Debby menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia menghela
napas kasar mengingat acara makan malamnya dengan Steve dan tamu tak diundang
–Richard- . Sebelumnya ia telah memprediksikan kalau acara makan malam akan
dipenuhi oleh nostalgianya dengan Steve, namun yang terjadi melenceng jauh.
Steve lebih sibuk dengan Richard, lelaki yang ia akui sebagai anak dari relasi
orang tuanya dan parahnya mereka cukup akrab. Debby hanya bisa diam sambil
menikmati makanannya karena dua laki-laki itu membicarakan bisnis orang tua
masing-masing yang tak ia ketahui.
“Kenapa mereka harus membicarakan hal seperti itu?
Apakah tak ada topik lain yang bisa mereka bicarakan? Oke... baiklah!
Sebenarnya topik apapun yang mereka bicarakan aku tak akan mengerti,” Debby
meracau sebagai bentuk kekesalannya.
“Debby..” Entah sejak kapan, Ibu telah ada di kamar
Debby dan kini tengah mendekati anak semata wayangnya. “Bagaimana acara makan
malammu dengan Steve? Kau pasti sangat senang karena kalian sudah lama tak
bertemu,” tebak Ibu.
Debby meringis mendengar penuturan Ibu, “Tak pernah
seperti ini sebelumnya, Bu.” Dengan kalimat tak jelas Debby menjawab pertanyaan
Ibu. Tentu saja Ibu akan mengira bahwa makan malam kali ini adalah yang paling
menyenangkan tapi kenyataan sebenarnya tidak! Tak pernah seperti ini
sebelumnya karena laki-laki tak tahu diri bernama Richard, gerutu Debby
dalam hati.
“Ibu dengar Steve akan sedikit lebih lama di sini,”
Debby mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap
Ibu, “Ya.. sepertinya ia akan menghabiskan masa liburannya di sini.”
“Dan kau tak akan kesepian lagi saat di rumah.”
Tambah Ibu. Perkataan Ibu benar, setelah pulang dari kampus Debby lebih sering
menghabiskan waktunya di depan layar laptop untuk menjelajahi dunia maya atau
membaca artikel-artikel yang menurutnya menarik, hanya sesekali ia keluar
bersama Chika.
“Andai Steve bisa di sini selamanya, pasti akan
sangat menyenangkan.” Gumam Debby.
“Kau menginginkan itu, dear?”
“Aku mengerti keadaannya sekarang, Bu..”
***
Debby keluar kamarnya dengan tergesa, ia kesiangan.
Kakinya melangkah menuju dapur untuk mencari pengganjal perut. Saat mendapati
roti tawar di meja, ia mengulas senyum lega sebelum akhirnya menyambar dengan
penuh minat.
“Terima kasih untuk makanan pagi ini, Tuhan,” ucap
Debby lalu melahap sarapannya sambil berjalan keluar rumah.
Langkah Debby terhenti saat ia melihat Steve berdiri
dengan tampan di depan mobil sedan miliknya. Ah laki-laki itu, sepertinya ia
tahu benar bagaimana membuat dirinya mempesona di depan orang lain.
“Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi?” Tanya
Debby setelah menelan potongan roti terakhirnya.
“Aku ingin mengantarkanmu ke kampus.” Jawab Steve
dengan santainya.
Mata Debby langsung berbinar senang. Di saat seperti
ini, ia memang membutuhkan seseorang yang mau mengantarkannya. Oh Tuhan memang
benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan umat-Nya.“Kau memang sahabatku!”
Tanpa berbasa-basi Debby memasuki mobil Steve dan duduk di kursi penumpang.
“Baiklah, tunjukkan jalan menuju kampusmu!” Titah
Steve saat sudah siap di balik kemudi.
***
Betapa beruntungnya Debby karena diantar oleh Steve.
Bayangkan kalau ia tadi telat sedikit saja, ia tak akan bisa berada di kelas
saat ini. Dosen yang mengajarnya kali ini adalah seorang yang sangat menjunjung
tinggi kedisplinan dan tidak mentolerir keterlambatan satu menit pun.
“Kau tahu berita yang sedang heboh saat ini?” Cika
yang duduk di sebelah Debby tiba-tiba berbisik –secara tak langsung menawarkan
bahan untuk digosipkan-
“Bisakah kita membicarakan ini nanti? Aku tak ingin
didepak dari dalam kelas kalau ketahuan mengobrol,” ucap Debby dengan berbisik
juga. Demi Tuhan, sekarang yang sedang berbicara di depan adalah dosen killer
dan Cika bisa-bisanya mengajak mengobrol.
“Jannet dicampakan oleh Richard.” Tanpa mempedulikan
peringatan Debby, Cika tetap melanjutkan topik yang sedari tadi ingin
diangkatnya.
“Kita bicarakan ini nanti!” Putus Debby. Sialan
Cika! Debby kini menjadi penasaran dan sahabatnya itu berhasil
memancingnya. Ia sekarang berharap jam kuliah cepat selesai dan mendengar
celotehan Cika mengenai Richard-Jannet, perfect couple yang selalu
dielu-lukan.
