“Baiklah, terserah kau
saja! Aku tak peduli, intinya kau tak akan menyukaiku, bukan?” Ucap Richard
akhirnya. Ahh, baguslah kalau dia tak mengungkitnya lagi, aku tak siap jika
harus memujinya kemudian dia dengan kepalanya yang tampan akan mencemoohku.
“Apa urusan kita sudah
selesai? Aku ingin pulang.”
Richard mengernyitkan
keningnya, nampak seperti tak suka dengan ucapanku. “Kenapa harus buru-buru?
Kita bahkan belum membicarakan soal peraturan tentang perjanjian kita ini.”
