalin hubungan ini, aku menyukai seseorang. Bukankah kau yang mengatakan kalau kita tak boleh saling menyukai? Jadi aku bisa saja menyukai orang lain.”

“Aku melarangmu menyukai siapa pun!” Larang Richard dengan tegas.

“Kau tak berhak melarangku! Daripada kita menjalani hubungan aneh ini, bukankah lebih baik kalau kita seperti dulu? Kau denga hidupmu, aku dengan hidupku, dan kita...”

“Tidak!”

1 komentar :