***
Sepertinya Debby harus sedikit bersabar. Harapannya
untuk mendengar cerita Cika tertunda karena sahabatnya yang merupakan salah
satu pengurus BEM harus mengikuti rapat sehubungan dengan event yang akan
diadakan kampus mereka.
Debby masih
menyimpan sisa-sisa kekesalannya saat Cika pamit untuk rapat, padahal
telinganya sudah sangat siap untuk mendengar setiap detail cerita mengenai
Richard-Jannet. Kenapa, kenapa, kenapa? Kenapa ia harus seantusias itu? Tentu saja
karena ia menyukai Richard!
Sepeninggal Cika, Debby berniat untuk pergi ke
kantin namun ketika melihat betapa ramainya suasana di sana, niat itu langsung
diurungkan. Ia memutar langkahnya menuju kamar mandi untuk membasuh muka agar
terlihat kembali segar.
“Hah... benar-benar sulit dipercaya, aku begitu
penasaran dengan cerita selengkapnya,” gumam Debby.
“Penasaran tentangku?” Tanya seseorang di belakang
Debby.
“Kau.. Itu bukan urusanmu!” Balas Debby lalu
merapikan kembali riasan wajahnya. “Dan kau... kau tak seharusnya berada di
sini!” Sepertinya the perfect guy sudah bertransformasi menjadi the
crazy guy. Laki-laki itu –Richard- bagaimana bisa memasuki toilet wanita?
Apakah dia tak bisa membaca? Khonyol! Mana mungkin seorang jenius tak bisa
membaca tulisan sesederhana ‘toilet wanita’ , kecuali kalau orang itu berotak
mesum dan nekat masuk.
“Beberapa warga di kampus ini sangat ingin tahu
mengenaiku, kupikir kau juga salah satunya.”
“Kau terlalu percaya diri, Richard!” Debby hendak
melangkah keluar tapi tangan Richard menahannya dan menyeret –membawa masuk ke
salah satu toilet-
Debby menatap tajam Richard, jelas menyiratkan bahwa
ia ingin memprotes kelakuan laki-laki itu yang suka seenaknya. Baru saja
membuka mulut ingin mengeluarkan berbagai makian, lagi-lagi Richard menutup
mulutnya dengan tangan.
“Kau dengar itu? Di luar ada beberapa orang dan kau
tinggal mengucapkan satu kata dengan keras lalu keesokan harinya kita akan
terlibat skandal,” ucap Richard dengan tenang, lalu melepaskan bekapan
tangannya dari mulut Debby.
“Untuk apa kau masuk ke toilet wanita? Jangan-jangan
dugaanku benar kalau kau itu mesum!” Tuduh Debby dengan suara berbisik.
“Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang balas budi.”
Sahut Richard dan lagi-lagi dengan tenang. Apakah ia tak menyadari kalau gadis
di depannya sedang memandang dengan tatapan membunuh?
“Itu hanya alasanmu! Kau bisa mengucapkannya di
tempat lain dan kau bisa mengucapkannya melalui telepon!” Debby memalingkan
pandangannya dari muka Richard namun sial! Matanya kini terpaku pada dada
bidang laki-laki itu, membuatnya harus menahan tangannya sendiri agar tak
bersarang di sana.
“Apakah kau selalu menatap orang seperti itu?
Menatap seolah ingin memakan bulat-bulat?”Sindir Richard.
“Apa kau selalu seperti ini? Kadar kepercayaan diri
yang berlebihan selalu menyelimutimu?” Balas Debby dengan sengit. Astaga,
Richard suka sekali membuat dirinya berada di posisi memalukan.
Richard menyunginggkan senyum miringnya. Ia
melepaskan pandangan dari Debby dan kini tengah bersandar dengan tampannya di
dinding. Tak sengaja ia melihat ekspresi Debby, gadis itu nampak bosan
dan...tersiksa? Aneh, kalau gadis lain mungkin akan menikmati saat seperti ini
tapi Debby lain. Apakah ia telah salah mengira kalau gadis itu menyukainya? Ah,
itu bisa jadi! Steve, mungkinkah laki-laki itu yang disukai Debby?
“Apakah kau penasaran tentang permintaanku sebagai
balas jasamu?” Tanya Richard tiba-tiba.
Debby sontak menatap Richard kembali. Benar sekali,
ia sangat penasaran. Laki-laki di depannya sangat susah ditebak dan ia tak bisa
menduga-duga apa yang diinginkan Richard. “Apakah kau akan memberitahuku
sekarang?”
“Kalaupun aku memberitahukannya sekarang, kita tak
bisa menjalankan sebelum ‘masamu’ selesai,” Richard melipat kedua tangannya di
depan dada dan membalas tatapan Debby. “Tapi..berada di sini dengan keadaan
seperti ini membuatku ingin melakukannya sekarang.”
“Kau.. Kau jangan macam-macam!” Peringat Debby. Ia
mengacungkan telunjuknya tepat di depan muka Richard dengan berani meskipun
hatinya sedikit gemetar untuk melawan laki-laki itu.
Richard melirik telunjuk Debby, tak bermaksud untuk
menyingkirkannya namun ia juga tak menganggapnya. “Apa kau menyukaiku?”
Debby menurunkan tangannya dengan kesal, ia berdecak.
“Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu? Walaupun kau sering ditatap dengan
pandangan menggila, tak berarti setiap gadis akan menyukaimu!”
“Baguslah, aku melarangmu untuk menyukaiku!” Entah
apa maksud Richard mengatakan itu. Laku-laki itu seperti tak berniat untuk
membahasnya lebih lagi. “Aku pergi.”
Setelah beberapa saat, Debby baru menyadari bahwa
Richard sudah tak ada di hadapannya. Ia membuka pintu toilet dan mendapati
dirinya sendirian di sana, pantas saja laki-laki itu berani keluar. Debby
kembali menutup pintu –masih berada di dalam kamar mandi- , ia memegangi
dadanya yang berdetak.
“Kau tak boleh menyukainya!” Titah Debby pada
dirinya sendiri. “Laki-laki itu bisa saja membunuhmu kalau tahu kau menyukainya.”
***
Baru saja melangkah keluar toilet, Debby harus
kembali kecewa karena keinginannya untuk bernapas lega tertunda. Richard –laki
laki seksi itu- telah menunggunya di luar. Oh Tuhan, tak bisakah ia terlepas
dari godaan seperti ini paling tidak
sampai tiga hari ke depan –saat dimana Debby dipaksa balas budi- ?
“Ada apa lagi?” Tanya Debby yang kini tak menahan
lagi kekesalannya.
“Kita belum selesai bicara.”
“Aku tak bisa sekarang, bisakah kita bicara lain
waktu?” Tawar Debby. Please, lain waktu.. Aku tak bisa menahan tanganku untuk tak menyentuh
otot-ototmu.
“Tidak bisa. Harus sekarang! Kutunggu kau di tempat
kau pingsan tempo hari.” Paksa Richard. Ah paksaan, sepertinya ia dilahirkan
untuk menjadi seseorang yang arogan dan seenaknya. Lihat saja, kaki jenjangnya
sudah melangkah jauh. Sangat kentara kalau ia tak ingin mendengar penolakan.
Debby tak segera beranjak sejak kepergian Richard.
Ia kini malah memikirkan apa jadinya jika ia tak memenuhi permintaan laki-laki
itu. Tapi... ah tidak tidak, ia cukup tahu diri saat sang penolong menuntut
balas jasa darinya walaupun ia sendiri tak yakin akan melakukannya dengan
ikhlas.
***
Richard menatap ke kursi penumpang saat mendengar
pintu mobil di buka. Tepat dugaanya, Debby datang dan tentu saja dengan wajah
masam.
“Jadi apa yang ingin kau katakan?” Tanya Debby
langsung, sangat terlihat bahwa ia tak ingin berlama-lama dengan Richard.
“Bisakah kita berbicara dengan sedikit santai?”
“Kupikir kau anak ekonomi yang disiplin, yang tak
ingin mengulur-ulur waktu untuk hal semacam ini.” Sindir Debby.
“Okay, bussiness is bussiness. Aku ingin
mengajakmu ke suatu tempat!” Nada bicara Richard sudah terdengar kembali serius
dan...memaksa!
“Apa ini permintaanmu sebenarnya?” Katakan ya,
katakan ya supaya aku bisa cepat terlepas dari pesonamu!
“Ya..Tidak!”
“Apa maksudmu sebenarnya?” Debby nyaris berteriak. Dan
kalau saja ia tak mengingat betapa tampannya laki-laki itu dan tanpa permisi
telah membuat matanya terpaku beberapa kali, ia akan dengan senang hati mencakar
muka di depannya kini.
“Ini sebagian dari permintaanku, belum sepenuhnya.”
Ya Tuhan, laki-laki itu masih saja mempertahankan ekspresi tenangnya. Tidak tahukan
ia bahwa gadis yang kini bersamanya nyaris ‘meledak’?
Debby mengatur napasnya, mencoba meredam emosi. “Kau
punya berapa permintaan? Kau tak bermaksud memanfaatkan keadaan ‘kan?”
“Apa aku terlihat seperti itu?”
Sangat terlihat tampan!
Debby menggelengkan kepalanya. Oh God, siapa yang
tak ciut ketika ditusuk dengan tatapannya tajam? Dasar laki-laki tampan arogan!
“Aku hanya mengingatkanmu untuk tak memanfaatkanku!” Ucap Debby dengan suara
sedikit bergetar.
“Jadi kau mau menurutiku?”
Debby menghela napas pasrah, “Apa aku punya pilihan
lain?”
“Tentu saja tidak!”

Ini udah berapa bulan ga di lanjut? Oh God .. -_- ayo dong ka Fe, lanjut .. Pehlis :D
BalasHapusudah dek :)
BalasHapus